Difabel Harus Merdeka Sepenuhnya: Segera Susun 15 RPP Penghormatan Hak Disabilitas!

Oleh: H. Bakri

IMG-20170813-WA0130

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas belum memiliki peraturan pelaksanaannya. Di tengah keramaian car freeday, pegiat difabel berkumpul untuk menyuarakan aspirasi menolak PP Sapujagat di depan Hotel Aryaduta, Pantai Losari (13/8/2017). Sebelumnya aksi penolakan PP sapujagat telah lebih dulu dilakukan di tiga kota: Jakarta, Jogja dan Bandung. Aksi penolakan PP sapujagat di Makassar adalah aksi bersama pegiat-pegiat difabel, yang terhimpun dalam Pergerakan Difabel Indonesia Untuk Kesetaraan (PerDik Sulsel), Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin Sulsel), Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI Sulsel) dan beberapa pegiat difabel diluar Sulsel juga ikut bergabung. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes ke pemerintah. Pemerintah melalui Kementerian Sosial dan Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sepakat hanya membuat 1 rancangan peraturan pemerintah. Seyogianya pemerintah harus membuat setidaknya 7 PP yang tercakup 15 ketentuan PP. PP Sapujagat dinilai menyimpang dari komitmen Presiden Joko Widodo dalam Piagam Soeharso[1].

20170813_082339

Salah satu komitmen Jokowi adalah “menjadi bagian  dalam perjuangan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Saya akan berjuang untuk lahirnya undang-undang yang memberikan kepastian bagi penyandang disabilitas dalam memperoleh hak ekonomi, sosial, politik, pekerjaan, kebudayaan, jaminan pendidikan dan jaminan sosial, yang sesuai dengan UUD 1945 dan konevsi PBB tentang hak-hak penyandang disabilitas” Pegiat difabel yang dimotori oleh PerDik meminta dukungan masyarakat yang singgah untuk menandatangi  kertas putih sebagai bentuk dukungan menolak PP sapujagat yang nanti akan diserahkan ke DPRD Sulsel dan akan diteruskan ke DPR RI.

Aksi penolakan PP sapujagat juga diisi dengan kegiatan membaca gratis, buku-buku koleksi PerDik dijejer di atas tikar semisal Disability and Proverty, Menuju Indonesia Ramah Disabilitas, Difabel Merebut Bilik Suara, dan Hidup Dalam Kerentanan. Minat masyarakat Makassar terhadap buku-buku koleksi PerDik terlihat dengan banyaknya pertanyaan senada “apakah buku-buku ini dijual?”. Bagi Masyarakat yang singgah juga disediakan segelas kopi secara gratis.

Difabel adalah kepanjangan dari Different Abilities People memiliki makna orang-orang yang berkebutuhan khusus/berbeda. Istilah difabel pertama kali digagas oleh Mansour Fakih (Aktivis gerakan sosial di Indonesia yang juga pendiri INSIST) dan Setya Adi Purwanta (seorang difabel netra) bukanlah serta-merta merupakan pengganti dari istilah penyandang cacat. Gagasan atas ditawarkannya pengistilahan ini adalah lebih merupakan ide atas perubahan konstruksi sosial memahami disabilitas, atau yang saat itu dikenal sebagai kecatatan atau penyandang cacat. Ishak Salim (Perdik) mengenakan kaos hitam bertuliskan “Equal Rights Now!” dan berlogo difabel mengatakan bahwa “istilah penderita cacat tidak dipakai, tidak ada yang cacat, cacat itu hanya pada barang, manusia adalah makhluk sempurna, yang cacat adalah lingkungan yang membuat teman-teman difabel tidak mampu”.

Lelaki dengan identitas “isangkilang” ini  memang konsen memperjuangkan hak-hak difabel, disertasinya juga terkait difabel. Aspek akseptabilitas harus diutamakan. Ishak Salim juga mencontohkan lebarnya troatoar yang diperuntukan bagi pengguna kursi roda. Kebanyakan fasilitas publik belum ramah bagi difabel. Hal inilah yang menjadi kendala jika difabel beraktifitas di luar rumah. Seperti yang terjadi pada saat selesai aksi penolakan PP sapujagat, pemesan “taxi online” agak sulit mendapat mobil yang dapat memuat kursi roda.

Keterbatasan organ tubuh sebenarnya tidak memiliki korelasi langsung terhadap ketidakmampuan aktifitas dan partisipasi sosial difabel di lingkungan masyarakat. Justru ketidakmampuan terjadi oleh karena kesalahan lingkungan dan negara dalam memahami difabel dan cenderung mendiskriminasi mereka. “Difabel jangan dikurung, tidak boleh dipasung, difabel harus merdeka sepenuhnya, begitulah imbauan Ishak Salim. Kebanyakan yang terjadi, para orang tua yang anaknya difabel merasa kurang percaya diri karena kondisi yang dialami anaknya, mereka membatasi pergaulan anaknya dengan lingkungan sekitar. Stigma yang melekat di masyarakat selama ini juga ikut memperburuk citra difabel. Realitas sosial inilah yang harus diluruskan. Para artis sinetron yang melakonkan difabel di televisi dinilai keliru dalam memainkan perannya sebagai difabel. Difabel dikonsepkan sebagai orang cacat yang tidak berguna, misalnya saja saat artis sinetron memainkan peran difabel netra, akting si artis terlalu berlebihan, saat berjalan di sekitaran rumah (meraba-raba benda disekitar, berjalan tersandung meja), nyatanya difabel netra jika berjalan di sekitaran rumah yang sudah dihafal tata letak dan bentuknya, mereka berjalan seperti orang pada umumnya.  Ketika disabilitas dipelajari dan dibahas secara teoritis, seringkali dengan cara yang ofensif karena banyak peneliti melihat seorang difabel hanya dalam kondisi biologis dan menyimpulkannya sebagai orang yang membutuhkan bantuan.[2]

IMG-20170813-WA0127

Kita sebagai orang-orang yang peduli terhadap difabel jangan menjadikan mereka seperti orang yang tidak berguna dan selalu bergantung dengan orang lain. Mereka pun bisa mandiri. Kita harus memperlakukan difabel secara manusiawi. Hanya saja kita perlu mengetahui etika difabel. Jika kita mengambil barangnya difabel netra, kita wajib menaruhnya ditempat semula. Jika difabel netra kesandung meja, dan sebelumnya kita tidak memberitau bahwa disana ada meja, kitalah yang salah bukan difabel netra. Begitupun difabel rungu, jika kita berbicara dengan mereka tidak perlu dengan suara keras. Kita seringkali berupaya untuk mengkonsepkan kata-kata agar tidak menyinggung kawan-kawan difabel. Padahal, jika mereka dipanggil buta dan dipanggil tuli, kawan-kawan difabel merasa biasa saja. Kekeliruan terhadap difabel harus segera diubah. Segera. !

Orator aksi tidak hanya Ishak Salim saja, pegiat-pegiat difabel seperti Rahman Gusdur, Kak Uchi, Nur Syarif Ramadhan, dan kawan-kawan difabel (netra, Tuli, Kinetik) secara bergantian berorasi menuangkan keresahan-keresahan mereka terkait difabel yang masih dipandang sebelah mata oleh negara. Hal menarik dan menggugah hati nurani saat Ade Saputra memegang toa speaker dan berpuisi “hak asasi manusia terpangkas, kesempatan terhalang,… inikah Indonesia merdeka? inikah Indonesia berdemokrasi?” Salah seorang Tuli dalam berorator dibantu oleh seorang penerjemah bahasa isyarat. Pesan yang disampaikan adalah Kota Makassar masih kekurangan penerjemah bagi difabel runggu untuk berkomunikasi. Saat ini di Makassar hanya tersedia 4 orang, sementara yang dibutuhkan di seluruh sektor penghidupan setidaknya 100 orang.

 

Kak Uci bercerita Rahmat adalah siswa  cerdas dan pengurus OSIS di SMA Negeri 17 Makassar. Di tahun 2011 Rahmat mengalami kecelakaan di depan fly over Makassar sehingga membuatnya tidak bisa jalan dan berbicara. Pihak SMA Negeri 17 Makassar memutuskan untuk mengeluarkan Rahman dari Sekolah. Dengan nada kesal kak uchi melampiaskan unek-uneknya. Sekolah sebagai institusi pendidikan, yang katanya pemegang kunci dan bertanggung jawab terhadap kesuksesan seseorang, sekolah sebagai tempat mencetak generasi bangsa yang cerdas dan berfungsi memanusiakan manusia, justru berlaku tidak adil. Memperlakukan manusia bukan seperti manusia. Institusi pendidikanlah yang cacat, regulasi sekolahnya yang cacat. Sekolah malah melakukan tindakan diskriminasi dengan memisahkan difabel dan tidak difabel. Sekolah harus mengakomodasi semua anak tanpa membeda-bedakan. Orang tua yang anaknya difabel yang ingin memasukan anaknya sekolah seringkali diarahkan untuk memasukan anak difabel di Sekolah Luar Biasa (SLB). Seharusnya baik difabel dan bukan difabel dapat belajar dalam ruang kelas yang sama.

Aksi penolakan PP sapujagat diakhiri dengan sesi foto bersama sambil memegang kertas putih yang telah ditandatangi sebagai bentuk penolakan. Pegiat-pegiat difabel juga membersihkan sisa-sisa sampah di sekitaran area kegiatan. “Lisa, Lisa liat sampah ambil,” begitu teriakan Rahman Gusdur, dan pegiat-pegiat difabel pun memungut sampah yang berserakan. Sebagai warga kota yang baik kita wajib menjaga kebersihan kota. Apalagi Makassar baru saja untuk ketiga kalinya secara beruntun meraih piala Adipura. Difabel harus merdeka. Tolak PP sapujagat, kawal![]

[1] Piagam Perjuangan Prof.Suharso yang ditandatangani oleh Jokowi pada 5 Juli 2014 komitmen terhadap penyanisabilitas

[2] Ishak Salim (ed).Difabel Merebut Bilik Suara (Sigab: Yogyakarta, 2015). l 21

Please follow and like us: