Saran Dari Ubud Untuk Seorang Penulis Buta

PERTAMA KALI SAYA MENDENGAR event Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) kira-kira 2014. Saat itu, saya memiliki sejumlah teman penulis yang mengeposkan (posting) di akun media sosialnya masing-masing perihal keikutsertaan mereka di kegiatan tahunan tersebut. Sebagai seorang yang suka menulis dan membaca buku-buku sastra, saya pun mengimpikan, kelak saya akan mengikuti event tersebut.

Pada 2017, hampir sebagian do’a saya terkabul. Setelah pada Mei 2017 lalu, saya mengikuti Festival Penulis Internasional Makassar (MIWF, Makassar Internasional Writers Festival) selama seminggu, 4 bulan kemudian, saya berangkat ke Bali. Saya menjadi salah seorang penerima beasiswa dari Pemerintah Australia untuk mengikuti kursus IELTS selama tiga bulan: September – Desember 2017.  Kursus ini merupakan bagian dari persiapan melamar Beasiswa Australia Award Scholarship 2018 yang disebut ELTA atau English Language Training Assistance.[1] Selama mengikuti kursus ini, saya menetap di kota Denpasar. Beruntung, saat Festival Ubud ini berlangsung, saya juga sedang berada di Bali. Sayapun berupaya mencari informasi terkait festival ini dan berniat mengikutinya.

Sayangnya, guna memperoleh informasi memadai, website UWRF tak begitu akses bagi pengguna screen reader seperti saya—low vision. Aplikasi JAWS—sebagai pembaca teks pada layar—kesulitan mengidentifikasi sejumlah informasi berupa gambar, grafik, tabel, dan informasi non-teks lainnya. Selain itu, panitia festival juga mematok harga tiket yang tinggi. Belum lagi bagaimana cara saya bisa pergi ke Ubud, saya sama sekali belum punya informasi.

*

WhatsApp Image 2017-12-27 at 17.36.52

DI DENPASAR, SAYA TINGGAL DI RUMAH KOS sederhana yang tak begitu jauh dari IALF. Tepatnya di Gang Pakuk Sari II, kira-kira 250 meter dari IALF, 45 menit dari bandara Ngurah Rai menggunakan mobil. Di jalur pedestrian sekitar IALF, tersedia guiding block untuk Difabel Netra. Sayangnya, banyak orang tidak mengetahui fungsi ‘ubin berwarna kuning dan bergelombang’ itu. Saya menemukan sejumlah motor parkir di trotoar tersebut dan juga sesajen yang membuat saya berpikir melewatinya.

Selama mengikuti program, ada empat pelatih (Master Trainers) membina kami. Semuanya ahli dalam hal pengajaran Bahasa Inggris. Mereka adalah Miss Eri (Aceh), Miss Iva (Kupang), Miss Nurul (Papua), dan Miss Komang (Bali). Adapun koordinator Program ELTA seluruh Indonesia adalah Ibu Agung Sudiani. Mereka inilah yang membantu kami meningkatkan kemampuan dalam berbahasa inggris, meliputi keterampilan dasar Listening, Speaking, Reading dan Writing. Khusus untuk Ibu Ani, dialah yang menyeleksi 1583 peserta tadi, menyaringnya menjadi 132. Dia pulalah yang dulu mewawancarai saya pada tahap wawancara sewaktu seleksi. Bukan hanya itu, ia juga menyediakan materi pembelajaran yang memudahkan saya dan difabel netra lain mengakses materi yang diajarkan di kelas. Terakhir, Ibu Ani pulalah yang kemudian memfasilitasi saya bisa mengikuti Festival Pembaca dan Penulis Ubud tahun ini, 2017.

Sore itu, sebagai ketua kelas, saya sedang berada di ruangan kantor para Trainers, Saya akan mengambil materi pembelajaran yang akan dibahas pada pembelajaran berikutnya. Saat itulah, bu Ani menawarkan tiket UWRF kepada saya. Ada beberapa item kegiatan dan saya harus memilih saat itu. Miss Nurul membantu kami menelusuri informasi di website UWRF. Dia membacakan semua daftar kegiatan yang tersaji. Saya jelas tidak bisa mengikuti keseluruhan momen festival ini. Saya harus mengikuti kelas kursus dari Senin sampai Jumat. Usai menimbang, kami memutuskan akan mengikuti Workshop tentang ‘how to build a character in fiction writer’, 28 Oktober 2017. Saat kami hendak memesan tiket, rupanya soldout. Tiket telah ludes. Tapi Bu Ani punya cara lain memeroleh tiket buat kami. Entah bagaimana caranya, kelima tiket tersebut berhasil dibelinya entah di mana.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 17.31.57

Setelah mengikuti Mock IELTS Test 1 yang hasilnya tidak baik-baik saja, kami (saya, Miss Nurul, Miss Iva, Miss Eri dan tentu saja Ibu Ani)  pun menuju Ubud. Hari itu, kami meninggalkan IALF kira-kira setengah sebelas siang menggunakan mobil Rental dengan Ibu Ani duduk di kursi pengemudi. Pukul 12 siang, kami tiba di Ubud. Setelah menemukan lokasi parkir yang pas, kami kemudian bersantap siang di salah satu restoran terdekat. Sejam kemudian, kami beranjak mencari lokasi workshop sebagaimana tertera pada tiket.

Ubud siang itu cerah dengan suhu udara yang panas. Dalam pencarian menuju Taksu (lokasi workshop), kami melewati deretan restoran yang menyediakan aneka menu makanan lokal maupun internasional, dan puluhan toko menjajakan mulai dari pakaian, ukiran, dan sejumlah hal menarik lainnya.

Saat itu, saya merasa seperti berada di jalan Somba Opu Makassar yang berjejer toko-toko beraneka rupa. Sedangkan kelima pemandu saya menggambarkan suasana itu seperti di Melbourne. Hampir tiap langkah kami berpapasan dengan turis internasional, dengan beragam bahasa dan aksen berbeda. Sayangnya, lagi-lagi Ubud tak begitu ramah bagi difabel seperti saya. Tak usah membayangkan guiding block. Area yang kami lewati siang itu terlalu dipadati restoran dan toko serta puluhan kendaraan terparkir di tepi jalan yang sebenarnya bisa diakses pejalan kaki. Area pejalan kaki sangat kecil, kira-kira lebarnya hanya 50 sentimeter, sehingga tidak memungkinkan pejalan berjalan bersisian. Belum lagi jika kita berpapasan dengan seseorang, harus ada yang mengalah agar tidak menimbulkan kemacetan pejalan kaki. Kondisi jalanya pun tidak rata, sangat tidak aksesibel bagi pengguna kursi roda. Saya pun harus berpegangan pada ransel Miss Eri, agar tidak terjerembab.

Setiba di Taksu, keempat kawan saya memuji indahnya pemandangan yang tersaji sebelum memasuki ruang workshop. Tapi, lagi-lagi, menurutku, area jalan memasuki gedung sama sekali penuh rintangan. Saya membayangkan pengunjung yang menggunakan kursi roda akan kesulitan bergerak dalam ruangan ini. Jika penyelenggara tidak menyediakan akomodasi yang layak dan sejumlah alat bantu mobilitas, maka panitia setidaknya harus menyediakan sejumlah volunteer guna mengakomodasi kepetingan pengunjung difabel.

Kami memasuki sebuah ruangan persegi panjang. Di dalamnya telah tertata meja dan kursi membentuk huruf U. Sekitar dua langkah dari pintu masuk, kami berbincang dengan seorang wanita parubaya beraksen British, yang meminta kami menunjukkan tiket. Ibu Ani dan Miss Nurul memperlihatkan tiket sekaligus menjelaskan pada wanita tersebut bahwa saya seorang difabel netra (visual Impairment). Wanita tersebut berbincang sejenak dengan saya, dan menyilakan saya memilih tempat duduk yang pas.

Setelah duduk, kembali seorang wanita yang kira-kira berusia di atas 50, menghampiri dan menyalami kami. ia memperkenalkan nama. Ia mengaku berrnama Shelley Kenigsberg, ia seorang Afrika tapi tidak berkulit hitam. Sampai di sini, saya masih bisa memahami kalimat-kalimat yang dikatakan Shelley. Pilihan katanya masih mudah bagi seorang pelajar bahasa Inggris pemula seperti saya.

WhatsApp Image 2017-12-27 at 17.32.52

Dari tulisan singkat yang saya baca di website UWRF 2017, ada dua paragraf singkat yang menjelaskan tentang Shelley dalam bahasa Inggris dan Indonesia:

Shelley is a Sydney-based freelance writer and editor fortunate enough to run writing and editing retreats in paradisiacal places. The retreats provide deep support to begin, develop and complete manuscripts of all genres. Shelley mentors privately, through Australian Society of Authors, Byron Writers Festival and monthly writing salons, and teaches at Academy of Literary Arts & Publishing and writers festivals.          Shelley adalah Penulis paruh waktu asal Australia dan seorang Editor yang cukup beruntung dapat mengelola kelas menulis dan mengedit di lokasi-lokasi yang menyerupai surga. Kelas tersebut memberikan dukungan mendalam untuk memulai, mengembangkan, dan melengkapi manuskrip semua jenis tulisan. Shelley memberikan bimbingan privat untuk Australian Society of Authors, Byron Writers Festival dan perkumpulan menulis bulanan, dan mengajar di Academy of Literary Arts & Publishing dan festival penulis.

***

Selanjutnya, saat Shelley mulai menyampaikan materinya, Miss Nurul dan Miss Eri secara bergantian menjelaskan makna dari kalimat-kalimat penjelasan Shelley. Masih sedikit kalimat yang saya pahami dari penyampaian materi Shelley. Apa lagi Ia menjelaskan soal kesusastraan yang bukan menjadi latar pendidikan saya.

“Beginilah suasana perkuliahan di Australia, Syarif,” bisik Miss Nurul. “Kamu beruntung bisa mengikuti acara seperti ini,” ujarnya lagi. Saya masih mendapati diri saya kesulitan memahami keseluruhan pembahasan.

Satu persatu peserta workshop memperkenalkan namanya, dan mendeskripsikan secara singkat karya yang sementara mereka tulis. Dari situlah kemudian saya bisa mengetahui jika hampir 80% peserta workshop merupakan para penulis profesional yang telah menggeluti pekerjaannya sebagai penulis kurang lebih beberapa tahun. Di hadapan dan di samping saya ada travel blogger dari Australia, cerpenis dan novelis dari beberapa negara di Asia Tenggara, serta beberapa Essays yang juga ketika berbicara tak menggambarkan kalau mereka orang Indonesia. Mungkin hanya kami berempat yang dari Indonesia, dan satu peserta lagi yang memperkenalkan dirinya  bernama Gusti, seseorang yang baru tertarik pada dunia kepenulisan. Menurut ceritanya, ia berasal dari Pontianak, sengaja datang ke Bali hanya untuk mengikuti UWRF ini.

Di sela-sela workshop, Miss Nurul mengajak saya menemui Shelley. Ia ingin saya mendiskusikan permasalahan utama yang saya hadapi saat menulis cerita. Saya mengiyakan ajakan Nurul. Sekalian saja mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggris yang saya miliki dengan Shelley.

Saya bercerita kepada Shelley tentang novel yang saat ini sedang saya tulis. Shelley dengan penuh perhatian menyimak cerita saya yang terbata-bata. Pun demikian saat saya menyampaikan sejumlah kelemahan saya menuliskan detail peristiwa mengingat kemampuan penglihatan saya yang rendah. Bagaimana saya memaparkan objek dalam tulisan saya dengan baik? Kira-kira begitu pertanyaan saya kepadanya. Saya ingin tulisan-tulisan saya mampu menggambarkan detail suasana sebaik para novelis ternama melakukannya.

Menanggapi pertanyaan saya, Shelley mengatakan beberapa hal.

“Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan tulisanmu. Kamu merasa tulisanmu jelek karena buku-buku yang kamu baca merupakan hasil karya penulis-penulis yang telah berpengalaman, di mana kamu berusaha mengikuti gaya menulis mereka,” ungkapnya membeberkan cara pandangnya.

Ia lalu menyarankan sejumlah tips.

“Saran saya, cobalah menulis dengan gayamu sendiri dan tak perlu galau dengan jelek bagusnya sebuah tulisan. Selesaikan saja dulu, nanti ketika tulisan itu selesai, coba baca ulang, dan perbaiki yang keliru,” paparnya ramah.

“Soal mendeskripsikan sebuah objek, cobalah membaca tulisan penulis lain, pelajari gaya mereka dalam menggambarkan sebuah objek, lalu tulis ulang dengan gaya tulisanmu sendiri. Saran lain, cobalah membaca novel-novel atau tulisan hasil karya seorang visual impairment sepertimu, kamu bisa belajar dari cara mereka menulis,” ujarnya penuh semangat.

“Yang paling penting, Syarif, meskipun kamu tidak bisa melihat, kamu masih memiliki indera lain, yang dapat membantumu dalam mendeskripsikan sebuah objek,” Shelley memaparkan pandangan alternatifnya yang tidak serupa pandangan orang pada umumnya.

“Misalnya begini, kamu bisa menjelaskan sebuah benda dengan menceritakan bagaimana kamu merabanya, apa yang kamu rasakan saat kulitmu menyentuh benda tersebut. Atau dengan indera lainnya, misalnya mendengar suara. Kamu bisa memaparkan penjelasan bagaimana sebuah pintu tertutup bukan pada deskripsi pintinya, tetapi dari suara gesekannya serta suara-suara lain yang menarik diceritakan, tetapi luput ditulis,” pandangan Shelley menyemangati pikiranku. Ini benar-benar nasihat yang berharga untuk saya.

Di akhir diskusi kami, Shelley bersedia membaca dan mengoreksi tulisan saya, namun, ia masih belum bisa berbahasa Indonesia, dan semua tulisanku juga dalam bahasa indonesia. tapi ia berharap, kelak saat kami berjumpa lagi, kemampuan bahasa inggrisku dan bahasa indonesianya sudah lebih baik, sehingga bahasa bukan lagi penghalang baginya dalam membaca tulisanku.

Saat meninggalkan lokasi workshop, saya berjalan bersisian dengan penulis muda asal Korea Selatan. Kami pun sempat berbincang sejenak, ia mengaku tertarik menulis isu difabel, utamanya yang ia temui di negara-negara berkembang di Asia Tenggara. Sebuah obrolan yang singkat namun berkesan[]

****

[1] Tahun ini, ada kurang lebih 1583 peserta yang melamar program ELTA, akan tetapi, yang terpilih mengikuti program hanya sebanyak 132 peserta. dari 132 peserta tersebut, ada 7 orang difabel (termasuk saya) yang beruntung lulus mengikuti program. Dari 7 orang difabel tersebut, 3 difabel netra mengikuti training di Denpasar, 3 orang difabel Daksa di Mataram, dan seorang difabel Lowvision mengikuti training di Kupang.

Penulis:

Nur Syarif Ramadhan

(Aktivis dan Penulis Difabel–aktif PerDIK SulSel)

Please follow and like us: