Hikayat Seorang Pembaca Al Quran-Braille Pertama di Indonesia

Nur Syarif Ramadhan

Darma Pakilaran, sepertinya, tak banyak generasi  ‘milenial’ difabel Netra di Makassar yang familiar dengan nama itu. Apalagi bagi mereka yang baru menjadi warga binaan YAPTI (Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia) medio 2007 – sekarang. Ah, kita memang tak pernah diajar merawat kenangan, terlebih buat orang-orang yang amat penting untuk dikenang. Mungkin begitulah memang bangsa kita, tak terlalu pandai ‘menghargai’, orang-orang sepuh yang di masa mudanya gigih dan gagah berjuang, menginisiasi sesuatu yang teramat berharga bagi kemaslahatan orang banyak.

darma pakilaran

Itu pulalah yang diperoleh oleh Haji Darma Pakilaran, seorang lelaki sederhana yang di masa mudanya diberi hidayah dari Allah SWT, dan turut pula menginisiasi berdirinya dua lembaga pendidikan yang saat ini cukup popular bagi difabel di Indonesia. YAPTI misalnya, yayasan yang disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan terbaik di Indonesia Timur bagi difabel netra, merupakan buah karyanya. Ia pun terlibat dalam pendirian sebuah lembaga pendidikan bagi difabel netra di Jogjakarta: Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (YAKETUNIS).

Lelaki Toraja yang memeluk Islam saat masih duduk di bangku SMP itu pulalah yang berhasil untuk pertama kalinya membaca al-qur’an braille pertama yang masuk ke Indonesia sekitar tahun 1950-an. Bersama seorang kawan sesama mahasiswa saat berkuliah di IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) Fuadi Aziz, mereka membantu seorang difabel netra asal jogja yakni Supardi Abdu Shomad, dalam mempelajari huruf dalam al-qur’an braille arab yang kala itu telah berbilang tahun hadir di Indonesia, namun belum ada satu orang pun yang mampu menguasainya.

Beberapa waktu yang lalu, terdorong rasa ingin tahu perihal perjuangan Pak Darma Pakilaran di masa mudanya, saya bersama Ishak Salim (Ketua PerDIK), dan Hamzah Yamin (seorang aktivis difabel netra), bersilahturahmi ke rumah beliau yang terletak di kompleks Bukit Baruga Antang. Hal lain yang mendorong kami ingin menemui beliau adalah, kami ingin berusaha mendokumentasikan perjalanan hidupnya di masa mudanya, terutama peristiwa-peristiwa penting yang memotivasi beliau saat mendirikan beberapa lembaga pendidikan yang sunggu sangat terasa hasilnya saat ini.

Apalagi, sangat minim teks-teks dokumen berupa tulisan yang mengabadikan perjuangan beliau. Saya pernah mencoba mengetikkan nama beliau di mesin pencarian sekaliber google, tapi hanya satu blog yang saya temukan menuliskan namanya. Saat mengubah keyword pencarian menjadi “sejarah al-qur’an braille di Indonesia”, barulah bermunculan beberapa artikel maupun jurnal yang ada nama Darma Pakilaran di dalamnya. Saat saya membaca lebih lanjut, semua artikel maupun jurnal tersebut hanya menuliskan namanya sebanyak satu kali, di mana ia digambarkan sebagai sosok mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta yang membantu Supardi Abdu Shomad dalam mempelajari al-qur’an braille yang pertama di Indonesia. Ah, bahkan google pun tak begitu telatan merawat namanya!

Sayangnya, di usia Pak Darma Pakilaran yang telah melewati angka 75 tahun (2017), ia telah mulai pikun. Telah banyak peristiwa penting yang tak mampu ia ceritakan. Saat bercerita pun, Ia Nampak berusaha keras mengingat-ingat, nama orang-orang penting, nama jalan beberapa lokasi di Jogja, yang turut andil dalam rentetan peristiwa penting di masa mudanya. Hal itu membuat saya harus membaca beberapa tulisan-tulisan penting terkait sejarah al-qur’an braille di Indonesia, sejarah pendirian YAKETUNIS Jogja, serta awal mula berdirinya YAPTI Makassar, guna menunjang tulisan ini. Sayangnya, tak satu artikel pun yang saya temukan yang menerangkan tentang sejarah YAPTI Makassar. Padahal, YAPTI merupakan salah satu tempat belajar tunanetra paling tua di Indonesia timur, yang telah menghasilkan puluhan alumni yang telah bergelar sarjana, yang tersebar di Indonesia.

***

Pagi itu, kami tiba di rumah pak darma sekitar pukul 11:00 siang. Sebuah sepeda listrik berdiri anggun di depan rumahnya, menyambut kami. Ini kali pertama saya berkunjung ke rumah Pak Darma. Sebenarnya, saat saya menjadi warga binaan YAPTI, saya masih sempat mendapati Pak Darma tinggal bersama dengan kami (para tunanetra yang menjadi warga binaan). Awal saya menjadi penghuni YAPTI yakni pada pertengahan 2006. Saat itu Pak Darma sedang menyelesaikan tahun terakhirnya sebagai kepala panti guna YAPTI. Setahun kemudian, posisi beliau digantikan oleh Bapak Subuh B S.Pd yang menjabat sebagai kepala panti guna YAPTI sejak 2007-sekarang. Sejak saat itu juga, Pak Darma sudah tidak tinggal di asrama YAPTI.

Seorang anak-anak yang kutaksir berusia sembilan tahun membukakan pintu.

“Ada Pak Darma?” saya dan Hamzah iseng bertanya. Pertanyaan yang tentu saja kami tahu jawabannya. Sebelum menuju rumah itu, Hamzah telah berulang-kali menelpon Pak Darma, mengonfirmasi. Hingga akhirnya lelaki bersahaja itu muncul dan menyongsong kami di ruang tamu. Di antara kami bertiga, Pak Darma hanya mengenal kak Hamzah. Saya? Meski pernah tinggal bersama kurang lebih setahun, sepertinya Pak Darma tak bisa menemukan saya dalam ingatannya. Maklumlah, awal saya menjadi warga binaan YAPTI, saya masih anak ingusan (begitu kata penghuni lama YAPTI kala itu), yang masih sedang belajar mengurus diri sendiri. Sementara Ishak, ini menjadi pertemuan pertama buat mereka.

 

Awal Mengenal Tunanetra

Masa muda Darma Pakilaran dihiasi dengan petualangan-petualangan yang seru. Lahir di Toraja, tetapi ia banyak berpindah-pindah guna meraup pengetahuan. Saat menyelesaikan pendidikannya di bangku SMP (1951), ia diberi hidayah oleh Allah. Disitulah ia pertama mengenal Islam dan lantas memeluk agama Islam. Dari Bantaeng, Darma Pakilaran kembali ke Tana Toraja, melanjutkan sekolah di sana. Hingga pecahlah konflik militer—berbalut agama dan etnis antara pasukan Kapten Andi Sose (pimpinan battalion 720—Islam) dengan pasukan Letnan Frans Karangan (yang memilih keluar dari Batalion 720—Kristen). Perselisihan itu membuat banyak orang Toraja harus mengungsi, mengamankan diri dari konflik (lihat Bigalke, 1981). Saat itulah Darma Pakilaran bertemu dengan pasukan DI/TII (Darul Islam Tentara Islam Indonesia). Pada merekalah Darma menyampaikan keinginannya mengenal Islam. Hingga akhirnya pasukan tersebut mengajak Darma untuk mengikuti jejak mereka ke dalam hutan, bergerilya.

Setahun lebih Darma mengikuti pasukan itu, belajar islam di dalam hutan. Hingga akhirnya terbetik kabar jika konflik Toraja mereda, dengan Letnan Frans Karangan yang berhasil mengusir pasukan Andi Sose. Saat itu Darma kembali ke kampungnya, dengan tujuan ingin mengumpulkan orang-orang yang telah memeluk Islam di Rantepao, yang kemudian ia ingin bawa mereka untuk ke dalam hutan, memperdalam Islam di sana. Tapi tak ada satu orang pun yang berminat dengan tawaran itu. Setelah berpikir matang-matang, Darma memutuskan untuk tidak lagi ke dalam hutan. ia ingin melanjutkan sekolahnya yang sempat terhenti. Sayangnya, sekolah tempat ia belajar dulu sudah tak mau lagi menerimanya—mungkin karena telah menjadi Islam. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di Palopo. Di sana Darma menamatkan pendidikan SMA-nya.

Awal perjumpaannya dengan seorang tunanetra terjadi saat Darma melanjutkan pendidikannya di Yogyakarta (1961-1967). Saat itu ia ke Jogja dengan tujuan berkuliah di Fakultas Sosial Politik (sospol) Universitas Gadjah Mada. Tetapi setibanya di Jogja, semangatnya belajar Islam tumbuh kembali kala mengetahui jika ada kampus IAIN Sunan kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga). Ia pun mendaftar juga di sana. Menariknya, ia melulusi kedua kampus tersebut, dan mengikuti masa perpeloncoan di kedua kampus itu.

supardi abdu shomad2.jpg

Saat beraktifitas di Jogja itulah Darma bertemu dengan seorang tunanetra yang menurut ceritanya saat itu mengajar sebagai guru honorer ekstrakurikuler musik di sebuah SMP umum di jogja. Ya. Tunanetra itulah yang kemudian dikenal sebagai Supardi Abdu Shomad, tunanetra yang meminta Darma untuk mempelajari Al Qur’an braille dan mengajarkan kepadanya. Darma dan Supardi dieratkan oleh hobi yang sama: bermain catur.

“Setiap malam, kami suka main catur. Kadang saya menang, dia juga,” kenang Haji Darma memulai menceritakan masa di mana ia melihat Al Qur’an Braille pertama kalinya.

“Suatu malam, Supardi membawakan saya al-qur’an Braille,” kenangnya. Susah payah ia mengingat detail peristiwa itu. Ia mengangkat kedua kakinya di atas sofa dan duduk bersila seolah ia sedang melantai.

“Adek Darma, tolong pelajari Al-qur’an ini, lalu ajarkan pada saya,” lanjut Haji Darma.

“Saat itu, saya memperhatikan isi kitab buku itu dan takjub melihat tulisan timbul di dalamnya,” ujar Pak Darma kepada kami bertiga yang dengan tabah mendengar kisahnya.

Cerita pertemuan Darma Pakilaran dan Supardi Abdu Shomad cukup berbeda dengan versi di atas jika kita membaca catatan pada blog-blog maupun beberapa jurnal yang ada di internet yang menerangkan tentang sejarah al-qur’an Braille di Indonesia. Pada blog YAKETUNIS misalnya, Darma dan Supardi dikatakan baru bertemu ketika Supardi membawa sebuah mesin ketik braille dan al-qur’an braille ke perpustakaan Jogja yang beralamat di jalan Pangeran Mangkubumi Nomor 38.

Berikut kutipan dari blog YAKETUNIS (http://yaketunis64.blogspot.co.id/2014/01/yaketunis-dalam-lintasan-sejarah.html):

Dengan membawa Alqur’an tersebut dan mesin ketik Braille beliau (Supardi Abdu Shomad) datang ke Perpustakaan Islam jalan Pangeran Mangkubumi Nomor 38. Bapak H. Muqodas Kepala Perpustakaan Islam mengetahui ada seorang tunanetra yang datang dan beliau memerintahkan kepada stafnya Bapak H. Moch. Sholichin, BA agar memberikan uang kepada Bapak Supardi Abdu Shomad. Keesokan harinya, Bapak Supardi Abdu Shomad  datang kembali dan diberi uang lagi. Pada hari ketiga beliau datang dan sewaktu akan diberi uang beliau menjelaskan bahwa kedatanganya untuk minta bantuan membacakan Alqur’an Braille yang dibawanya. Hal itu mendapat sambutan baik dari Perpustakaan Islam dan Kepala Perpustakaan menugaskan Bapak H. Machdum dan Bapak H. Moch Solichin, B.A. untuk membantu memahami Alqur’an Braille tersebut. Dalam Alqur’an Braille terbitan Yordania tahun 1952 di halaman pembuka tercantum abjad  Braille Al-Kitabah al-Arobiyah An Nafiroh  lengkap dengan  syakal dan tanda bacanya disahkan oleh UNESCO tahun 1951 dalam tulisan cetak biasa (dengan tinta/bukan Braille). Dari situlah diketahui bentuk-bentuk tulisan Arab Braille. Meskipun di halaman ini ada panduan membaca Alqur’an Braille tersebut, namun kedua staf perpustakaan ini masih menemui kesulitan dalam membaca isi Alqur’an Braille tersebut. Sampai suatu ketika ada dua orang mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga yaitu Fuadi Aziz dan Darma Pakilaran yang kebetulan berada di perpustakaan tersebut tertarik untuk ikut mempelajari dan membantu Bapak Supardi Abdu Shomad.  Mereka bersama-sama kemudian meneliti huruf demi huruf, syakal demi syakal kemudian terbaca kata demi kata dan akhirnya terbaca ayat demi ayat dalam alqur’an Braille tersebut.

Perbedaan pandangan juga saya temukan pada cetakan al-qur’an braille tersebut. Menurut Pak Darma Pakilaran, Al-qur’an Braille yang dulu ia pelajari merupakan al-qur’an cetakan Beirut-Libanon tahun 1951. Sedang dalam kutipan di atas menyebutkan bahwa al-qur’an yang dibawa Pak Supardi merupakan Al-qur’an cetakan Yordan tahun 1952. Setelah saya melakukan penelusuran lebih lanjut, Uniformisasi simbol-simbol Braille Arab (Arabic Braille Codes) dicapai setelah Unesco mengadakan konferensi regional pada 12-17 Pebruari 1951 di Beirut, Libanon. Lihat: UNESCO/MC/Conf. 9/15. Asumsi saya, Sepertinya al-qur’an cetakan Yordan tahun 1952 tersebut merupakan hasil dari Uniformisasi yang dilakukan tahun sebelumnya di Beirut. Sehingga di mushaf tersebut tertulis kota Beirut dan tahun 1951.

***

Menariknya, saat mempelajari huruf Arab braille pada petunjuk halaman pembuka Al-qur’an braille terbitan Yordan tersebut, Darma Pakilaran belum lancar betul membaca Al-qur’an versi umum (awas). Ia juga masih baru belajar membaca huruf-huruf Hija’iyah. Tetapi berkat kesungguhan beliau, dan juga terbantu hafalan Surah Yasin dari Supardi Abdu Shomad, akhirnya mereka berhasil menguasai dan memecahkan simbol-simbol braille yang terdapat dalam Al-qur’an tersebut. Dari sinilah kemudian ditemukan kaidah penulisan Arab Braille yang selanjutnya dijadikan pedoman untuk membaca dan menulis Alqur’an Braille.

Supardi Abdu Shomad kemudian berpikir bahwa akan jauh lebih baik jika ada yang mewadahi anak-anak tunanetra di Jogja, berbentuk sebuah lembaga yang dapat menyatukan mereka, dan menjadi lokasi tempat belajar yang dikhususkan bagi tunanetra, yang saat itu masih sangat kurang jumlahnya di jogja. Lagi-lagi bersama Darma Pakilaran, Supardi mengajak beberapa tokoh muslim di Yogyakarta antara lain Bapak H. Muqodas (Kepala Perpustakaan Islam), Bapak H. Moch Sholichin (Staf Perpustakaan Islam), Bapak Drs. H. M. Margono Puspo Suwarno (Guru PAI SMPLB-A Gunajaya Yogyakarta), H.M Hadjid Busyairi (Guru PAI SLB-A Citajaya Yogyakarta), Bapak H. Haiban Hadjid (Tokoh Muslim Kauman Yogyakarta), Bapak DR. Chumaidi (Dosen IKIP Negeri Yogyakarta), Bapak Dr. Ahmad Zaidun Ruslan (Guru SGA Muhammadiyah Yogyakarta), Bapak Moch. Ghowi, Bapak H. Farid Ma’ruf (Staf Urusan Haji Kementerian Agama RI), Bapak Prof. Drs. Fathur Rahman (Dosen IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Fuadi Aziz (Mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga), Bapak Machdum (Staf Perpustakaan Islam), Ibu Hj. Wajid Hamidi (tokoh masyarakat), Ibu Hj. Yasin (tokoh masyarakat), dll untuk mendirikan Yayasan Muslim yang menyantuni penyandang tunanetra dan akhirnya berdirilah Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam pada tanggal 1 Muharram 1383 H/ 13 Mei 1964 dengan ketua Bapak Supardi Abdu Shomad dan wakilnya Bapak H. Moch Sholichin, BA. Bapak Supardi Abdu Shomad dan Bapak Moch Sholichin juga memprakarsai berdirinya Pendidikan Guru Agama Luar Biasa Negeri Bagian Tunanetra di Yogyakarta tahun 1967 atas rekomendasi dari Departemen Agama RI. Beliau pulalah yang menjadi Kepala Sekolah tersebut. Pada tahun 1975 Bapak Supardi Abdu Shomad sakit dan beliau wafat tahun 1979 di Krapyak lor Yogyakarta dan dimakamkan di sana (lihat lebih lanjut di http://yaketunis64.blogspot.co.id/ diunduh 15 Juli 2017).

Bukan Riglet Biasa

Periode 1964-1967, Bapak Darma Pakilaran banyak mengabdikan diri di Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) yang sebelumnya ia bantu pendiriannya. Di sana, ia mengajar para tunanetra membaca Al-qur’an Braille dan menjadi juru ketik dalam pembuatan Al-qur’an Braille yang dilengkapi terjemahan. Hingga akhirnya beliau dipanggil kembali ke Makassar oleh rektor IAIN Alauddin Makassar saat itu, dan ditawarkan untuk menyelesaikan pendidikan sarjananya di Kota Anging Mammiri.

Saat itulah, saat ingin pulang ke kota daeng (1967), Bapak Darma diberikan sebuah Riglet (alat tulis Braille), oleh bapak Supardi. Sepertinya Bapak Supardi sadar betul jika saat itu masih banyak tunanetra yang tersebar di Indonesia yang belum tersentuh pendidikan apalagi mampu membaca Al-Qur’an. Ujung Pandang (sebutan kota Makassar kala itu) bisa menjadi percontohan bagi kota-kota lain khususnya untuk kawasan Indonesia timur.

“Adek Darma, ini saya berikan kenang-kenangan,” Supardi memulai kalimat perpisahannya kala itu. Boleh jadi, itu akan menjadi pertemuannya yang terakhir dengan orang yang telah banyak membantunya. Sambil menyerahkan sebuah riglet, Pak Supardi melanjutkan kalimatnya, “Nanti, jika adik Darma sudah tiba di Makassar, tolong dirikan yayasan yang membina anak-anak tunanetra di Makassar, ya. Ajari mereka membaca Al-qur’an sebagaimana yang telah kita lakukan di sini,” Pak Darma mengucapkan kalimat-kalimat perpisahan itu dengan tenang dan wajah yang semringah. Pesan itu teramat membekas di hati Darma Pakilaran. Ia bahkan benar-benar mewujudkan permintaan sahabatnya itu di kota Daeng.

***

Cukup sulit bagi Bapak Darma Pakilaran untuk langsung menjalankan cita-citanya setiba di Makassar. Pertama, karena ia tak begitu tahu bagaimana kondisi kehidupan tunanetra di Makassar kala itu. Ia pun tak memiliki kenalan seorang buta yang ia bisa ajari membaca Al-qur’an Braille. Akhirnya, kala itu, selain fokus menyelesaikan studinya di IAIN Alauddin Makassar, ia berupaya menemukan seorang tunanetra yang ingin ia ajari mengaji. Sampai takdir mempertemukannya dengan Bapak Habib Giring, seorang tunanetra total yang tak sengaja ia jumpai di sebuah Masjid. Habib inilah yang menjadi murid pertama Bapak Darma Pakilaran dan menjadi orang pertama yang menjadi binaan YAPTI (Yayasan Pendidikan Tunanetra Islam) yang Pak Darma Pakilaran dirikan tahun 1969.

Dalam proses mengajari Habib mengaji, setiap sore, Darma Pakilaran berkunjung ke rumah Habib, meyakinkannya dan keluarganya jika seorang buta itu bisa mengaji. Memang, untuk memulai sesuatu yang baik, pasti ada beberapa jalan terjal yang mesti terlebih dahulu dilewati. Pun jika kita ingin menemukan cahaya, terlebih dahulu kita harus melewati kegelapan. Itulah yang dilakukan Bapak Darma saat itu. Ia harus berusaha meyakinkan Habib dan keluarganya, agar Habib diperbolehkan bersekolah. Tunanetra bersekolah pada saat itu merupakan hal yang tak lazim. Begitu kira-kira pikiran sebahagian masyarakat ketika itu.

Perjuangan Pak Darma tak sia-sia. Habib berhasil ia pengaruhi, dan bersama beberapa tokoh islam di Makassar seperti: Muhammad Ahmad (mantan pimpinan Pesantren IMMIM), Almarhum Muhammad Naim (Mantan Imam Besar masjid Al-markas Al-islami), Hasmul Kusumoh, dan lain-lain, tahun 1969 berdirilah Yayasan Pendidikan Tunanetra Islam yang kemudian lebih dikenal dengan nama YAPTI.

Awal berdirinya, belum ada lokasi tetap yang bisa menjadi tempat belajar bagi tunanetra yang kala itu telah menjadi warga binaan YAPTI. Saat belajar, Pak Darma dan binaannya harus berpindah-pindah lokasi, mencari tempat yang sekiranya nyaman dan aman untuk belajar. Kadang mereka belajar di masjid, tetapi sering pula di kolong rumah. Hingga pada tahun 1971, pemerintah kota mewakafkan sebidang tanah yang sampai saat ini menjadi lokasi tetap yayasan ini di jalan Kapiten Piere Tendean Blog M No.7 Makassar. Sejak 1969-sekarang, yayasan ini telah mengalami beberapa kali pergantian nama. Awal berdirinya, yayasan ini bernama Yayasan Pendidikan Tunanetra Islam dan yang menjadi ketua yayasan pada saat itu adalah Muhammad Ahmad. Setahun kemudian, Muhammad Ahmad ditugaskan mengajar di Kendari, membuatnya harus meninggalkan Makassar dan secara otomatis melepaskan jabatannya sebagai ketua Yayasan. Selanjutnya ditunjuklah Hasmul Kusumoh sebagai ketua yayasan. perubahan nama kembali terjadi saat Muhammad Naim ditampuk sebagai ketua yayasan menjadi Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia. Hingga di akhir kepemimpinan Naim (2016), pada musyawarah besar YAPTI, diputuskan untuk kembali mengubah nama yayasan dari Yayasan Pendidikan Tunanetra Indonesia menjadi Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia dan terpilih sebagai ketua yayasan, yakni Saiful Saleh yang menjabat hingga sekarang.

Pembaca mungkin bertanya, mengapa Pak Darma Pakilaran tidak pernah disebut-sebut dalam struktur pimpinan yayasan? Itulah yang wajib diteladani dari beliau. Setelah beliau berhasil menginisiasi pendirian YAPTI, beliau tak terlalu bernafsu mengejar jabatan. Yang ia lakukan hanya mengajar dan mengajar, membuat orang buta tidak buta membaca al-qur’an. Ia pun tak terlalu memusingkan ketika beberapa dokumentasi tulisan yang menerangkan tentang sejarah berdirinya Yaketunis dan sejarah Al-qur’an Braille di Indonesia, kurang mencatat namanya. Pak Darma Pakilaran hanya pernah menjadi kepala Panti Guna YAPTI sejak dipaksa oleh binaan YAPTI tahun 1998.

Saat itu, Demonstrasi sedang marak di mana-mana. Mungkin, pada saat itu memang sedang banyak-banyaknya pimpinan yang bersikap otoriter. Panti Guna Yapti saat itu dipimpin oleh seorang wanita bertangan dingin (Ibu Rahmatia) selama 25 tahun. Terinspirasi dari demonstrasi besar-besaran mahasiswa di seluruh Indonesia, warga binaan YAPTI saat itu juga melakukan demonstrasi di DPRD Propinsi, menuntut agar Kepala Panti Guna YAPTI diganti. Demonstrasi itu berhasil menggulingkan wanita bertangan dingin itu, dan ditunjuklah Pak Darma sebagai penggantinya (1998-2006).

Sejak berhenti menjadi kepala panti, Pak Darma Pakilaran sudah tidak banyak dilibatkan di YAPTI. Memang, namanya masih tercantum dalam SK kepengurusan yayasan, tetapi dalam berbagai permasalahan yang belakangan dihadapi yayasan, ia sudah tidak pernah dilibatkan. Pelan-pelan “rezim penguasa” YAPTI sekarang membuatnya terlupakan. Pada momen idul fitri dan Idul Adha misal, rumahnya bukan menjadi tempat yang masuk daftar untuk dikunjungi. Jika kelak para siswa maupun para alumni YAPTI tidak tahu dan melupakan Haji Darma Pakilaran, maka salah satu sebabnya adalah terputusnya tali silaturahmi itu.

Saat saya masih menjadi warga binaan YAPTI (2006-2012), kami hanya sesekali mengingat namanya disebut-sebut. Hanya pada event cerdas-cermat antar binaan yang kala itu rutin diadakan setiap tahun. Salah satu pertanyaan soal cerdas-cermat itu berbunyi begini: “Di dalam proses pengenalan dan pengembangan Al-Qur’an Braille di Indonesia, seorang tunanetra dan seorang dari kalangan awas memberikan kontribusi dan dedikasi yang sangat besar, Siapakah nama kalangan awas tersebut yang juga ketika kembali di Makassar memprakarsai berdirinya Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia?”

Tak elok rasanya memperlakukan Pak Darma Pakilaran seperti itu. Beliau memang tak pernah merisaukan perlakuan seperti ini. Toh apa yang ia cita-citakan bersama Bapak Supardi Abdu Shomad (Alm) sudah terwujud. Lihatlah fakta yang terjadi, memang wajar jika Yapti dijuluki sebagai sekolah terbaik bagi difabel netra di kawasan Indonesia Timur. Sampai saat ini, YAPTI telah memiliki alumni yang berhasil menjadi sarjana sebanyak 24 orang, dan ada pula yang masih sedang dan telah menyelesaikan jenjang pendidikan berikutnya. Semoga angka-angka ini terus bertambah. Menutup tulisan ini, mari kita mendoakan agar Pak Darma Pakilaran tetap sehat dan dirahmati oleh Allah SWT atas kerja kerasnya di masa lalu[].

Please follow and like us: