Akhirnya, KPU Sulawesi Selatan Memiliki IKLAN PEMILU RAMAH DIFABEL

Akhirnya, KPU Sulawesi Selatan Memiliki IKLAN PEMILU RAMAH DIFABEL

DALAM TALKSHOW BERSAMA KPU di salah satu saluran TV swasta pada Rabu, 24-01-2018, direktur eksekutif Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Abd. Rahman yang lebih dikenal dengan nama Gusdur, menyarankan kepada KPU Sulawesi Selatan agar membuat sebuah iklan layanan masyarakat yang dapat diakses semua warga Sulawesi Selatan termasuk difabel.

Bagi Gusdur, hal tersebut teramat penting agar difabel juga bisa mengakses informasi mengenai tahapan menjelang pemilukada serentak pada 27 Juni 2018. Apalagi, pada pesta demokrasi sebelumnya, iklan yang pernah dibuat KPU kebanyakan belum memperhatikan perihal ke-akses-an informasi bagi difabel. Gusdur mencontohkan, acapkali KPU membuat sebuah iklan yang hanya berupa teks, yang tentunya tidak dapat diakses oleh seorang buta, atau berupa suara yang tanpa disertai teks yang menyulitkan pirsawan Tuli.

Gagasan tersebut ternyata mendapat respon baik dari KPU Sul-Sel. Pada minggu (28-01), Gusdur, Yayat (pengurus PerDIK) dan Chiki (juru bahasa isyarat), diundang langsung ke kantor KPU yang beralamat di jalan AP Petttarani dan dilibatkan dalam pembuatan iklan tersebut.
Unduh video di sini

Hingga pada senin malam, 29-01, Mardiana Rusli (salah seorang anggota komisioner KPU Sul-Sel) mengirimkan dua sampel video iklan yang telah mereka buat. Video yang berdurasi 1 menit dan 45 detik tersebut memuat beberapa informasi tahapan menjelang pemilukada serentak 2018 seperti proses pemutakhiran data pemilih serta  beberapa hal yang harus disiapkan masyarakat dalam melancarkan pemutakhiran data tersebut (KTP dan KK).

Dalam penyajian informasi lewat video tersebut, Mardiana Rusli bertindak sebagai narator, kemudian di bagian sudut kanan bawah layar, tampak Chiki dengan pakaian serba hitam menerjemahkan kalimat-kalimat informasi yang disampaikan narator ke dalam bahasa isyarat Bisindo sehingga dapat diakses oleh Tuli.

Andi Kasri Undru (seorang mahasiswa Tuli) berpendapat bahwa Iklan tersebut sudah bagus, karena sudah dapat diakses oleh Tuli. Namun, yang harus menjadi perhatian bukan saja bagi KPU, tetapi semua aktivis difabel adalah bagaimana dengan Tuli yang di luar organisasi GERKATIN atau mereka yang berada di daerah. Menurut Akas (begitu ia biasa dipanggil), ada banyak Tuli yang tidak paham dengan isyarat yang ditampilkan dalam iklan tersebut. Akas menyarankan, mungkin akan jauh lebih baik jika video ini dilengkapi dengan subtitle (teks suara narator) dan closed captioning (teks non-narator).

Mardiana Rusli yang dihubungi via whatsapp mengatakan bahwa  KPU memiliki komitmen dalam menciptakan proses pemilukada yang ramah bagi semua, karena itulah, KPU akan berkordinasi dengan organisasi difabel untuk mengupayakan pelaksanaan Pemilukada seakses mungkin[].

@Nur Syarif Ramadhan

 

Please follow and like us: