Seberapa Akses Masjid di lingkungan Anda bagi Difabel?

masjid akses2Masjid adalah tempat ibadah bagi Ummat Islam. Sangat banyak teks-teks suci yang mengambarkan keutamaan beribadah di masjid. Hingga wajar apabila setiap orang “mewajibkan” dirinya untuk beribadah di masjid. Namun persoalan yang muncul bukan hanya pada bagaimana beribadah itu dijamin kebebasannya dan dilindungi, tetapi bagaimana jaminan dan perlindungan itu menciptakan ruang atau struktur kemudahan bagi siapapun untuk beribadah di rumah ibadah tersebut.

 

Di sinilah letak persoalan besarnya. Dari sebuah diskusi terkait difabel, salah satu hal yang paling menonjol adalah terkait dengan aksesibilitas beribadah di masjid. Mulai dari akses ke masjid, parkiran, tempat berwudhu, toilet dan aksesbilitas informasi hingga dari persoalan konstruksi masjid yang tinggi dan megah yang rata-rata tidak memiliki konstruksi tangga yang aksesibel bagi jamaah difabel. Hal lainnya adalah tidak adanya fasilitas kitab Al quran ataupun buku-buku keagamaan khusus buat difabel netra di masjid. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa difabel mengalami eksklusi atau pengabaian dari upayanya menikmati beribadah secara setara.

Kita bisa bertanya, untuk apa kemewahan sebuah masjid kalau justru mengabaikan hak difabel beribadah secara setara? Bukankah Nabi Muhammad saw sudah pernah ditegur dengan keras sekali oleh Allah SWT terkait pengabaian beliau terhadap Ibnu Ummi Maktum yang datang ke rumah Nabi untuk mendapatkan pencerahan? Coba baca surat Abasa (ayat 1 – 10) di bawah ini:

Abasa Ayat 1 – 10 Dan Terjemah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

(1). عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,

(2). أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ
karena telah datang seorang buta kepadanya.

(3). وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّىٰ
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).

(4). أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَىٰ
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya?

(5). أَمَّا مَنِ اسْتَغْنَىٰ
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,

(6). فَأَنْتَ لَهُ تَصَدَّىٰ
maka kamu melayaninya.

(7). وَمَا عَلَيْكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ
Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

(8). وَأَمَّا مَنْ جَاءَكَ يَسْعَىٰ
Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

(9). وَهُوَ يَخْشَىٰ
sedang ia takut kepada (Allah),

(10). فَأَنْتَ عَنْهُ تَلَهَّىٰ
maka kamu mengabaikannya.

Jangan ditanya, bagaimana nelangsanya Sang Nabi dapat teguran langsung dari Sang Khalik. Ayat-ayat tersebut merupakan bentuk kecintaan Tuhan kepada Nabi Muhammad dan telah membentuk pribadi Nabi menjadi amat peka terhadap penindasan kaum marjinal.

Lalu mengapa bentuk pengabaian semacam ini masih terjadi melalui desain-desain masjid yang tidak memperhatikan jamaah difabel, baik jamaah yang berkemampuan berbeda dalam bergerak (pengguna kursi roda, kaki palsu atau kruk), komunikasi (Tuli), dan seterusnya? Apakah para pengurus masjid kita atau bahkan para ulama kita hanya melihat orang atau jamaahnya hanya menggunakan standar “kenormalan” fisik saja? Apakah ini bukan berarti bahwa mereka memiliki mata tapi tidak menggunakannya untuk melihat hal-hal seperti di atas?

Jika kita ingin konsisten dengan ajaran agama sebagai agama rahmat bagi alam semesta, maka menciptakan masjid yang akses bagi semua adalah suatu KEHARUSAN.

Bagaimana memulai agar desain masjid di masa mendatang lebih akses? Berikut beberapa tipsnya. Setidaknya ada empat prinsip aksesibilitas, prinsip ini  yang merupakan alat untuk mengakseskan sebuah kota (UNISCAP, 1995, dalam Harry kurniawan, UGM), namun prinsip-prinsip ini relevan dalam konteks menciptakan masjid yang ramah bagi kaum difabel, yakni :

  1. Kemudahan untuk mencapai sebuah tempat
  2. Kemudahan untuk masuk ke dalam tempat atau lingkungan tersebut
  3. Kemudahan untuk mempergunakan semua fasilitas yang ada
  4. Kemampuan untuk mencapai, masuk dan mempergunakan tanpa menjadi obyek belas kasihan.

Empat prinsip di atas dapat dijadikan pemandu dalam menciptakan masjid ataupun fasilitas publik lainnya yang aksesibel baik difabel.

Dari penelitian Deni sukanto dan Hetyorini tentang ‘Peningkatan fungsi bangunan umum melalui upaya desain Masjid Baiturrahman Kota Semarang yang akses bagi difabel’ terdapat beberapa kesimpulan, sebagai berikut:

  1. Alur luar pejalan kaki dan parker
  • Jalur pejalan kaki: jalur pejalan kaki harus di rancang baik, sehingga orang yang menggunakan fasilitas tersebut nyaman, aman, dan mandiri. Penempatan tiang lampu, kotak surat, tempat sampah harus di luar lebar minimum yang di perlukan dari jalur trotoar atau pejalan kaki. Lebar minimum trotoar harus 1.500 mm.
  • Parkir: area parkir harus nyaman dan aman bagi pengguna kursi roda dan pejalan kaki, parkir harus berada sedekat mungkin ke pintu utama dan dapat diakses untuk memberikan ruang yang cukup bagi keluar masuknya kendaraan. Harus ada penanda khusus (warna dan tektur lantai) pada jalan akses bagi difabel netra serta tanda akses bagi pengguna kursi roda.
    1. jalur Dalam
  • Pintu Masuk: pintu masuk harus lebar hingga memudahkan akses bagi semua orang termasuk pengguna kursi roda.
  • Tangga: tangga yang dibuat harus memperhatikan ketuhan bagi pengguana hingga nyaman, aman dan mandiri. Pencahayaan, kontras warna, signage, indicator peringatan wajib ada untuk meningkatkan keselamatan.
  • Railing (pegangan tangan): ini fitur yang penting, difabel menggunakannya sebagai pemandu dan menjaga keseimbangan.
  • Toilet: Toilet harus muda di akses dan di tandai dengan jelas (khusus difabel) dan kolam untuk cuci kaki dibuat terpisah agar difabel pengguna kursi roda dan kaki palsu (protese) tidak harus melewati kolam itu yang bisa merusak “kaki” mereka (tambahan penulis).
  • Lokasi shalat khusus buat difabel yang menggunakan kursi roda (tambahan penulis)
  • Tempat wudhu yang memudahkan dengan fasilitas dan penanda yang jelas bagi kaum difabel (tambahan penulis).
    1. Aksesibilitas Intelektual (tambahan penulis)
  • Fasilitas membaca (alqur’an dan buku) yang dapat di akses dan di baca oleh difabel netra (tambahan penulis).
  • Penerjemah bahasa isyarat, jika ada jamaah Tuli.

Dari hasil penelitian ini, setidaknya terdapat gambaran teknis yang dapat dijadikan rujukan bagaimana menciptakan masjid yang akses difabel sebagai bentuk perwujudan hak difabel dalam beribadah secara setara di masjid.

Jika masjid-masjid sekarang ini sudah terlanjur didesain hanya khusus untuk orang-orang yang tidak membutuhkan alat bantu bermobilitas, maka para pengurus masjid harus mulai memikirkan untuk melakukan redesain secara bertahap (sebutlah dalam setiap tahun 10% renovasi sehingga dalam 10 tahun mendatang sudah akses 100%).

Jangan bilang upaya membangun akses ini Mahal dan alasan-alasan sulit lainnya, karena harga yang harus Anda tanggung sebagai orang yang bertanggung jawab dalam pembangunan masjid, dan Anda sebagai ulama yang berfungsi mencerahkan ummat jauh lebih mahal jika Allah SWT meminta pertanggungjawaban Anda diakherat nanti. Jangan sampai, karena Anda menutup masjid itu bagi kurang lebih 10% jamaah difabel ini untuk datang beribadah akibat desain masjid Anda keliru, maka jatah Anda untuk masuk surga tertunda.

Jika demikian halnya, maka anggaplah saran dalam tulisan ini adalah teguran agar Anda lebih melihat lagi realitas dari jamaah yang selama ini mengalami peminggiran.

Demikian, semoga Anda tergerak meredesain atau membangun masjid yang akses bagi difabel.

Wallahu Alam Bishshowab!

masjid akses6

Irawan (Penulis adalah Manajer Produksi Pengetahuan PerDIK)

 

Please follow and like us: