Menyisipkan Isu Difabel dalam Festival Penulis Internasional Makassar: CATATAN DARI MIWF 2017

lily“Semalam, seseorang yang berpengaruh di kota, ini menghubungi saya. ‘Lili, kapan MIWF akan dimulai?’ katanya.”

“’Besok malam ceremony pembukaannya, pak. Akankah bapak akan datang?’”

“’Saya lihat jadwal dulu, ya.’”

“Sore tadi, sebelum acara ini kita mulai, saya kembali mengonfirmasi ke yang bersangkutan perihal kedatangannya. Tapi, ajudannya yang memberi jawaban: ‘Maaf, bapak lagi ada rapat politik. Tidak bisa diganggu’”

“Ini adalah festival sastra internasional terbesar dan satu-satunya di Indonesia Timur! Kita menyelenggarakan ini secara mandiri, tanpa turut campur pemerintah kota. Jadi, jika acara opening MIWF tak dihadiri pejabat, itu tidaklah menjadi perintang terlaksananya acara ini!”

MALAM ITU, IBU LILY YULIANTI FARID membius kami dengan pidatonya yang membahana dalam acara Opening Ceremony Makassar Internasional writers festival (MIWF) 2017 di Main Plaza  Fort  Rotterdam. Tahun 2017 menjadi edisi ke-tujuh dalam pelaksanaan MIWF. Festival literasi internasional pertama dan satu-satunya di Indonesia Timur ini diselenggarakan oleh Rumata’ Artspace sebagai program tahunan.

Pertama digelar 2011, festival ini menjadi salah satu acara sastra yang hidup dari semangat hampir 200 relawan, melahirkan kerja kreatif dan kerjasama warga dari berbagai kalangan. Setiap tahun, MIWF selalu menyajikan para penulis dan pembicara penting untuk membagi pengalaman dan gagasan mereka dalam berbagai topik pilihan. Sebut saja Bénédicte Gorrillot penulis buku-buku Perancis kontemporer dan sejak 2005 sudah menulis lebih dari enam puluh artikel tentang puisi-puisi karya penyair-penyair Perancis. Shida Bazyar, penulis berdarah Iran yang lahir dan tinggal di Jerman, ia banyak menulis tentang keluarga-keluarga migran dari Iran yang tinggal di Jerman. Xu Xi penulis asal Hong Kong, Ridwan Saidi, Lokman Hakim dan Shaz Johar penulis asal Malaysia, Ypil Lawrence seorang penyair dan esais dari Cebu, Filipina. Mark Heyward penulis dan peneliti asal Australia yang sudah 25 tahun melakukan penelitian di Indonesia, dua bukunya tentang Indonesia “Crazy Little Heaven, an Indonesian Journey” dan “Looking for Borneo”. Hadir juga empat penulis Australia lainnya Antje Missbach, Derek Pugh, Jemma Purdey, dan Madelaine Dickie.

Lantas bagaimana dengan penulis-penulis dari Indonesia?

Tentu saja tak ketinggalan. Sebut saja penyair Sapardi Djoko Damono, Sastrawan Budi Darma dan Bondan Winarno, Penulis novel-novel remaja Esti Kinasih, penulis skenario film Salman Aristo, penulis dan jurnalis Maggie Tiojakin, penulis novel dewasa dan buku anak-anak Clara Ng, Arief Ash Shiddiq, Endy Bayuni, Debra Yatim, Lala Bohang, Devi Asmarani, dan tentu saja penyair dan penulis dari Makassar M Aan Mansyur. Sebenarnya masih banyak penulis lainnya yang turut berpartisipasi, akan tetapi, saya tidak bisa mengabsen mereka satu per satu.

*

PERTAMA KALI SAYA MENDENGAR MIWF tahun 2012, atau pada edisi kedua pelaksanaannya. Saat itu saya masih duduk di bangku SMA, dan mulai tertarik dengan dunia kepenulisan. Sayangnya, keterbatasan informasi membuat saya hanya dapat memimpikan untuk ikut MIWF. Tahun demi tahun acara tersebut tetap berlangsung, dan saya masih belum menemukan cara untuk dapat berpartisipasi.

Akhir 2016, sekelompok aktifis difabel muda di Makassar berkumpul dan mendirikan sebuah organisasi yang kemudian diberi nama: Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Organisasi inilah yang menjembatani saya sehingga saya pada tahun ini (2017), akhirnya dapat mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung di MIWF.

Di PerDIK, saya dipertemukan dengan Ishak Salim, seorang aktifis difabel yang saat ini menjabat sebagai ketua Badan Pengurus PerDIK. Orang inilah yang mendorong saya untuk dapat berpartisipasi di MIWF. Dia selalu berupaya agar difabel dapat berpartisipasi di setiap event yang berlangsung di Kota Makassar. Ini penting agar difabel di Makassar tidak malu dan merasa canggung jika berinteraksi dengan mereka yang bukan difabel dan sebaliknya orang-orang menjadi paham bagaimana berinteraksi dengan difabel secara benar.

“Alangkah jauh lebih bermanfaat jika kita bisa memfasilitasi difabel untuk ikut ambil bagian di MIWF. Minimal, di tiap-tiap sesi acara di MIWF, ada perwakilan difabel yang hadir.” Suatu ketika kak Ishak melempar ide tersebut dalam percakapan kami via whatss app.

“Menarik kita coba, kak!”

Saya pun mencoba menghubungi teman sesama difabel, mengajak untuk mengikuti MIWF. Lewat beberapa grup social media komunitas difabel, saya mencoba menjelaskan apa itu MIWF, serta hal-hal positif yang bisa kita peroleh jika berpartisipasi di MIWF. Setidaknya, kita bisa menunjukan eksistensi difabel pada masyarakat. Ajakan saya mendapat tanggapan yang beragam. Tetapi pada intinya belum ada difabel yang semangatnya melampaui semangat yang saya miliki untuk ikut berpartisipasi di MIWF.

*

dari timur

HARI PERTAMA MIWF (Rabu, 17 Mei 2017)

Book Launch and Discussion: “Dari Timur“ menjadi acara pertama yang saya ikuti. Acara ini berlangsung pukul 14:00-15:30 di Chapel Fort Rotterdam. Sebagai pembicara empat penulis dari Timur yang karyanya termuat dalam buku yang sedang di launching. Mereka adalah: Faisal Oddang, Erni Aladjai, Emil Amir dan Ibe S Palogai. Sesi ini dipandu oleh Shinta Febriany.

Kondisi lalulintas di kota Makassar yang amburadul membuat saya terlambat dalam mengikuti sesi ini. Belum lagi saya belum hapal betul area Fort Rotterdam. Saat saya mendekati meja registrasi, Faisal Oddang sudah mempresentasikan cerpennya: ‘Orang-orang Dari Selatan Harus Mati Malam Itu’, cerpen yang pernah dimuat di harian kompas tersebut terpilih menjadi salah satu karya yang termuat dalam buku yang sedang di launching.

Secara bergantian, keempat pembicara menjelaskan karyanya yang dimuat dalam buku “Dari Timur”. Mereka menceritakan proses kreatif mereka dalam menulis karya tersebut, serta motivasi mereka dalam menulis karya tersebut. Dari keempat pembicara, saya hanya pernah membaca karya Faisal Oddang dan Emil Amir. Saya pernah menemukan cerpen Emil Amir di Kompas. Kalau tak salah ingat, judul cerpennya “Ambe Masih Sakit”, dan di muat di kompas tahun 2012. Tapi bukan tulisan itu yang termuat dalam buku “Dari Timur”. Tulisan Emil yang dimuat dalam buku tersebut berjudul “Silariang”. Sayangnya, saya belum pernah membaca cerpen tersebut, sehingga saya tidak bisa berkomentar banyak.

Untuk Faisal Oddang, harus saya akui, saya adalah penyuka karyanya. Hampir semua cerpennya yang dimuat di koran sudah saya baca. Cerpen-cerpen tersebut diantaranya: Bung  Parani (Harian Fajar 1 Juli 2012), Mawar di Atas Tanah Merah (Harian Fajar, 12-Februari-2012), Sepasang Pohon di Pinggir Sungai (Lombok Post, 27 Maret 2016), Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon (Kompas, 4 Mei 2014), Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon? (Kompas edisi 21 Februari 2016), Orang-Orang Dari Selatan Harus Mati Malam Itu (Kompas, 28 Juni 2015), Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau Pergi (Kompas, 16 Oktober 2016), dan Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku (Cerpen ini pernah dimuat di Koran Tempo akhir pekan 19–20 Maret 2016, dan memenangkan ASEAN Young Writers Award 2014).

Dua pembicara yang lain: Erni Aladjai dan Ibe S Palogai, sama sekali saya belum pernah membaca karyanya. Hari itu merupakan pertama kalinya saya mengenal mereka. Pada intinya, dalam menulis karya, semua penulis tidak pernah mengambil tema yang jauh dari kehidupan mereka. Keempatnya lebih senang menulis dengan tema lokalitas dari daerahnya masing-masing.

Writing disability

Di sesi tannya jawab, ada empat peserta yang mengacungkan tangan. Kazuhisa Matsui, Kak Dandi dari kata kerja, seorang ibu PNS dari Maros, dan saya. Saya mengunakan sesi ini untuk memperkenalkan apa itu difabel. Saya menceritakan saat pertama kali mendengar event MIWF, serta masih kurangnya informasi yang sampai pada difabel terkait event ini.

“Boleh jadi, diluaran sana ada banyak difabel yang ingin berpartisipasi dalam event ini, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara untuk dapat berpartisipasi, atau boleh jadi mereka ingin mengikuti rangkaian kegiatan MIWF, tetapi lokasi yang menjadi tempat berlangsungnya acara ini tidak aksesibel buat mereka. Saya menyarankan, untuk pelaksanaan MIWF tahun berikutnya, Panitia harus lebih gencar lagi menyebarkan informasi terkait MIWF, buatlah agar informasi tersebut sampai ke komunitas-komunitas difabel di Kota Makassar.”

Sebelum saya mengakhiri, saya mengajukan tantangan pada keempat penulis untuk menulis karya yang bertemakan difabel. Saya memberi gambaran, ada begitu banyak hal yang dapat digali dari kehidupan difabel.

“Selama ini, difabel hanya bisa ditemukan lewat penyajian berita dari koran-koran, ataupun media lain. Masih sangat sedikit sastrawan yang mengangkat tema difabel dalam sebuah prosa, puisi ataupun cerpen.”

Shinta Febriany, moderator diskusi, mempersilahkan Faisal Oddang sebagai narasumber pertama, untuk menanggapi pertanyaan saya.

“Sebenarnya, kehidupan saya tak jauh dari difabel. Saya dibesarkan oleh seorang difabel. Salah seorang dari keluarga kami—Om saya—adalah seorang bisu,” Faisal Oddang memulai ceritanya. “Sebenarnya, isu difabel bukanlah isu yang berat untuk dituliskan dalam sebuah karya sastra. Saat ini saya sedang menulis sebuah novel, yang dalam novel tersebut terdapat satu tokoh yang seorang difabel.” Faisal Oddang mengakhiri.

“Sebenarnya, dalam karya puisi saya, kadang kala saya terinspirasi dari seorang difabel,” pembicara selanjutnya, Ibe S Palogai memulai. “kamu mungkin bisa mencoba membaca karya saya, jika kamu bisa memaknai puisi yang saya buat, kamu mungkin akan mengetahui jika karya tersebut terinspirasi dari difabel.”

Jawaban tak terduga diutarakan Erni Aladjai:

“Saya pernah membuat sebuah monolog tentang difabel. Dan dimuat di harian kompas tahun 2011. Sebelum menulis karya tersebut, saya pernah tinggal selama seminggu di salah satu komunitas difabel netra di kota Makassar. Di sana saya banyak belajar tentang difabel, dan lewat pengalaman itulah saya bisa menulis sebuah karya yang bertemakan difabel. Saya juga senang membaca karya para difabel. Saya sering membuka web kartunet.com, dan menikmati tulisan-tulisan yang teman-teman difabel buat.”

Tanggapan yang berbeda disampaikan Emil Amir. Menurutnya, tema difabel merupakan tema yang cukup sulit baginya.

“Terus terang, saya belum bisa menulis dengan bertemakan difabel. Mungkin, jika harus menulis sebuah karya sastra yang bertemakan difabel, saya harus tinggal di komunitas mereka, dan mempelajari kehidupan mereka. Tapi saya rasa, itu pun masih cukup sulit.” Di akhir penjelasannya, Emil Amir, memberi semangat pada saya untuk menulis. “Sebuah karya yang bertemakan difabel akan lebih terasa keindahannya jika difabel itu sendiri yang menuliskannya. Jadi, alangkah jauh baik jika si penanya yang melatih kemampuannya dalam menulis, kemudian membuat sebuah karya sastra yang bertemakan difabel.”

Sebelum sesi tersebut berakhir, Shinta Febriany menerangkan beberapa sastrawan yang pernah menulis karya sastra yang bertemakan difabel. Di Indonesia bisa kita temukan dalam karya Seno Gumira Ajidarma dalam novelnya yang berjudul Biola Tak Berdawai, atau mungkin bisa ditemukan dalam puisi-puisi Aprizal Malna.

*

 SELANJUTNYA SAYA MENGIKUTI sesi Networking and Opportunities, Meet the Publishers: “What kind of stories do we after?” di Verandah I Fort Rotterdam. Sesi ini menghadirkan pembicara yang mewakili tiap-tiap penerbit: Kedai Buku Jenny, Ininnawa, Gramedia Pustaka Utama, Gagas Media, Mizan, Noura Books, Bentang Pustaka dan Penerbit Buku Perempuan.

penerbit

Tak banyak yang dapat saya ceritakan dalam sesi ini. Tujuan utama saya menghadiri ini adalah untuk mencari informasi kira-kira penerbit mana yang cocok dengan novel yang sedang saya tulis: “Sebab Kau Bukan Emas”. Novel ini masih sedang saya kerjakan, dan setelah mendengarkan kriteria buku yang biasanya diterbitkan oleh masing-masing penerbit yang hadir pada sore itu, kini saya sedikit memiliki gambaran, mengenai penerbit yang mungkin saja berjodoh dengan novel saya.

Menjelang magrib, atau pukul 17:30 wita, bertempat di Taman Rasa Fort Rotterdam, berlangsung sesi A Cup of Poetry: An Afternoon Coffee with Poetry Reading. Acara ini menjadi panggung bagi siapa saja yang ingin tampil membaca puisi. Pada sesi ini, kita juga bisa menikmati secangkir kopi yang disediakan panitia.

Hingga tibalah saat opening ceremony MIWF 2017. Acara tersebut dirangkaikan dengan beberapa pertunjukan. Salah satunya adalah Papermoon Puppet Theatre. Begitulah mungkin nama pertunjukannya seperti yang dikatakan MC. Jujur, saya tidak terlalu menikmati pertunjukan ini. Yah. Sajian ini hanya bisa dinikmati oleh mereka yang melihat dengan matanya. Yang menarik adalah, ada difabel yang terlibat dalam pertunjukan ini. Saat para pemain Papermoon Puppet Theatre memperkenalkan diri, saya mendengar suara kak Cikki di sana. Bersama dua Tuli yang lain: Adit dan Bambang, mereka turut ambil bagian pada malam itu. Cikki adalah seorang pencinta seni dan penerjemah bahasa isyarat Bisindo. Dia berkawan dengan banyak kawan Tuli yang tergabung dalam Gerkatin Sulawesi Selatan.

Acara opening ceremony MIWF berlangsung sederhana. Tak ada sambutan walikota, gubernur, apalagi bapak presiden di sana. Hanya pidato kak Lily Yulianti Farid yang begitu sarat makna.

“Setidaknya, acara kita malam ini tidak memakan banyak waktu dengan harus menunggu kehadiran para pejabat,” salah satu kalimat Lily yang mendapat sambutan tepuk tangan yang begitu meriah.

“Jika kelak, diluaran sana seseorang bertanya tentang kota Makassar, mungkin akan ada yang berkata: ‘Oh, Makassar yang pantainya di reklamasi, kan?’ atau mungkin berkata ‘Makassar itu yang banyak begalnya, kan?’ tapi, akan ada juga yang berkata dengan teramat bangga, ‘Makassar yang ada MIWF-nya, kan?” Lagi-lagi, kalimat itu disambut dengan sorakan dan tepuk tangan yang membahana dari seluruh penjuru Fort Rotterdam.

Rangkaian pesta malam itu ditutup dengan pemutaran film berbahasa Bugis yang tak kumengerti. Malam mulai menua, satu demi satu pengunjung Fort Rotterdam mulai beranjak. Begitupun saya.

*

HARI KEDUA MIWF (Kamis, 18 Mei 2017)

Event yang berlangsung di hari kedua MIWF semakin meriah. Program MIWF Goes to Campus mulai dilangsungkan di hari itu. Selain almamaterku, UNM, kampus lain yang mendapatkan kehormatan sebagai lokasi berlangsungnya acara MIWF adalah UIN Alauddin. Di UIN Alauddin dilangsungkan: Writing Workshop bersama Madelaine Dickie dan sebagai Host adalah Astrid AF. Sedang saya mengikuti Writing Workshop yang berlangsung di UNM, di Bollroom lantai dua gedung Phinisi. Hadir sebagai pemateri dua penulis dari Australia yakni Derek Pugh dan Mark Hayward, dan dipandu oleh Yola.

Kedua pemateri memberi motivasi pada peserta tentang pentingnya menulis. Mereka juga memberikan beberapa tips and trik agar tulisan yang kita buat mengalir dan enak dibaca. Setelah itu, salah seorang penulis menampilkan contoh tulisannya pada peserta. Tulisan tersebut berbahasa inggris dan menceritakan tentang sebuah tradisi di Tana Toraja.

Karena tulisan dari Mark Hayward berbahasa Inggris, maka setiap ia usai membaca beberapa kalimat, Yola —moderator akan menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia.

Usai menikmati penyajian tulisan dari Mark Hayward, selanjutnya peserta diberi kesempatan untuk menulis apa saja selama kurang lebih 30 menit dengan panjang tulisan minimal 500 kata. Di benak saya, tiba-tiba terlintas ide untuk menulis sebuah esai berupa kritikan sederhana terhadap Universitas Negeri Makassar. Dalam tulisan itu, saya mengkritisi desain bangunan Menara pinisi yang cenderung masih belum aksesibel bagi difabel. Memang, pada lift gedung sudah dilengkapi dengan huruf braille pada tombolnya, akan tetapi, itu belum dapat dikatakan sempurna jika belum dilengkapi dengan voice reader, yang fungsinya mengubah teks yang tertulis ke dalam bentuk suara.

Selama ini, jika seorang difabel netra ingin menggunakan lift di gedung Phinisi, mereka masih butuh bantuan dari mereka yang non-difabel. Huruf braille pada tombol lift belum cukup membantu, Karena tak ada informasi suara yang memudahkan difabel netra untuk mengetahui jika tiba-tiba lift berhenti di sebuah lantai, serta ketika pintu lift tertutup maupun terbuka. Selain itu, bangunan itu juga belum terlalu aksesibel bagi difabel tuli maupun difabel kinetik, seperti pengguna kursi roda, protese, maupun kruk.

30 menit berlalu, tulisan itupun selesai. Di luar judul, tulisan itu tepat berjumlah 500 kata. Tentu saja masih banyak kekurangan di dalamnya, masih banyak hal yang ingin saya tuangkan di dalamnya. tetapi Batasan 500 kata menghalanginya.

Selanjutnya peserta dipersilahkan untuk membacakan karyanya masing-masing. Banyak orang yang mengangkat tangan, namun hanya segelintir yang dipilih. Sayangnya, saya tidak termasuk yang segelintir itu. Tak apalah, setidaknya setelah kukembangkan, tulisan ini bisa menjadi penghuni setia blog ekspedisidifabel, ataupun kartunet[].

Penulis: Nur Syarif Ramadhan

Aktivis PerDIK

Please follow and like us: