Praktik Kuasa-Pengetahuan dibalik Pemikiran Seorang Penulis: Respon Kritis atas tulisan Daeng Gassing

daeng gassing dan kebutaan

Tulisan Ipul Daeng Gassing menggoda saya untuk mengomentarinya dengan sudut pandang sebagai seorang aktivis difabel. Saya dan sejumlah kawan mendirikan organisasi yang kami sebut PerDIK, Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan yang memiliki mandat memproduksi pengetahuan terkait perlawanan atas segala bentuk Politik Pencacatan di negeri ini.

Tentu saja, komentar saya bukan untuk mendistorsi semangat Daeng Gassing yang telah mengangkat isu-isu difabilitas dalam tulisan-tulisannya, tetapi saya melakukannya untuk berbagi pengetahuan dan berharap cara pandang kita terhadap persoalan disabilitas bisa lebih luas lagi.

Tulisan Daeng Gassing berjudul ‘Fajrin dan Pendar Cahaya dari Hatinya’, yang terbit setahun lalu (maklum baru saja saya membacanya). Isinya berkisar pengalaman pertemuan Daeng Gassing dengan Fajrin dan teman-temannya di YAPTI Makassar.

Pada kalimat awal, pembuka tulisan tersebut, sudah membuat saya memberi komentar. Simak kalimat ini, Meski matanya tak sempurna, tapi semangatnya luar biasa’.

Mengapa penulis menempatkan kalimat “Meski mata tak sempurna” harus diletakkan di depan kalimat “tapi semangatnya luar biasa”?

Apa yang hendak ditonjolkan penulis? ‘Mata tak sempurna’ atau ‘semangat yang luar biasa’?

Cara pandang apa dibalik pikiran penulis saat dia menuliskan kalimat pembuka di atas? Apakah dia hendak menonjolkan ‘salah satu organ tubuh?’ dan dengan itu dia sedang mengamini butir-butir pengetahuan yang ia petik dari ‘ilmu medik’?

foucault2

Mengapa ia memilih ‘pendekatan medik’ itu? Itu karena rezim kebenaran—meminjam konsep kekuasaan Foucault the regime of truth—sejak berabad lamanya sudah menguasai alam pikiran yang bersemayam di kepala orang-orang. Penulis artikel inipun tak lepas dari kungkungan rezim itu. Jika demikian, maka tulisan ini adalah suatu proses medikalisasi untuk aspek-aspek yang seharusnya bukan soal medik.

Kutipan

“Saya bukannya tidak bisa membaca Quran bu, tapi saya tidak bisa melihat huruf-hurufnya.” Kata Fajri dengan memendam rasa sakit di dalam hatinya.

Malam itu sang ibu marah tak terbendung ketika Fajri tak juga mampu mengikuti perintahnya, membaca deretan huruf hijaiyah di lembaran kitab suci Al Quran. Ibunya marah karena Fajrin dianggapnya bodoh, tak bisa membaca. Padahal dia tak tahu apa yang sebenarnya dirasakan Fajrin.

Fajrin adalah salah satu penghuni asrama milik Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), Makassar. Saya menemuninya di suatu hari yang gerah. Waktu itu bersama dua orang kawan saya hadir untuk berbagi tentang bagaimana menulis yang baik kepada Fajri dan teman-temannya, penghuni asrama Pertuni. Sebuah pengalaman yang dengan segera membuka mata saya, membuat saya menemukan cahaya-cahaya terang dari Fajrin dan teman-temannya.

*

“Sudah lama mi sebenarnya saya suka menulis kak, tapi jelek ki. Ndak ada yang ajar ka.” Kata Ade Saputra, salah seorang peserta kelas hari itu. Katanya dia sudah lama mau belajar menulis, hanya saja tak ada orang yang bisa ditempatinya belajar.

Ade yang tambun dan selalu tampak ceria itu adalah seorang penyandang tuna netra kategori low vision. Dia masih bisa melihat meski sangat kabur dan gelap. Ade sangat ceria, sepanjang pertemuan dia nyaris tak bisa diam, terus saja berbicara dan sesekali bercanda. Keceriaannya selaras dengan umurnya yang belum lagi menyentuh angka 20.

Selain Ade satu lagi yang saya ingat betul hari itu. Seorang pria tak seberapa tinggi yang umurnya saya taksir antara 20-25 tahun. Namanya Andi Zulfajrin. Fajrin, begitu dia menyebut nama sapaannya-ternyata sudah lama senang menulis. Dia rajin mencatat kisah kehidupannya meski tak berani memperlihatkannya kepada orang lain. Selama ini catatan-catatannya hanya tersimpan rapi, hanya untuk dirinya sendiri.

Fajrin terlahir sebagai anak yang tak berbeda dengan anak-anak lainnya, sehat dan normal. Dia baru merasakan ada yang berbeda dengan dirinya ketika duduk di bangku kelas tiga SD. Perlahan-lahan penglihatannya mulai mengabur tak lagi sejelas dulu. Awalnya Fajrin tidak paham apa yang terjadi pada dirinya, pun dengan orang tuanya. Satu hal yang paling diingatnya adalah ketika suatu malam sang ibu memarahinya karena tak bisa membaca Al Quran seperti yang diperintahkan.

Dengan memendam rasa sakit di hatinya Fajrin bergumam. “Saya bukannya tidak bisa membaca, tapi saya tidak bisa melihat huruf-hurufnya.”

Fajrin sebenarnya anak yang cerdas, di sekolah dia sempat menjadi pemuncak rangking pertama. Hingga kemudian perlahan-lahan pandangannya mulai mengabur, tak lagi setajam dulu. Fajrin terpaksa berhenti bersekolah, meninggalkan keceriaan kehidupan anak-anak yang dulu menemaninya. Hidupnya berganti dari beragam warna menjadi hanya hitam pekat.

Komentar

Saya mengomentari pada paragraph terakhir di atas. Sebenarnya, jika penulis tahu, ia bisa saja menelusuri soal lain selain soal ‘mata yang menjadi sakit’. Tampaknya, fokus penulis berpusat pada individu Fajrin yang menjadi buta dan akhirnya memilih ‘berhenti sekolah’ dan itu berarti penulis (sebagaimana mungkin Fajrin juga berpikir demikian) menganggap bahwa persoalan kondisi tubuhnya-lah yang menjadi alasan mengapa ia harus memutuskan berhenti bersekolah. Sebenarnya, kemungkinan lain yang saya pikirkan (mengingat Daeng Gassing tidak menuliskannya) mengapa Fajrin ‘berhenti bersekolah’ adalah karena baik pihak guru maupun kepala sekolahnyalah yang memaksa menghentikan Fajrin (yang telah menjadi low vision) bersekolah. Artinya, seluruh aspek yang menggerakkan sistem pembelajaran di sekolah saat itu tidak akan mampu mendidik Fajrin dengan kondisi barunya .

Jika penulis punya cara pandang lain, bahwa titik persoalan ‘keluarnya Fajrin dari sekolah’ diletakkan bukan pada kondisi tubuhnya (baca alasan medik), maka alasan dikeluarkannya (atau keluarnya Fajrin) dari sekolah adalah karena faktor lain, yakni ketidakmampuan sekolah dalam hal ini ‘sistem pembelajaran/pendidikan yang diberlakukan maupun kualitas para tenaga pengajarnya. Itu berarti, kita melihat persoalan non-medis yakni ‘aspek sosial’ dalam konteks keluar atau dikeluarkannya Fajrin dari sekolahnya. Ini yang disebut dalam ‘kajian disabilitas’ sebagai pendekatan social model of disability atau ketidakmampuan seseorang bukan karena kondisi tubuhnya, melainkan desain sosialnya.

Mari kembali ke tulisan Daeng Gassing.

Keluarga besarnya sebenarnya sempat mencari beragam cara untuk mengobati Fajrin. Dari pengobatan medis di Puskesmas sampai pengobatan alternatif yang sulit dicerna logika. Tapi semua tak ada hasilnya. Fajrin kecil sempat terpuruk kehilangan harapan. Api semangat yang dulu berkobar-kobar dalam dadanya seperti padam tak berbekas.

Komentar

Apa yang membuat keluarga Fajrin harus pontang-panting berupaya menyembuhkan mata Fajrin? bisa jadi karena kuatnya stigma (cap miring) bahwa orang buta tidak akan punya masa depan yang cerah, menjadi tukang pijat dan lain-lain. Banyak aspek sosial yang bisa kita duga untuk kemudian menelusurinya lebih mendalam terkait hal-hal apa yang membuat keluarga ini dihantui kecemasan dan semangat Fajrin memadam hingga redup. Kecemasan dengan kondisi anggota tubuh yang mengalami disfungsi merupakan konsekuensi dari cara berpikir yang disebut abelisme (ableism).

Cara pandang abelisme ini adalah bentuk dari cara berpikir bahwa manusia itu ‘sempurna tubuh jasmani dan rohaninya’ dan untuk itu segala produk sosial atau aneka desain untuk memungkinkan seseorang bergerak atau bertindak itu didasarkan pada kesempurnaan fungsi anggota tubuhnya: mata yang melihat untuk membaca dan memandang sekeliling, dua kaki melangkah/berjalan/berlari/melompat, telinga mendengar, mulut bicara atau berbahasa secara verbal, hidung membaui, jemari meraba dan menulis, lengan mengayun, dan seterusnya.

Dalam keadaan produk sosial berbasis ‘kenormalan’ atau ‘kesempurnaan’ anggota tubuh itulah yang sesungguhnya telah berkontribusi dalam menidakmampukan orang buta, tuli, atau pengguna kursi roda dalam beraktifitas maupun berpartisipasi dalam beragam sektor kehidupan sehari-hari (disabling condition). Jadi, kepanikan orang-orang ketika mengalami disfungsi tubuh (impairment) akan berimplikasi mengalami ketidakmampuan (disability) ketika tidak tersedia berbagai alat bantu (adaptive devices) dan akomodasi yang layak (reasonable accommodations) di setiap ruang publik di mana seseorang bisa bergaul atau belajar dan bekerja bersama-sama dengan manusia lainnya dengan cara yang berbeda.

Parahnya, di banyak kota maupun kampung, desain-desain sosial ini sudah begitu banyak dibuat yang tidak mempertimbangkan keragaman tubuh, pikiran maupun mental seseorang yang dalam tulisan ini disebut sebagai penyandang ketunaan (misalnya penyandang tuna netra).

Kutipan

Tapi rupanya Tuhan berkata lain. Meski sempat berada di titik terendah kehidupannya Fajrin toh bisa bangkit juga. Dengan penuh semangat dia meminta untuk disekolahkan di SLB di kota Makassar.

Komentar

Dalam banyak pengalaman seseorang mengalami impairment seperti sakit baik akibat kecelakaan, virus maupun kesalahan dalam konsumsi makanan atau obat atau sejak dalam kandungan, akan ada fase setelah ‘kesembuhan’ di mana seseorang menerima dirinya secara seutuhnya. Misalnya menerima identitas barunya sebagai ‘orang buta’ dan percaya bahwa ia bisa melakukan banyak hal dengan cara dan tingkat kemampuan yang berbeda. Perubahan menuju penerimaan diri ini sangat ditentukan oleh jenis informasi yang diterimanya. Jika pikiran-pikiran medik maupun magis yang dominan, maka penerimaan akan dirinya mengikuti logika-logika medik, misalnya menganggap diri tuna (rusak), sakit, dan subjek yang menderita. Dengan penerimaan seperti itu, maka orang ini akan berperilaku layaknya orang sakit, orang tidak mampu, dan memilih menjadi kelas pinggiran. Inilah yang disebut Foucault sebagai ‘the technology of self’ di mana seseorang mengamini label yang dilekatkan kepadanya berdasarkan konsepsi kebenaran (pengetahuan) yang sedang dominan atau berkuasa.

Pun demikian orang-orang terdekat maupun tetangga di sekitarnya akan memperlakukannya sesuai dengan cara pandang yang bersemayam dalam pikirannya, seperti mengasihani ‘si sakit atau si penderita’, meminta si penderita untuk tabah dan menerima kebutaan sebagai ujian dariNya, menanti keajaiban dan seterusnya. Boleh jadi, Fajrin kecil menerima asupan informasi positif bahwa kebutaannya bukanlah suatu persoalan besar sehingga ia tidak harus mengurung diri dan berhenti belajar melainkan harus tetap ke sekolah, bergaul dengan anak-anak yang lain, dan seterusnya. Perlawanan inilah yang lagi-lagi meminjam Foucault sebagai bentuk resistensi atas tekanan kuasa dari atas (setiap praktik kuasa akan ada perlawanan) atau konsep lain seperti yang diperkenalkan James Scoot sebagai ‘perlawanan orang-orang tertindas’.

Kutipan

Awalnya sang nenek yang lebih banyak merawatnya tak setuju. Dalam pikiran kolotnya apa yang dialami Fajrin berkaitan dengan mitos yang masih dipercayanya. “Kalau Tuhan mau Fajrin sekolah, dia pasti akan bisa melihat kembali.” Begitu katanya.

Tapi Fajrin kepala batu. Niatnya untuk kembali bersekolah sudah kadung membaja. Orang tua dan neneknya menyerah, membiarkan Fajrin menyisir jalan ke kota Makassar dan bergabung di sebuah SLB milik Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Tunanetra. Di SLB Fajrin berhasil menamatkan pendidikan dasarnya ketika seorang kawannya memotivasi dia untuk melanjutkan sekolah ke SMP umum. Fajrin awalnya gamang, tak berpikir akan bisa. Tapi teman lain semakin mendorongnya untuk bersekolah di SMP umum.

Komentar

Pilihan bersekolah di Sekolah Luar Biasa atau lebih kebelakang lagi yaitu alasan berdirinya sekolah model ini juga tak lepas dari kuatnya cara pandang ‘medik’ yang dianut aparatus pemerintah yang menganggap bahwa orang-orang yang memiliki kondisi tubuh, pikiran dan mental yang tidak sehat (kondisi medik) maka harus bersekolah di tempat yang berbeda dari sekolah pada umumnya (tempat orang-orang sehat, sempurna, normal, dan ableist). Bahkan yang lebih parah, menurut sejumlah informasi yang saya terima dari beberapa diskusi dengan aktivis difabel ada banyak pengelola SLB yang bersikap tidak serius mengelola sekolah ini dan menjadikan sekolah ini atau pola pendidikan segregatif ini sebagai alat pengumpul rente (pundi-pundi bantuan).

Kutipan

Di suatu hari di bulan Juli 2011, Fajrin menguatkan niatnya. Dengan diantar oleh orang panti dia akhirnya mendaftar di sebuah SMP umum seperti layaknya anak lain yang tak berkekurangan. Modal semangat saja ternyata tidak cukup, pihak sekolah awalnya memandang sebelah mata pada Fajrin yang datang dengan keterbatasannya. Mereka tak acuh dan seperti tak berniat menerima Fajrin.

Sekolah itu mengaku belum pernah menerima siswa tuna netra sebelumnya, dan karenanya mereka akan membahasnya dulu dengan pengajar dan kepala sekolah. Lama Fajrin menanti tapi tak ada kabar, satu per satu pengurus sekolah itu membuang muka dan tak memberi kejelasan pada nasib Fajrin.

Komentar

Nah, begitu kuatnya cara berpikir medik ini sebagai the Regime of Truth  juga menghinggapi para pendidik ini. Konsekuensinya adalah, titik persoalan selalu merujuk kepada sisi personalitas seseorang, bukan kepada sistem pendidikan yang seharusnya dirombak, pola pembelajaran yang mesti menyesuaikan dengan siswa didik, perlunya metode-metode dan alat-alat pembelajaran baru yang adaptif dan kapasitas guru yang perlu ditingkatkan. Bagi para pengajar konservatif semacam ini, anak buta, anak Tuli, Autisme, Sindroma Down, lambat dan kesulitan belajar (learning disabilities and difficult disabilities) atau dengan istilah negara ‘anak berkebutuhan khusus’ [padahal tentu saja setiap orang apalagi setiap anak adalah berkebutuhan khusus] harus bersekolah di sekolah luar biasa. Titik!

Akutmi cara berpikir semacam ini, nyaris tidak bisa move-on lagi kecuali ada advokasi dan pengorganisasian terhadap kedua belah pihak, murid dan pendidik.

Kutipan

“Karena sikap pihak sekolah yang tidak jelas itu saya akhirnya minta bantuan teman-teman di PERTUNI. Mereka juga yang akhirnya membantu saya, menjadi mediator sampai akhirnya saya bisa diterima di SMP itu.” Kata Fajrin dalam tulisannya.

Meski berbeda dan dianggap punya kekurangan, Fajrin toh tidak menyerah begitu saja. Bersaing dengan anak-anak lain yang lebih sempurna fisiknya dari dia tak membuatnya patah semangat. Fajrin memberi bukti, dia bisa menduduki rangking tiga umum mengalahkan ratusan murid lain yang tak punya keterbatasan fisik sepertinya.

“Meskipun saya harus menghadapi beribu tantangan dan menghadapi guru-guru yang  kadang tidak dapat memahami keadaan saya yang tunanetra ini, namun semua itu harus saya lewati.” Kata Fajrin. Lalu dia menutup dengan kalimat, “Karena hidup akan selalu indah apabila kita menyikapinya dengan hati yang teguh. Karena keterbatasan tak membatasi kita untuk dikatakan pantas.”

Komentar

Gagasan sistem pendidikan inklusi sepertinya belum tampak dalam rentetan kalimat di atas. Dari gambaran di atas, Fajrin pada akhirnya harus tetap menghadapi sistem pembelajaran berbasis ‘kenormalan’ sehingga ia sebenarnya mau tidak mau harus bekerja lebih keras dibandingkan kawan-kawannya yang lain yang sudah diuntungkan dengan desain pembelajaran sesuai kemampuan mereka. Fajrin berada dalam kepungan sistem pendidikan integrasi.

Kira-kira pihak sekolah setelah mendapat tekanan dari kawan-kawan Fajrin di Pertuni mengatakan, “Oke, kami dapat menerima Fajrin, tetapi there is nothing should be changed!  dan silakan masuk lalu fight dengan sistem kami!”

Dengan demikian, maka kondisi sekolah yang berpotensi menidakmampukan siswa itu sepertinya dianggap bukan sebagai masalah atau sebaliknya menganggap bahwa seperti itulah konsekuensi ketika Anda menjadi buta, berjuang lebih keras dan diperlakukan tidak setara. Kalau Anda sukses melewatinya, maka jadilah Anda orang paling luar biasa.

Kutipan

Andi Zulfajrin hanya satu dari sekian anak luar biasa yang saya temui hari itu. Di balik fisik mereka yang buat kita tak sempurna ternyata tersimpan semangat yang mungkin malah mengalahkan kita yang merasa sempurna. Mereka menantang jutaan rintangan, hanya agar diberi kesempatan sama dengan kita. Dihargai sebagai manusia dan diberi kesempatan sebagai manusia.

Komentar

Daeng Gassing di sini memilih diksi ‘perjuangan keras Fajrin’ dan bukan kepada ‘kejumudan berpikir para pendidik’ dan ‘kebodohan mereka untuk mengubah cara atau sistem pendidikan agar lebih inclusive seperti yang saya kemukakan di atas. Menurut saya, setiap murid bersemangat bagaimanapun kondisinya, tetapi karena desain sekolah yang tidak ramah pada perbedaan kemampuan seseorang yang membuat akhirnya Fajrin menjadi tampak (ditampakkan) luar biasa. Dalam cara berpikir masyarakat jauh sebelumnya, orang-orang yang memiliki perbedaan kondisi tubuh ini kerap dikategorikan sebagai ‘orang sakti’, alias ‘Luar Biasa’, atau the hero. Untuk cara berpikir seperti itu, maka sepertinya kalimat Einstein cukup mengena sebagai kritik, yakni “Everybody is a Genius. But If You Judge a Fish by Its Ability to Climb a Tree, It Will Live Its Whole Life Believing that It is Stupid”.

Kutipan

Fajrin dan teman-temannya membuat saya malu. Malu karena selama ini saya masih sering mengeluh tak puas pada apa yang terjadi di sekitar saya. Malu karena begitu mudahnya saya melewatkan kesempatan yang ada di depan mata, sementara mereka tak pernah menyerah mencari kesempatan hanya agar keberadaan mereka diakui.

Fajrin dan teman-temannya membuktikan kalau mereka adalah pemilik sesungguhnya atas cahaya terang dari kegelapan. Mereka menolak pameo bahwa orang tuna netra hanya cocok sebagai pengemis atau paling mujur sebagai pemijat. Mereka tidak mau itu, mereka berjuang mencari ilmu dan mengasah kemampuan dengan cara yang mungkin tak bisa dibayangkan oleh mereka yang merasa normal.

Dalam sebuah tulisannya yang dimuat di buku “Jurnalisme Plat Kuning; Makassar Nol Kilometer”, Ade Saputra berkata, “Ingatlah bahwa kami selaku para penyandang disabilitas adalah manusia yang dilahirkan ke muka bumi ini untuk dapat melakukan hal-hal yang sama dengan orang-orang normal pada umumnya.”

Sungguh sebuah semangat yang mampu meluruhkan kesombongan saya, mungkin juga kesombongan kita yang mengaku normal. [dG]

Komenter

Saya tidak mengomentari penutup dari tulisan Daeng Gassing, karena siapa tau adami pembaca yang mannoko-noko (menggerutu), ‘santai lalo mako!’ hehe.

Terima kasih atas tulisanta, Daeng! Salam inklusi[].

Ishak Salim, Ketua PerDIK

Please follow and like us: