Upaya PerDIK dan GEMPITA: Pelibatan Difabel dalam Pertanian Tanaman Jagung

Press Release PerDIK – Makassar, Sabtu 3 Juni 2017

SEGENAP PENGURUS GERAKAN Pemuda Tani Indonesia atau Gempita Indonesia bertemu dengan Pengurus Pergerakan Difabel Indonesia(PerDIK), kemarin 2 Juni 2017 di kantor PerDIK di Makassar.

IMG-20170603-WA0000

Pertemuan ini adalah untuk mendiskusikan peluang difabel di Sulawesi Selatan turut ambil bagian dalam program agraris, khususnya budidaya tanaman jagung di lahan-lahan tidur yang tersedia. Program ini merupakan inisiatif dari Gempita sebagai upaya mengurangi besaran impor pakan maupun pangan ke Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan keluarga-keluarga petani melalui distribusi hasil panen yang lancar dan harga jual yang lebih terjamin.

Direktur PerDIK, Abd Rahman mengawali diskusi dengan menyampaikan bahwa PerDIK adalah gerakan difabel untuk mendorong inklusi di dalam proses pembangunan. Untuk itu, Ia sangat berharap agar program Gempita ini juga membuka peluang bagi difabel, khususnya yang berprofesi atau ingin bekerja sebagai petani untuk berkontribusi dalam gerakan.

Hadir dalam diskusi informal ini adalah jajaran pengurus Gempita tingkat nasional, yakni Abdul Waris (Sekretaris Jenderal Gempita Indonesia), Nurkanita Maruddani Kahfi dan Andi Anugerah Wijaya Baso (Koordinator Nasional Gempita), Asrul Herman (Koordinator Gempita Sulsel), Syukur Natsir (Pengurus Gempita Sulsel). Sementara itu dari PerDIK, Ishak Salim (Board), Abd. Rahman (Direktur), Erwin T (koordinator Hubungan Antar daerah) dan Zulhajar (peneliti PerDIK).

Menurut Abdul Waris, program yang diusung oleh Gempita mendapat respon yang sangat luas di berbagai daerah. Bahkan di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan geliat orang-orang muda petani yang hendak berpartisipasi semakin meningkat.

“Kami akan memastikan, keseluruhan proses mulai dari pembentukan kelompok, masa tanam, panen sampai distribusi hasil panen akan terus dikawal oleh Gempita,” ujarnya semalam saat PerDIK mempertanyakan beberapa hal terkait tahapan pembentukan kelompok petani inklusi nanti.

Berdasarkan penjabaran Asrul Herman sebagai koordinator Gempita untuk Sulawesi Selatan, tahapan pelibatan petani dalam program ini kurang lebih dibagi dalam lima tahap. Kelima tahapan itu, meliputi: [1] memastikan terdapat 25 – 30 petani yang akan menjadi calon anggota kelompok petani dalam hal ini petani jagung, [2] memastikan terdapat calon lahan untuk penanaman jagung (pakan), [3] Jika sudah terdapat CPCL atau Calon Petani Calon Lahan, barulah menyepakati pendirian kelompok dan diajukan ke pihak terkait (dinas pertanian dan pemerintah desa), [4] tim Gempita kemudian melakukan verifikasi kelompok berikut lahan untuk tanaman jagung, lalu [5] jika hasil verifikasi berhasil, maka proses distribusi bantuan akan berjalan. Bantuannya berupa bibit jagung sebanyak 15 kg perhektar dengan jenis varietas sesuai permintaan, pupuk urea 50 – 100 kg perhektar dan alat-alat pertanian sesuai kebutuhan kelompok. Selain tahapan itu, Gempita juga sudah bekerjasama dengan pihak-pihak terkait pertanian untuk memastikan proses pendampingan terhadap kelompok baik oleh Penyuluh Pertanian maupun kader atau pengurus lokal Gempita.

“Kami akan bekerja sama dengan Ikatan Alumni PSBD Wirajaya dan organisasi difabel di berbagai daerah. Kemarin sudah kami sampaikan melalui group internal IKA tentang peluang program Gempita mengikutsertakan difabel berpartisipasi dan respon alumni sangat antusias. Dari berbagai daerah ada banyak yang berminat mencobanya, seperti alumni dari Bulukumba, Jeneponto, Bantaeng, Takalar, Enrekang, Luwu, dan Toraja,” ujar Ishak Salim dari PerDIK.

“Kalau sudah ada sekelompok difabel di setiap daerah yang bersedia turut serta, maka nanti koordinator Gempita dari setiap kabupaten akan berkoordinasi dengan kelompok dan memberikan bantuan teknis jika dibutuhkan. Untuk kejelasan yang lebih rinci, kami memiliki dokumen yang bisa dipelajari oleh PerDIK maupun jaringannya,” ungkap Abdul Waris.

Koordinator Gempita Sulsel, Asrul Herman berharap kepastian tersedianya CPCL itu sudah tercapai pada akhir Juli, karena, masa tanam untuk sebagian wilayah Sulawesi Selatan adalah bulan September. Kami berharap pada bulan Juli sudah terbentuk sehingga bulan Agustus nanti proses pencairan bibit dan pupuk sudah bisa berjalan dan petani menanam pada awal bulan September.

Baik PerDIK maupun Gempita Indonesia berharap kerjasama ini bisa berjalan. “Jika difabel atau petani difabel bisa turut serta maka program ini bisa disebut sebagai ‘Program Bertani Inklusi’ dan menjadi wadah pergerakan dalam membangun martabat difabel di bidang pertanian,” kata Ishak.[]

 

 

Please follow and like us: