Ketika Rabaan Pertama Membuatku Jatuh Cinta

Catatan Nur Syarif Ramadhan Dari MIWF 2017 (bagian 2 dari 2 tulisan, bagian 1)

miwf 2017

KIRA-KIRA SAAT SAYA MASIH DUDUK di bangku SMA (⁠⁠⁠2009-2012), saya akrab dengan novel-novel karangan Esti Kinasih. Saya masih ingat, setiap pulang sekolah, saya akan menjadi penghuni setia perpustakaan asrama hanya untuk mendengar digital talking book novel triologi Matahari Senja. Saat itu, untuk membaca novel bagi difabel netra di Makassar, khususnya yang menjadi binaan YAPTI—di mana saya tinggal di asramanya, dimanjakan dengan kiriman ‘buku bicara’ dari Yayasan Mitra-Netra Jakarta.

Yayasan Mitra Netra—berdiri sejak 1991—adalah salah satu organisasi yang menghimpun relawan pembaca buku yang suaranya direkam. Yayasan yang didirikan oleh beberapa difabel netra alumni perguruan tinggi di Jakarta ini memulai kerja sosialnya dengan memproduksi ‘buku bicara’. Padahal saat itu belum ada sekretariat maupun alat rekam secanggih sekarang. Mereka memulainya dengan cara yang amat biasa sesuai dengan kemampuan saat itu. Siapapun anggotanya yang punya kaset bekas yang tak dipakainya lagi, maka mereka bisa menyumbangkan ke Mitra Netra. Jika mereka membutuhkan lebih banyak lagi kaset, maka mereka akan menghimpun kaset-kaset bekas dari manapun. Setelah itu, mereka membaca buku-buku dengan merekam suaranya menggunakan tape recorder sederhana.

Pertama kalinya saya menikmati buku bicara dari Yayasan Mitra Netra, formatnya sudah dijital, yakni mp3. Saat itu, YAPTI menjadi salah satu yayasan yang pada saat itu rutin menerima kiriman buku bicara dari Yayasan Mitra Netra.

Pada MIWF 2017, saya tak menyangka jika penulis buku triologi Matahari Senja, yaitu mbak Esti Kinasih, menjadi salah satu pembicara. Sekarang saya sudah tidak pernah membaca karya beliau lagi, sebab bukunya sudah jarang saya jumpai. Atau boleh jadi bukunya masih ada di toko buku, tetapi saya belum menemukannya. Saya tertarik mengikuti sesi beliau, hanya karena ingin belajar, atau mungkin ingin mengetahui trik dan tips Esti Kinasih dalam menulis novel remaja. Acara itu berlangsung di hari kedua MIWF, bertempat di VERANDAH 2 Fort Rotterdam, yang  dipandu oleh Ibe S Palogai.

“Saya juga suka menulis, Mbak. Saat ini saya sedang berusaha menyelesaikan novel pertama saya. Tetapi, setelah saya membaca ulang setengah dari novel yang telah saya tulis tersebut, saya merasa bahwa saya kurang piawai dalam mendiskripsikan sesuatu objek seperti ruang, suasana, benda, atau bahkan menggambarkan fisik seseorang. Mungkin karena saya seorang difabel netra, hal tersebut begitu sulit bagi saya.”

Saya memberanikan diri berkomentar di sesi tanya jawab. Saya prihatin  pada moderator, karena sedari tadi ia membuka sesi itu, tetapi tak ada satu pun yang bertanya perihal kepenulisan. Sebagian besar peserta yang mengikuti sesi tersebut adalah perempuan. Bahkan, setelah mengamati lebih jeli, dan malu-malu bertanya pada kakak panitia, ternyata hanya ada dua peserta laki-laki yang mengikuti sesi tersebut.

“Wow, cukup sulit menjawab pertanyaanmu, Mas,” Esti Kinasih merespon pertanyaan saya dan berpikir sejenak. Mungkin mencari ide menanggapi pertanyaan saya.

“Mungkin, ketika Mas ingin mendeskripsikan sesuatu, Mas bisa meminta bantuan pada orang lain, minta tolong dijelaskan ataukah digambarkan tentang sesuatu hal yang ingin Mas masukkan ke dalam novel Mas.”

Saya tidak begitu puas dengan saran Esti Kinasih. Memang, jawaban itu tidak salah. Tetapi saya merasa pasti ada jawaban yang lebih baik lagi dari jawaban itu, yang bisa memberi rasa puas bagi saya, meskipun hanya sedikit. Perkara deskripsi ini memang menjadi hambatan tersendiri.

*

Sudah menjadi rutinitas selama MIWF 2017, setiap sore, di Taman Rasa Fort Rotterdam, berlangsung A Cup of Poetry: An Afternoon Coffee with Poetry Reading. Sayangnya saya lagi-lagi tak berani tampil membacakan sepenggal puisi. Tapi saya menerima tawaran Faisal Oddang untuk menikmati secangkir kopi. Jadilah sore itu, bersama pacar seseorang (yang sebelumnya saya curi) kami menikmati senja di Fort Rotterdam dengan menikmati secangkir kopi dan suguhan puisi yang dibacakan. Sepertinya, pada MIWF tahun depan, saya harus menemukan wanita yang mau saya pacari, dan mau menemani saya mengikuti MIWF. Hahaha.

Sebuah band indi asal Palu menjadi penampil pertama pada malam harinya. Mereka menampilkan beberapa lagu berbahasa lokal Sulawesi tengah, yang sayangnya (lagi-lagi) tak kumengerti. Saya lebih senang dengan penampil selanjutnya. Mereka adalah enam penulis terpilih (Emerging Writers 2017).

Tahun ini, enam penulis yang terpilih adalah: Anaci Tnunay (Kupang), Ashari Ramadana T (Makassar), Bayu Pratama (Mataram), Maria Pankratia (Ende), Muhammad Arham (Luwu), dan Nurdahlia Simba Manna (Kolaka). Secara bergantian, mereka tampil di panggung Main Plaza Fort Rotterdam, membacakan karya masing-masing, yang telah membuat mereka terpilih menjadi Emerging Writers 2017. Bagi mereka yang ingin terpilih menjadi Emerging Writers pada pelaksanaan MIWF tahun berikutnya, tentu bisa mempelajari karya-karya keenam penulis tersebut.

***

WhatsApp Image 2017-07-13 at 11.21.37

Mungkin, sebahagian orang beranggapan bahwa, seorang difabel netra hanya dapat membaca buku jika buku tersebut dalam bentuk braille. Sehingga banyak yang tak terlalu memperhatikan sisi “keaksesibilitasan” sebuah buku ketika dicetak. Memang sulit membayangkan seorang difabel netra apalagi yang totally blind akan dapat mengakses sebuah buku awas (nonbraille).

Saat ini, dalam mengakses sebuah buku non-braille, seorang difabel netra dapat menggunakan scanner atau mesin pemindai. Jadi, agar buku tersebut dapat mereka baca, terlebih dahulu mereka harus men-scan atau memindai buku tersebut. Biasanya, jika seseorang  memindai sebuah buku, maka tampilan formatnya ketika dibuka di komputer akan berformat image (jpg). Ini tentu saja belum aksesibel, karena format image tidak dapat dibaca oleh program screen reader (jaws/damayanti). Maka dari itu, saat ingin melakukan pemindaian, seorang buta lagi-lagi membutuhkan software tambahan yang akan memroses hasil scanning buku tersebut dalam bentuk teks (txt/rtf/doc/pdf). Saya sendiri saat ini menggunakan Kurzweil saat memindai buku. Aplikasi lain yang juga banyak digunakan oleh difabel netra adalah OpenBook.

Hal tersebut tentu saja baru bisa dilakukan ketika difabel netra telah sampai ke rumah dan memiliki scan, ataupun mendatangi penyedia jasa scan. Lantas bagaimana jika seorang difabel netra ingin ke toko buku dan membeli buku? Tentu saja banyak hal yang perlu dipertimbangkan seperti (lagi-lagi) soal  aksesibilitas area toko buku, dan buku itu sendiri. Sependek sepengetahuan saya, memang, belum ada toko  buku maupun perpustakaan umum di Makassar yang mencoba memerhatikan aspek aksesibilitas bagi difabel netra. Tapi bukan berarti difabel netra jarang atau bahkan tidak pernah ke toko buku.

Sejak SMP, saya sudah sering ke toko buku. Saat itu, senior saya di Asrama YAPTI baru saja putus dengan pacarnya. Sebagai pelampiasan, ia rajin sekali ke toko buku, dan membaca buku-buku motivasi. Saat itu kami belum akrab dengan mesin scan, jadi sebagai solusinya, kami membawa seorang pembaca (reader bernyawa). Tiap sabtu, kami akan menjadi penghuni setia TB Gramedia MP dan MARI, membaca buku motivasi.

Saat bersekolah di SMA 6 Makassar, saya semakin sering ke toko buku, membeli buku mata pelajaran yang terkadang disertai satu dua novel. Sayapun tak ketinggalan saat toko buku online mulai nge-trend. Ketika kesulitan mendapatkan relawan saat ingin ke toko buku, saya akan berbelanja online. Bagi saya keberadaan toko buku online cukup membantu bagi difabel netra seperti saya, karena saya bisa dengan mandiri membeli buku, tanpa memerlukan bantuan dari teman non-difabel.

Ada satu hal menarik yang sering difabel netra lakukan saat ke toko buku. Kami acap kali  mengadakan kompetisi kecil-kecilan, Perihal siapa paling cepat menebak sebuah judul buku. Dengan jari yang sudah terbiasa meraba taktil braille, kami meraba sampul sebuah buku, berusaha merasakan dan mengenali huruf yang tercetak di sana. Teman awas yang kami bawa berlaku sebagai jurinya. Tentu saja tidak semua buku bisa kami baca judulnya dengan tepat. Kadang yang terbaca hanya pengarang bukunya, atau jika bertemu dengan buku yang memiliki judul yang cukup panjang, atau mungkin cetakan huruf pada buku tersebut bervariasi, maka kami kesulitan untuk mengenalinya. Hal lain yang paling menyulitkan adalah ketika bertemu dengan buku yang menggunakan tulisan indah atau huruf bersambung, saya sama sekali tidak bisa mengenalinya.

Ada beberapa stan buku yang turut meramaikan festival MIWF 2017. Yang terkenal dan cukup ramai tentu saja stan buku Gramedia dan Gagasmedia. Saya, (masih bersama pacar seseorang yang saya culik tadi), tak mau ketinggalan, turut meramaikan ke dua stan buku tersebut. Meski ada diskonnya, ternyata buku yang terpajang di stan tersebut mahal-mahal.

Jika pengunjung lain menggunakan mata untuk mencari buku, maka saya berusaha percaya diri menggunakan jari telunjuk untuk meraba-raba buku yang tertata anggun di rak. Dan tiba-tiba saja buku kumpulan puisi dari Shinta Febriany (Berjudul: Gambar Kesunyian di Jendela) menyita perhatian saya. Buku itu membuat saya jatuh cinta pada rabaan pertama. Tanpa pikir panjang, saya langsung meminang dan menebus maharnya. Saya juga membeli buku terbaru dari Khrisna Pabichara: ‘Cinta Yang di Acuhkan’. Untuk buku ini, saya cukup sering membaca promosi penulisnya di facebook. Tapi bukan sebab itu yang mendalangi saya membelinya.

Belakangan saya mulai jatuh hati pada buku-buku Khrisna Pabichara, karena beliau banyak menggunakan kata-kata arkais (kata-kata tak lazim), yang sangat menarik. Melalui karya-karyanya, saya kemudian banyak menemukan perbendaharaan kata baru yang tentu saja tidak jelek ketika digunakan saat menulis.

***

 

Di hari ketiga pagelaran MIWF (19 Mei 2017), saya mengikuti tiga sesi yakni: Emerging Writers 2017 (Discovering New Writing From Eastern Indonesia), Writing the traditions, dan Book Launch (Cinta Yang Diacuhkan) by Khrisna Pabhicara. Saat itu  saya alpa mengikuti acara malam harinya di Main  Plaza  Fort Rotterdam.

Hari itu, saya pulang lebih awal karena saya ingin mempersiapkan sesuatu. Dari schedule yang saya peroleh, pada hari keempat MIWF (atau hari terakhir), akan ada book launch dari Shinta Febriany: “Gambar Kesunyian Di Jendela“. Buku yang sebelumnya membuat saya jatuh cinta pada rabaan pertama. Ada hal yang ingin saya persiapkan dan akan saya sampaikan pada acara itu.

Dan sebelum acara book launch dari Shinta Febriany berlangsung, saya mendapat sebuah moment spesial berbicara langsung dengan dua penulis top yakni: Shinta Febriany dan Erni Aladjai. saat itu, saya sedang menunggu acara dimulai ketika Erni Aladjai mendekati saya. Dan tak berselang lama, Shinta Febriany juga bergabung. Mereka tentu mengenal saya, karena pada hari pertama MIWF, saya sempat berpartisipasi pada sesi mereka: book launch “Dari Timur”. Demi sopan santun, kamipun berkenalan.

WhatsApp Image 2017-07-13 at 11.22.32

Dalam obrolan kami sore itu, saya akhirnya banyak tahu tentang Shinta Febriany: tentang puisi-puisinya, tentang bukunya yang telah terbit, serta beberapa naskah teater yang sedang dan pernah ia tulis. Erni Aladjai bercerita tentang bagaimana ia berinteraksi dengan difabel, tentang pengalamannya tinggal beberapa hari di Asrama Tunanetra YAPTI, yang kemudian melahirkan sebuah tulisan yang termuat di kompas dan melambungkan namanya.

Saya pun menceritakan pada keduanya tentang novel yang sedang saya tulis, bagaimana saya menulis, bagaimana saya bisa membaca buku. Serta bagaimana caranya saya bisa mandiri mengikuti MIWF. Sementara itu, panitia MIWF mulai menyiapkan beberapa perlengkapan yang diperlukan dalam acara tersebut. Di penghujung obrolan kami, seorang perwakilan dari Gramedia (penerbit buku yang akan di launching) menghampiri kami. Ia langsung menyalami saya. Ia mengaku bahwa kami sudah tiga kali berjumpa di MIWF, (yang sayangnya tak pernah saling menyapa). Ah, ternyata saya cukup terkenal juga.

***

Acara launching buku “Gambar Kesunyian di Jendela” dihelat di Verandah 2 Fort Rotterdam. Erni Aladjai yang bersama Shinta Febriany yang sebelum acara berbincang dengan saya, bertugas sebagai host. Sedang penyair sastrawan  nasional, Afrizal Malna mendapat kehormatan sebagai pembedah buku. Sepuluh menit pertama diberikan pada Afrizal Malna untuk mengomentari ataupun mengkaji lebih mendalam kumpulan puisi dalam buku tersebut.

Selanjutnya, Shinta Febriany bercerita proses kreatif dalam proses penulisan puisi-puisi yang terdapat dalam buku tersebut. Secara garis besar, puisi-puisi dalam buku tersebut dibagi dalam tiga sub judul yakni; Perihal Kekasih (terdiri dari 18 puisi), Tubuh Ingatan (juga terdiri dari 18 puisi), dan Metafora Kematian (terdiri dari 19 puisi).

Saya tidak begitu bisa menjelaskan lebih rinci tentang isi buku tersebut, karena sayapun belum membacanya. Tetapi itu bukanlah penghalang yang dapat merintangi keinginan saya untuk mengacungkan tangan pada sesi diskusi. Dan saya pun mengacungkan tangan paling akhir, ketika tak ada lagi peserta diskusi yang ingin berkomentar.

“Saya tak akan berkomentar banyak terkait isi buku ini, terlebih karena saya belum lama menggenggam buku ini,” begitu saya memulai kalimat saya.

“Ada hal lain yang saya rasa cukup menarik dari buku ini, yang saya rasa belum banyak orang yang mengetahuinya,” ujara saya hendak menceritakan bagaimana saya menemukan buku tersebut. Saya menyelipkan sepotong kisah tentang bagaimana seorang difabel netra saat ke toko buku.

“Jujur, saat pertama kali saya meraba buku ini, saya merasa jatuh cinta, kenapa? Karena desain sampul buku ini cukup memudahkan saya untuk mampu mengetahui judulnya. Cetakan huruf pada judul buku begitu timbul sehingga mudah diraba,” kata saya berupaya meyakinkan. Namun, mendengar kata ’meraba dan diraba’ sebagian peserta diskusi dari bagian belakang Verandah 2 kudengar tertawa cecekikan. Tapi itu tidak mengganggu konsentrasi saya untuk mengomentari buku tersebut.

whatsapp-image-2017-07-13-at-11-23-28.jpeg

Saya melanjutkan cerita.

“Setelah saya menebus mahar buku ini kemarin, saya langsung meninggalkan Fort Rotterdam. Tadi malam, saya mengunjungi beberapa kawan difabel netra yang juga gemar ke toko buku, hanya untuk merabakan buku ini pada mereka, dan meminta komentar mereka terkait desain sampul dan cetakan huruf pada judul buku ini,” saya berhenti sejenak mengatur nafas.

“Di antara kami sesama difabel netra, ada yang bisa membaca judul buku lewat rabaan dengan mudah, dan ada pula yang secara perlahan-lahan. Bagi difabel netra low vision atau masih memiliki sisa penglihatan walau terbatas, desain sampul seperti buku Febriany cukup memudahkan bagi kami. Terlebih karena latar sampul buku berwarna putih polos,” kata saya yang masih ingin melanjutkan cerita.

“Tetapi, ada juga komentar dari teman saya yang buta total. Katanya, cetakan huruf pada judul buku ini sudah cukup timbul, akan tetapi akan lebih aksesibel lagi jika ukuran ataupun fonts hurufnya bisa diperbesar lagi.” Saya mengakhiri komentar saya dengan menunjukkan buku critical eleven dari Ika Natasah. Buku terbitan Gramedia ini memiliki cetakan huruf pada judul bukunya cukup timbul, dan ukuran hurufnya juga cukup besar.

Diakhir acara itu, saya mendekati Shinta Febriany, meminta ia membubuhkan tanda tangannya di buku. Kami saat itu sepakat untuk bertemu dan berdiskusi lagi di kesempatan lain.

“Ditunggu komentarmu terkait isi buku ini, ya,” ujarnya penuh harap.

***

Malamnya, saya mengikuti acara penutupan MIWF di Main Plaza Fort Rotterdam. Ada banyak penampilan yang tersaji malam itu. Ada pembacaan puisi dari Joko Pinurbo dan Shinta Febriany, beberapa band dan penyanyi lokal, serta catatan dari notulen kondang Maman Suherman. Sajian manis paling akhir tentu saja hadir dari Pidato Lily Yulianti Farid yang penuh semangat. Ia berhasil menggugah hadirin dan menyematkan hasrat di hati pendengarnya untuk kembali menantikan MIWF tahun berikutnya[].

“MIWF adalah merayakan kekayaan. Indonesia memiliki kekayaan luar bisaa dalam khazanah seni dan sastra, di mana Makassar adalah salah satu titik yang penting,” (Riri Riza).

“MIWF itu ibarat sumur ide, di mana ide-ide baru terus bergulir,” (Lily Yulianti Farid)

 

Penulis: Nur Syarif Ramadhan

Penulis, Aktivis Difabel, saat ini aktif di PerDIK

Please follow and like us: