Jika bisa belajar di sekolah umum, mengapa difabel harus ke SLB?

Nur Syarif Ramadhan (Aktivis Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan—PerDIK)

“BUTUH BERAPA PERTANYAAN yang harus saya ajukan agar Anda turut menyetujui pendapat saya bahwa sistem Sekolah Luar Biasa itu tidak sepantasnya ada di tanah Republik ini. Seharusnya setiap sekolah menerapkan sistem pendidikan inklusi. Setiap pendidik menempatkan persoalan kepada [penyesuaian] sistem pendidikan dan tidak menimpakan kesalahan atau persoalan kepada anak-anak dan kondisi dirinya.”

inclusion school

Begitulah bunyi salah satu paragrap dalam tulisan Ishak Salim, Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK). Sebuah pandangan yang sudah sepatutnya diyakini oleh semua kalangan di republik ini.

Sebagai seorang difabel, saya telah merasakan betapa besarnya perbedaan yang saya rasakan ketika menempuh pendidikan di sekolah eksklusif (SLB) dan ketika saya menempuh pendidikan di sekolah yang masih berusaha menerapkan sistem pendidikan inklusif (sekolah umum/regular).

Menurut cerita mama, saat saya berusia 3 bulan, mama melihat sebuah keanehan pada bola mata saya. Ada bercak putih di kedua bola mata yang menutupi cahaya yang dapat masuk ke dalam mata. Akibatnya, sejak saat itu, saya sudah tidak dapat melihat. Karena terbatasnya pengetahuan yang diperoleh pada saat itu, Mama hanya membawaku ke ‘sandro’ (dukun kampung), berkonsultasi tentang keanehan tersebut.

Lantas apa yang dukun itu nasihatkan pada Mama?

Sang dukun hanya memberikan segelas air kepada Mama dan berkata, “Teteskan air ini ke mata anakmu setiap hari, usai kau shalat magrib.” Begitu titah sang dukun.

Dua tahun lebih mama menjalankan perintah itu, yakin betul jika kasiat air sakti pemberian sang dukun dapat bereaksi. Tentu saja, perintah gila nan aneh sang dukun tersebut tidak berdampak apa-apa, hingga pada akhirnya mama pun pasrah.

Bagaimana kami mengetahui kalau yang menyerang mata saya itu Katarak?

Saat berusia 14 tahun, tepatnya di penghujung 2007, saya dipertemukan dengan seorang dokter spesialis mata, yang ketika itu anggotanya berkunjung ke SLB tempat saya bersekolah. Namanya dokter Habibah, dokter spesialis yang saat itu bekerja di klinik Orbita, Hertasning.

“Ini katarak, bu. Sudah parah. Usianya sudah belasan tahun. Hampir seusia dengan anak ibu.” Itu diagnosa awal dokter Habiba.

“Kalau mau disembuhkan, sudah tidak memungkinkan lagi. namun setidaknya, jika mata anak ibu dioperasi sekarang, mungkin penglihatannya akan membaik sedikit. Andai ibu berkonsultasi dengan dokter ketika pertama kali menemukan bercak putih di bola mata anak ibu, mungkin, penglihatannya bisa kembali normal.”

Kami memutuskan untuk melakukan operasi saat itu juga. Yang dikatakan dokter Habiba betul. Pasca operasi, penglihatan saya mengalami perubahan. Jika sebelumnya saya hanya bisa melihat cahaya, usai operasi, kini saya bisa melihat dengan jarak pandang kurang lebih dua meter. Saya bisa melihat dan mengenal benda dihadapan saya jika benda tersebut berjarak kurang dari dua meter. Jika lebih, saya sudah kesulitan. Begitupun dengan warna, kini saya sudah bisa membedakannya. Yang sulit adalah mengenal wajah. Sebelum ataupun setelah operasi, saya tetap tidak dapat mengenali wajah seseorang, jika orang tersebut tidak berbicara, atau mengeluarkan suara.

Kembali ke masa kecil.

Karena tidak dapat melihat secara sempurna, sejak kecil saya sudah merasa berbeda dengan anak lain. sejak berusia 4 tahun, saya terkadang bertanya, apakah saya bisa bersekolah seperti anak lainnya?

Saat itu, kebanyakan anak-anak seusiaku sudah bersekolah. Senin hingga sabtu, anak-anak sepanteranku itu berbondong-bondong ke taman kanak-kanak satu-satunya yang ada di kampung kami. Mamapun mencoba menyekolahkanku di TK tersebut. Namun, itu tidak berlangsung lama. Hampir tiap hari, saya mendapat masalah. Bukannya saya tidak mampu mengikuti sistem pembelajaran, melainkan banyak orang tua anak lain yang protes karena anaknya saya pukul. Sebenarnya, hal itu saya lakukan sebagai respon atas hinaan mereka.

Pada akhirnya, mama mengetahui jika ternyata ada sekolah yang dikhususkan bagi penyandang cacat (saat itu masih belum dikenal istilah disabilitas/difabel).

Sembilan tahun saya menempuh pendidikan di sekolah luar biasa, tepatnya di SDLB Negeri Somba Opu (SD) dan SLB A YAPTI Makassar (SMP). Namun, berkat bimbingan dan motivasi dari beberapa difabel lain, pada 2009, saya memberanikan diri melanjutkan sekolah di sekolah umum. Saat itu, saya mendaftar di SMA Negeri 1 Makassar, SMA Negeri 5 Makassar, dan SMA Negeri 6 Makassar.

Di sinilah saya mengenal istilah penolakan. Jauh sebelum Citacitata menyanyikan lagu ‘sakitnya tuh disini’, saya sudah terlebih dahulu mengetahui sakitnya di tolak. Berkat kesungguhan dan tekad yang menggelora untuk bersekolah di sekolah umum, akhirnya saya bisa meyakinkan kepala sekolah SMA Negeri 6 Makassar, untuk memberikan kesempatan bagi saya bersekolah di sekolah tersebut.

Sejak saat itu, saya bisa menilai perbedaan kualitas antara sekolah luar biasa dan sekolah umum. pertanyaan yang banyak di lontarkan oleh mereka yang belum tahu dunia difabel, khususnya di kota Makassar ialah, ‘bisakah  difabel bersekolah di sekolah umum?’ atau ‘bagaimana mereka mengikuti pembelajaran?’, ‘bagaimana mereka bisa ke sekolah?’ Dan seterusnya. Meskipun pertanyaan-pertanyaan tersebut telah berulang-kali kami menjawabnya baik melalui media, pemerhati, maupun difabel itu sendiri, pertanyaan-pertanyaan tersebut masih belum dianggap terjawab tuntas. Keraguan akan kemampuan difabel pun tetap berlangsung.

Baik, ikutilah cerita saya ini.

Sewaktu bersekolah di SMAN 6 Makassar, saya tinggal di asrama SLB  A YAPTI Makassar yang beralamat di jalan Kapten Piere Tendean. Ada yang tahu di mana itu SMA 6? SMAN 6 Makassar terletak di pinggir tol, Jalan Ir. Sutami (didekat Kawasan Industri Makassar).

sma 6 makassar

Nah, jarak dari asrama tempat tinggal saya dengan SMA 6 sekitar 9 kilometer. tetapi untuk menuju ke sekolah tersebut tak semudah yang teman-teman bayangkan. Pagi-pagi saya harus berjalan sekitar setengah kilometer melintasi jalan Kapten Piere Tendean, Jalan Gatot Subroto, lalu menyeberang di perempatan Teuku Umar – Jalan Sunu, dan menyeberang lagi menuju jalan Galangan Kapal.

Di situlah saya menunggu mobil Pete-Pete (angkutan umum) yang jalurnya memasuki jalan tol. Dari situ, saya naik mobil Pete-Pete sekitar 20 menit, turun di jembatan penyebrangan ketiga. Sudah sampaikah di SMA 6? Ternyata belum, bro. setelah turun dari mobil pete-pete, saya harus menyeberang lagi, kemudian memanjat tangga jembatan penyebrangan, melintasi area dalam tol lewat atas. Kemudian  turun dari jembatan, lantas sekali lagi harus menyeberang.

Sudah sampaikah di SMA 6?

Belum!

Dari situ, saya masih harus berjalan sekitar 40-50 meter untuk memasuki gerbang sekolah. Mudah kan? Tiga tahun saya menjalani itu. apakah itu sulit? Tidak kalau ada kemauan.

Hal yang sama juga saya alami ketika kuliah. Rumah saya terletak di perbatasan kabupaten Gowa-Takalar, atau tepatnya di wilayah Bontonompo. Sedangkan, saya berkuliah di Universitas Negeri Makassar yang terletak di Jalan Raya Pendidikan kota Makassar. bayangkan, sekitar empat tahun lamanya saya harus menempuh perjalanan sekitar 35 kilometer, hanya untuk membuktikan kalau seorang difabel juga mampu berkuliah.

Beberapa orang mungkin akan berkata begini, “tetapi kamu kan low-vision?” alias masih memiliki penglihatan. Bung, sebelum saya bersekolah di SMA 6, sudah ada dua orang tunanetra total yang sebelumnya pernah bersekolah di sana. Begitupun di Universitas Negeri Makassar, saya bukanlah satu-satunya difabel yang pernah berkuliah di sana.

Dari apa yang telah saya contohkan di atas, jarak bukanlah penghalang bagi difabel untuk menempuh pendidikan (yang sayangnya tak berlaku dalam hal asmara). Bagaimana bunyi kalimat bijak itu? there is a will, there is a way. di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Lantas bagaimana dengan sistem pembelajaran? Bisakah difabel beradaptasi dengan sistem pembelajaran di sekolah reguler?

Sewaktu saya di tolak menjadi calon menantu, eh, maksud saya calon mahasiswa, ketakutan terbesar pihak universitas terletak pada sistem pembelajaran. Umumnya, penolakan-penolakan yang diperoleh seorang difabel saat mendaftar di sekolah regular juga seperti itu. asumsi yang sering dijadikan senjata ialah, ‘kami belum pernah menerima siswa difabel’, ‘kami belum memiliki guru yang pernah memiliki pengalaman mengajar difabel’, ‘fasilitas sekolah/kampus kami belum lengkap’. Bagaimana mungkin persoalan-persoalan tersebut bisa terselesaikan jika sekolah/universitas tersebut belum pernah menerima peserta didik difabel?

Di sinilah dibutuhkan peranan difabel itu sendiri. Satu hal yang membuat saya sedih adalah, setiap tahun, jumlah SLB di kota Makassar terus bertambah. Bagi saya, hal ini akan membuat banyak difabel lalu tidak mau berusaha. Toh, jika bersekolah di SLB tidak membutuhkan usaha ekstra. Sudah gratis, dapat beasiswa pula. Tapi lihatlah perbedaan antara difabel yang hanya bersekolah di SLB dengan mereka yang bersekolah di sekolah regular.

Mari ikuti cerita saya lagi.

Apa serunya sih sekolah di SLB? Dulu, waktu di SD, selama 6 tahun, 12 cawu (saat itu masih dikenal istilah catur wulan) dan 6 semester, saya, tanpa ada yang mampu menyaingi, menduduki peringkat pertama secara terus-menerus. Kenapa? Karena siswa tunanetra di SDLB tersebut hanya saya. Hebat, kan? Bagi teman-teman difabel yang membaca tulisan ini, come on!, lanjutkan pendidikan di sekolah umum. Buat para pemerhati pendidikan, daripada mendirikan SLB, mending sekolah umum yang sudah ada dijadikan sekolah inklusif.

Di SLB, kurikulum yang digunakan disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Ini tentu berbeda dengan yang berlaku di sekolah umum. Di mana pada kurikulum pembelajaran, ada standarisasi pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik. Dengan melihat perbedaan mendasar tersebut, kita telah dapat melihat lemahnya sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah SLB jika dibandingkan dengan yang berlaku di sekolah umum.

Dengan prinsip ‘materi pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan peserta didik’, telah menghambat siswa difabel untuk mengembangkan dirinya. Hal tersebut pun semakin memprihatinkan jika melihat masih rendahnya kreativitas guru SLB. Sebagian guru SLB masih abai terhadap peserta didiknya. Tidak adanya standarisasi yang berlaku pada kurikulum SLB, telah membuat banyak guru SLB dapat mengajar dengan semaunya.

Jika ada sebuah materi pembelajaran yang tidak dapat dipahami oleh peserta didik difabel, sebagian besar guru SLB akan menarik kesimpulan jika siswa difabel tidak akan pernah mampu dalam memahami materi tersebut. Bukannya mencari solusi guna mengatasi permasalahan itu, mereka justeru berasumsi yang sama sekali telah mendiskreditkan kemampuan peserta didik difabel.

Pada mata pelajaran hitung-hitungan misalnya (matematika, fisika, kimia, dan akuntansi), sejauh ini guru SLB belumlah menemukan cara terbaik untuk mengajarkan mata pelajaran tersebut kepada peserta didik difabel netra. Dampaknya adalah peserta didik difabel netra yang melanjutkan pendidikannya di sekolah regular (semisal SMA), khususnya di kota Makassar, akan mendapatkan kesulitan pada mata pelajaran tersebut, mengapa? Karena sewaktu sekolah di SLB, pengetahuan dasar mereka terhadap mata pelajaran tersebut, sangat tidak memadai. Hal yang memprihatinkan justeru terjadi di sebagian SMA Luar Biasa yang saat ini lagi marak di kota Makassar. Para guru SLB, yang memang pada dasarnya tidak memiliki keterampilan yang baik dalam mata pelajaran hitung-hitungan, akan mengajarkan materi rendahan kepada peserta didik difabel.

Dari riset sederhana yang pernah saya lakukan di tiga SMA LB di kota Makassar, saya membandingkan antara materi pembelajaran yang saya dapatkan di SMA regular dengan materi pembelajaran yang saya peroleh di SMA LB (sebagai difabel sensorik, low vision). Hasilnya sungguh di luar dugaan. Hampir 50% materi pembelajaran yang peserta didik difabel tersebut dapatkan di SMA LB bahkan jauh lebih rendah dari materi pembelajaran yang diperoleh non-difabel di SMP regular.

Dengan temuan tersebut, apakah kita bisa menarik kesimpulan jika peserta didik difabel (khususnya difabel netra), tidak begitu menguasai mata pelajaran yang membutuhkan keterampilan berhitung?

Persoalan ini sungguh menarik untuk didiskusikan. Sayangnya, sebagian besar difabel netra pada saat ini, masih abai dengan persoalan tersebut. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, mereka tidak mau susah, lebih memilih untuk tinggal di lingkungan SLB, mereka berpikir: toh hidup kami telah susah sejak menjadi difabel, buat apa pula dipersulit dengan hal yang tidak bisa kami lakukan.

Bagi saya, Para difabel yang berpandangan seperti ini telah termakan dengan opini yang dibangun oleh guru SLB!

Jangan pernah meragukan kemampuan intelektual difabel. Saya, menyelesaikan kuliah di UNM dalam waktu studi 46 bulan, dan Indeks Prestasi Kumulatif 3,55. Sewaktu bersekolah di SMAN 6 Makassar, tepatnya di kelas XI, dari 35 siswa yang menghuni kelas, selama dua semester berturut-turut, saya menduduki peringkat pertama. Sahabat saya, Hendi Hogia (difabel netra lulusan Universitas Indonesia), juga memiliki prestasi yang tak kalah membanggakan. Sewaktu bersekolah di SMA negeri 2 Bukit Tinggi, ia berhasil mematahkan opini para guru SLB. Ia menjadi salah satu lulusan terbaik di sekolahnya, yang kemudian membuatnya diterima di Universitas Indonesia tanpa tes. Tahukah  kalian, apa yang menjadi mata pelajaran andalannya sewaktu SMA? Itulah mata pelajaran yang diasumsikan oleh guru SLB jika tunanetra tidak memiliki kemampuan dalam mata pelajaran tersebut, STATISTIK!

Jika punya kesempatan, saya ingin mempersilahkan para guru SLB, khususnya yang mengajar di SMA LB untuk melihat nilai rapor SMA dan Transkrip nilai S1 Hendi Hogia. Selama tiga semester belajar statistika di UI, Hendi Hogia selalu mendapat nilai A. hal yang bahkan sulit dicapai oleh mahasiswa non difabel saat ini.

Itu hanyalah prestasi biasa yang kami, para difabel miliki. Di luar sana, masih banyak prestasi yang diraih difabel lain yang tak kalah prestisius, yang dapat membuktikan bahwa secara intelektual, difabelpun tak ada bedanya dengan mereka yang non difabel.

Ketahuilah, bung, bahkan sudah banyak difabel asal Indonesia yang melanjutkan studinya di Australia dan  Amerika!.

Selanjutnya soal fasilitas. Seperti yang sudah saya katakan di atas, fasilitas menjadi salah satu senjata yang sering digunakan untuk mempersulit difabel untuk bersekolah di sekolah umum.

Lantas apa solusinya?

Mudah saja, cukup terima dulu difabel yang ingin bersekolah di sekolah regular. Itu saja dulu. Nanti setelah siswa difabel diterima, barulah pihak sekolah menanyakan apa saja kebutuhan, fasilitas apa yang dibutuhkan, apa yang harus dilakukan sekolah agar anak itu bisa mengikuti pembelajaran di sekolah tersebut. Kalau masih bingung, berdialoglah dengan lembaga-lembaga difabel atau pemerhati difabel. Dengan berdialog, saya meyakini akan banyak persoalan yang dapat terselesaikan.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah cerita pengalaman nyata yang saya peroleh sewaktu masih berkuliah. Simaklah baik-baik.

Saat itu, karena keperluan tugas akhir, seorang dosen pembibing menyuruh saya mencari data sekolah inklusif di Makassar. Hal pertama yang terbersit dalam pikiran saya waktu itu adalah saya harus ke kantor Dinas Pendidikan Kota.

Maka pergilah saya ke kantor Dinas Pendidikan mencari data yang diperintahkan. Kabar baiknya, semua pegawai Dinas Pendidikan saat itu memperlakukan saya dengan baik. Tetapi, ketika saya menanyakan data yang saya butuhkan, mereka mengatakan tidak memiliki data tersebut. Jangankan sekolah inklusif, bahkan data jumlah SLB di kota Makassar mereka tidak punya.

Saya berpikir positif. Mungkin saja mereka lupa di mana menyimpan datanya. Besok dan besoknya lagi, saya kembali berkunjung ke tempat itu, mencoba bertanya ulang. Hasilnya nihil. Mereka mengatakan tidak ada. Ini membuktikan, dalam hal pendidikan, pemerintah kota ini belumlah terlalu peduli dengan difabel.

Pada akhirnya saya berhasil mendapatkan data tersebut setelah melakukan kordinasi dengan dinas pendidikan propinsi. Itupun datanya merupakan data lama yang belum diperbarui. Demikianlah. Pemerintah tercinta terkadang hanya sok peduli sewaktu pilkada, dan menjadi hipokrit saat berkuasa. Begitupun dengan sebagian guru SLB, mereka seolah-olah paham sekali dengan dunia pendidikan para difabel, sok ahli dengan segala hal yang berhubungan dengan ke-difabilitas-an, tetapi kenyataannya, mereka hanya mencari keuntungan dengan cara mengeksploitasi para difabel tanpa mencari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi para difabel.

Kalau memang kalian peduli kepada difabel, mari terapkan segala peraturan yang menjamin kesetaraan bagi difabel. Kami tidak mau ada kepala sekolah yang menolak difabel dengan asumsi tak mendasar seperti ini, “kan sudah ada SLB? Buat apa sekolah di sekolah umum?”

Hentikan berasumsi, sekolahkan difabel di sekolah-sekolah inklusi sekarang juga!

(Bonto Langkasa hingga Minasa Upa, 25 maret 2017).

 

Please follow and like us: