Hari Difabel 2017: Dari Pendakian Gunung ke Dialog Reflektif

24959102_10215392364146620_6069477020779280028_o

Suasana Upacara Perayaan Hari Difabel Internasional di Puncak Gunung Sesean (2100 mdpl), 3 Desember 2017. (Dokumen PerDIK)

Tahun lalu, 2016, saat hendak merayakan Hari Difabel Internasional, PerDIK menggagas sebuah ekspedisi pendakian Gunung tertinggi di pulau Sulawesi, Gunung Latimojong. Saat itu, peminatnya hanya 3 difabel, yang kemudian kami sebut sebagai atlet difabel untuk Ekspedisi. Tahun ini, 2017, PerDIK kembali merayakan hari difabel dengan pendakian bersama di Gunung Sesean dan dengan jumlah atlet difabel mencapai 10 pendaki dan tim pendukung yang juga jauh lebih besar.

Keinginan kali kedua kami mendaki gunung bersama difabel ini bukan ingin membuktikan bahwa difabel juga mampu mendaki. Tapi kami ingin menunjukkan bahwa mendaki bersama-sama dan bahu membahu tanpa sekat perbedaan [berdasarkan perbedaan kondisi] tubuh adalah hal yang mungkin dilakukan dan sudah seharusnya menjadi kekuatan kita atau modal sosial untuk bersama-sama mengatasi upaya pelabelan negatif, stereotif, pemisahan, dan diskriminasi berbasis perbedaan tubuh.

Dengan motto Leave No One Behind atau Jangan Seorangpun Tertinggal kami maju bersama dan menuntaskan pendakian berharga ini.

 

Pendakian puncak Sesean (2100 mdpl) tahun ini tergolong singkat dan medan yang ringan dibandingkan dengan pendakian menuju puncak Rante Mario (3478 mdpl) tahun lalu selama 5 hari. Dalam rangkaian pendakian bersama ini, malam kedua kami sudah kembali ke Enrekang dan bermalam di Dante Pine, sebuah wahana outdoor yang menyenangkan.

 

Esoknya, Bupati Enrekang H. Muslimin Bando menerima kami di pendoponya dan menjanjikan beberapa rencana untuk membantu pemberdayaan ekonoi difabel di kabupaten ini. Juga menjanjikan di tahun 2018 nanti, Enrekang sudah harus mengesahkan Perda baru tentang perlindungan dan pemenuhan hak-hak difabel. Sore dan malam, kami juga bertemu dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, ibu Hajjah Sawaliah. Sejak tahun lalu, ibu Kadis yang saat itu masih menjabat sebagai kadis sosial mencurahkan perhatian besar kepada tim kami. termasuk menjelang kepulangan sebagian kami ke Makassar.

 

Esoknya, di Makassar, giliran Kapolda Sulawesi Selatan yang baru, Irjen Umar Septono mengundang kami untuk menerima penghargaan kepada 10 atlet kami dan sejumlah uang sebesar Rp. 1.000.000,- peratletnya. Kapolda baru ini merasa senang bisa bertemu dan berdiskusi dengan tim PerDIK dan berjanji akan mengupayakan adanya perlakuan bermartabat dan perlindungan bagi difabel saat berhadapan dengan hukum.

Kesepuluh atlet di atas adalah:
Tim Makassar 1. Abd rahman, SPd (Direktur PerDIK) Difabel netra. 2. Arifin Amir, SPd, SS (Difabel Netra). 3. Eko Peruge (Difabel kinetik, luwu timur). Tim Enrekang 4. Adil Rani (difabel netra), 5. Jasri (Difabel intelektual), 6. Agussalim (difabel kinetik), 7. Syawal (difabel kinetik), 8. Ariandi (difabel kinetik), 9. Faluphy Mahmud (difabel kinetik), 10. Sukirman (difabel kinetik).

Dalam rangkaian memperingati Hari Difabel ini, kami masih ada satu agenda, yakni dialog akhir tahun 2017, yakni pada 20 Desember 2017.

Tema dialog ini adalah:

SUDAHKAH PERANGKAT HUKUM REPUBLIK INI BERLAKU ADIL KEPADA DIFABEL?”

Tujuan dialog reflektif ini adalah [1] memberikan pemahaman bersama terkait isu difabel berhadapan dengan hukum dari berbagai institusi terkait: Difabel, Organisasi difabel, LBH, pihak kepolisian, kejaksaan, pengadilan, pemerintah dengan SKPD terkait, maupun lembaga-lembaga negara baik setingkat kementrian maupun komisi-komisi nasional. [2] Menyiapkan langkah-langkah strategis yang dapat ditempuh bersama untuk memperbaiki kualitas layanan hukum bagi difabel, dan [3] Membangun kerjasama antar pemangku kepentingan yang mengurusi difabel berhadapan dengan hukum yang berguna bagi pencapaian kualitas layanan hukum bagi difabel.

ekspedisi-difabel-ii-2-e.jpg

tim pendukung

Kami berharap Menteri Hukum dan HAM bisa menghadiri dialog ini dan menjadi pemantik dialog dengan memberikan pengantar dialog terkait kondisi penegakan hukum dan HAM bagi difabel di Indonesia. Kemudian kami akan mengatur dialog ini ke dalam dua sesi,

Dialog sesi Pertama:

1. Kapolda Sulawesi Selatan.

Tema: Pelayanan Hukum Bagi Difabel: Peran Kepolisian membangun Layanan Akses dan Bermartabat bagi Difabel.

2. Ketua HWDI Sulawesi Selatan

Tema: Bersama Paralegal Disabilitas mendorong Penegakan hukum atas penyandang disabilitas di Indonesia.

3. Ketua AJI Kota Makassar

Tema: Menelisik Pola Pemberitaan Difabel oleh Jurnalis Makassar

4. Akademisi Pusat Kajian dan Layanan Difabilitas Universitas Teknologi Sulawesi

Tema: Dinamika Kajian Disabilitas dan Advokasi Difabel di Indonesia

 

Dialog Sesi II

1. Ketua Pengadilan Negeri Makassar

Tema: Sudahkan Proses Peradilan Negeri ini Ramah Bagi Difabel?

2. Direktur LBH Makassar

Tema: Kasus-kasus Difabel: Pengalaman Pendampingan Kasus Difabel di Sulawesi Selatan

3. Direktur PerDIK

Tema: Menimbang Peran Kerja Berjejaring dalam Menegakkan keadilan bagi difabel beradapan dengan hukum.

Nah, bagi rekan-rekan yang ingin turut memeringati Hari Difabel ini di Makassar, mari bergabung pada tanggal 20 Desember 2017. Sebagai penghubung informasi, sila hubungi 085396584550 (Rahman) atau 085395978474 (Yayat).

Terima kasih atas dukungannya dan kami, Perdik mengucapkan selamat hari difabel!

 

Please follow and like us: