Catatan Seri Diskusi Difabilitas I: Budaya Tuli

SEBELUM MENULISKAN CATATAN DISKUSI INI, saya mengirim satu pertanyaan kepada sejumlah kawan yang namanya ada dalam henpon-ku. Saya hanya mengambil satu nama dari setiap abjad yang ada. Dari A – Z saya mencari nama-nama kawan untuk menjawab pertanyaan ini.

Pertanyaannya sederhana saja, “Apa sajakah yang Anda ketahui tentang orang Tuli?”

Saya akan kutipkan sejumlah jawaban. Tidak seluruhnya, apalagi tidak semua kawan juga bersedia menjawab pertanyaan walau sudah membacanya.

“Orang tuli itu orang yang memiliki telinga dengan kemampuan yang kurang atau tidak mampu sama sekali mendengar suara atau bunyi. Orang tuli ada yang dialami sejak lahir yang biasanya bergandeng dengan ketidakmampuan berbicara atau tuna rungu. Ada juga faktor lain seperti sakit/penyakit dan usia lanjut.”

“Orang Tuli adalah orang yang memiliki cara dan metode pendengaran yang khas/berbeda dengan orang pada umumnya. Mereka mendengar dengan menggunakan metode isyarat gerakan mulut, gesture, mimik wajah, dan alat bantu pendengaran. Ini disebabkan, tidak berfungsinya sebagian atau keseluruhan organ pendengaran yang dimilikinya.”

“Tuli artinya kesunyian. Saya pernah mengalami ketulian akibat virus. Saat pemulihan saya melihat semua gerakan tanpa suara. Sunyi.”

“Ada 2 klasifikasi orang Tuli, yaitu Tuli total dan kurang pendengaran. Tuli total yaitu orang yang mengalami hambatan pendengaran secara permanen. Kurang pendengaran yaitu Tuli yang jika diberikan alat Bantu maka ia dapat mendengar. Orang Tuli berkomunikasi dengan bahasa minoritas yaitu bahasa isyarat, kosa kata yg kurang, dan pengetahuan tentang SPOK belum memadai.”

“Tuli tidak bisa mendengarkan suara layaknya orang kebanyakan. Biasanya diikuti dengan gangguan bicara.  Bagi kebanyakan orang tua butuh kesabaran ekstra menghadapi situasi ini.”

“Tuli adalah orang yang tidak bisa mendengar: karena bawaan lahir atau kecelakaan. Orang tuli tidak bisa menikmati pelayanan publik secara maksimal. Belum ada fasilitas khusus di ruang publik untuk orang tuli dan bisu.”

“Orang yang tidak bisa mendengar akan tetapi biasanya punya kepekaan indera lain yang sangat tinggi sehingga bisa menggantikan fungsi telinga untuk mengetahui sesuatu di sekitarnya walau tidak semuanya.”

“Ada kelainan di indra pendengarannya, baik karena bawaan sejak lahir, atau pengaruh dari luar. Tuli sejak lahir berkaitan dengan kemampuan komunikasi verbal seseorang (bisu), namun bukan karena pita suaranya, tapi karena tidak mendengarkan nada suara atau bahasa, maka jadinya kesulitan berbicara. Orang tuli bisa menggunakan alat bantu pendengaran. Kalau tuli sejak lahir saya belum tau apa alat bantunya atau apakah memungkinkan jika dioperasi.”

Jawaban-jawaban di atas hampir seragam, berada ditataran permukaan: menganggapnya sebagai gangguan fisik, bisa diatasi dengan alat bantu pendengaran, berbahasa isyarat, dan tidak bisa menikmati layanan publik secara setara.

Nah, Seri Diskusi bulanan ini tentu menjadi bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita terkait hal-hal yang mungkin sederhana pada awalnya namun ternyata amat kompleks pada kenyataannya.

Kepada kawan-kawan yang sudah menjawab, terima kasih.

***

WhatsApp Image 2017-04-16 at 12.27.53HAJJAH RAMLAH, AKTIVIS TULI SULAWESI SELATAN turun dari mobil pribadinya. Sebelum melangkah ke halaman Sekretariat PerDIK ia berpesan agar menjemputnya saat Magrib. Sore ini waktu sudah menunjukkan hampir pukul 4.

Ada sekitar 20 kawan dan partisipan yang sudah menanti kehadiran Ibu Ramlah pun bersalaman bergantian. Selain pengurus PerDIK, Direktur LBH Makassar, Aswandi dan staf LBH, Ali, hadir juga kawan dari Aksara Institute Bantaeng, jurnalis dan pegiat Disabilitas lainnya. Hanya yang pandai berbahasa isyarat yang mengajaknya berkomunikasi. Selebihnya hanya saling berbalas senyum. Rahman, direktur PerDIK langsung mempersilakan Ibu Ramlah menuju ruang tamu yang sudah ditata menjadi ruang diskusi, lesehan.

Diskusi sore ini adalah kali pertama PerDIK melaksanakannya. Ini adalah permintaan pengurus yang kebanyakan belum memiliki pengetahuan memadai terkait isu-isu difabelitas. Rencananya akan dibuat berseri. Untuk dua tema pertama, terkait dengan Difabel Sensorik, yang meliputi Tuli dan Buta/Low vision. Diskusi berseri ini didesain untuk mengantar pemahaman aspek-aspek difabilitas atau disabilitas kepada khalayak umum dan kemudian pada waktu lain yang lebih panjang dan dikelola lebih serius dapat mendalami setiap tema itu secara mendalam. Misalnya mendiskusikannya dari aspek medik, budaya, politik atau diskursus.

Pilihan tema ‘Mengenal Budaya Tuli’ kami pilih karena selama beberapa hari ini, PerDIK melalui Rahman Gusdur rutin berkomunikasi dengan kawan-kawan Gerkatin. Yakni saat Rahman membantu sejumlah persiapan dan saat kedatangan Michael Stein, seorang aktivis Deaf dan Hakim dari Amerika Serikat.

Rahman membuka diskusi dengan memberikan pengantar singkat mengenai PerDIK dan Seri Diskusi ini. Beruntung, Gerkatin mengikutsertakan salah seorang Penterjemah Bahasa Isyaratnya, Ciki. Bahasa verbal Rahman, yang tidak dapat didengar oleh Hajjah Ramlah, Arfan dan Bambang yang Tuli, langsung ditransfer menjadi bahasa isyarat. Ciki sempat memprotes Rahman yang dengan gayanya bicara cepat membuatnya kesulitan mengikutinya.

“Pelan-pelan!” ucap Ciki menegur Rahman sambil memeragakan gerakan silat. Semua tertawa. Rahman meminta maaf dan mulai bicara dengan lambat.

Setelah Rahman mempersilakan Ibu Ramlah, gantian Ciki yang menerjemahkan bahasa isyarat ke verbal. Hajjah Ramlah tak kalah gesitnya dalam berbahasa isyarat. Ia mengawali materinya dengan menceritakan pengalaman sebelum mengurus Gerkatin dengan mengikuti sejumlah pertemuan dan pelatihan. Gerakan tangan, jari, ekspresi wajah dan mata serta ucapan untuk menegaskan maksud isyarat tangan pun berayun silih berganti. Nyaris seluruh mata memerhatikan Hajjah Ramlah dan membiarkan gendang telinga mereka menangkap penjelasan Ciki. Memang begitu etikanya jika mendengarkan cerita Tuli. Kita harus fokus kepada pembicara dan bukan kepada penterjemah.

diskusi tuli 15 april 2017Ciki seorang penerjemah bahasa isyarat yang ciamik. Ia bukan Tuli tapi aktivis Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia, khususnya dari aspek Deaf Art. Tidak seperti beberapa penerjemah bahasa isyarat lain yang pernah saya temui, datar dan garing. Ia menerjemahkan gesture itu ke dalam bahasa verbal yang membuat pendengarnya menikmati penjelasan. Intonasinya persis serupa orang bercerita, nyaris tanpa jeda. Ia seperti sudah mengenali semua jenis isyarat yang diperagakan Ibu Ramlah.

Menurut Ibu Ramlah, para pengelola pertemuan dan berbagai pelatihan yang diikutinya itu sama sekali tidak memahami kebutuhan Tuli. Nyaris semua yang diikutinya itu tidak menyediakan bahasa isyarat sama sekali. Tinggalnya dirinya melongo tidak memahami apa yang disampiakan narasumber. Belakangan, saat desakan Tuli kepada publik untuk memahami pentingnya bahasa isyarat untuk menjamin aksesibilitas Tuli barulah saat ini ada kesadaran untuk itu.

Lebih jauh ke belakang, di saat ia masih anak-anak, orang tuanya juga sering memaksanya untuk berbicara atau mengikuti budaya orang bicara. Menurutnya, Tuli tidak menggunakan logika verbal. Kami tidak mendengar dan tidak bicara dengan mulut. Keduanya sudah membelikan berbagai alat bantu dengar, bahkan sampai ke Jakarta alat-alat mahal itu dibelikan. Bertahun-tahun lamanya, orang tua Hajjah Ramlah melakukan kekeliruan demi kekeliruan karena memaksanya untuk mengikuti budaya mainstream, oral.

Setelah dewasa, kini Hajjah Ramlah sudah bisa meyakinkan orang tuanya bahwa tidak ada masalah dengan ketulian ini. Ia kini bisa hidup mandiri tanpa alat bantu apapun. Ia pun sudah mendapatkan pengajaran bahasa isyarat dari kawan-kawan Tuli lainnya saat dia di Jakarta. Bahasa isyarat ini berbeda dengan bahasa isyarat yang dibuat oleh mereka yang berasal dari ‘budaya bicara’ yang penuh aturan-aturan linguistik serupa tata bahasa, SPOK dan seterusnya. Tuli menyebutnya Bisindo atau Bahasa Isyarat Indonesia, bukan SIBI yang dibuat oleh negara.

Bagi orang tua, Hajja Ramlah memberikan sejumlah saran. Menurutnya, deteksi dini perlu dilakukan oleh setiap ibu kepada anaknya. Jika anak tidak memberikan respon atas suara, maka harus segera memeriksakan ke dokter spesialis. Jika memang ada masalah dengan pendengaran, maka segeralah orang tua mempelajari bahasa isyarat dan mengajarkan kepada anaknya. Bahasa isyarat bagi anak Tuli adalah hak paling mendasar. Itulah bahasa ibu seorang anak Tuli. Jika terlambat diberikan, maka akses anak terhadap pengetahuan dan berbagai informasi dari dunia luar akan terhambat sama sekali.

Hajjah Ramlah menceritakan banyak pengalamannya dan Tuli lainnya dalam ranah publik. Mulai dari dunia pendidikan SLB maupun perguruan tinggi hingga urusan pengurusan kartu SIM bagi Tuli.

Hajjah Ramlah sesekali memberi kesempatan kepada Bambang dan Arfan. Dua kader Gerkatin yang masih kuliah di perguruan tinggi. Ciki juga sesekali menyesap air mineral melalui pipet bening yang ia tancapkan di mulut gelas pelastik.

Arfan berbagi pengalaman saat ia mengikuti tes wawancara untuk sebuah pekerjaan. Ia tidak ada masalah dengan tes tertulis maupun tes lisan jika saja tersedia penerjemah bahasa isyarat. Persoalannya adalah, pihak pemberi kerja ini tidak mempertimbangkan hal ini dalam menolaknya, selain bahwa ia Tuli. Menurut Arfan itu adalah tindakan diskriminatif yang dihadapi Tuli. Contoh lain ia paparkan di SLB. Menurut Ibu Ramlah maupun Bambang, materi pelajaran di SLB bagi Tuli itu jauh tertinggal dibandingkan sekolah lain. Hal ini dialami pula oleh Bambang.

Menurut Bambang, saat ia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, ia merasakan soal-soal itu sangat sulit. Akibatnya banyak soal ia kerjakan dengan menebak-nebak saja jawabannya. Baginya, materi pelajaran yang ia pelajari di SLB memang tidak berbanding lurus dengan materi di sekolah umum. Ini adalah diskriminasi bagi Tuli.

Bambang juga menceritakan pengalaman kuliah di kampus. Ia menceritakan sejumlah praktik eksklusi atau pengabaian mahasiswa Tuli. Ketidaktersediaan penerjemah bahasa isyarat di dalam kelas menjadi persoalan utama. Beruntung ia masih memiliki pendengaran yang lebih baik di telinga kirinya sehingga ia bisa menggunakan alat bantu pendengaran. Tetapi menurutnya, alat bantu ini tidak banyak membantu jika orang berbicara cepat dan membelakanginya. Jika orang berbicara lebih lambat dengan gerak bibir yang lebih ekspresif, maka ia bisa membaca gerak bibir itu dan sedikit bantuan dari alat pendengarannya.

Sebenarnya Gerkatin beberapa kali menyalurkan bantuan alat bantu mendengar bagi Tuli. Mereka pernah menyalurkan sebanyak 280 hearing aids. Tapi seperti ia ungkapkan di atas, tidak semua Tuli cocok dengan alat bantu itu. Sekarang ini ada banyak alat bantu yang dibuat oleh perusahaan kesehatan. Salah satunya adalah teknologi implantasi pada kepala bayi. Menurutnya, teknologi ini sangat berbahaya. Ia mengatakan bahwa sudah ada korban dari kegagalan metode implantasi ini.

Hajjah Ramlah juga mencontohkan sejumlah niat baik orang dalam memenuhi hak Tuli. Salah satunya adalah niat baik dari KPUD Takalar pada debat publik paslon bupati/wakil bupati Januari lalu. Telah tersedia penerjemah bahasa isyarat, namun letaknya di layar masih terlalu kecil sehingga masih sulit bagi Tuli untuk mengetahui ‘bunyi’ isyarat itu. Ibu Ramlah berharap pengelola TV mencontoh salah satu TV di Rusia atau sejumlah negara maju yang menyiapkan penterjemah isyarat dengan porsi ruang yang lebih lebar (50:50).

Dalam diskusi ini, kebetulah kawan dari Aksara Institute, Ita usai mengantar seorang ibu dengan anaknya berusia 13 tahun bernama Ilham. Ibunya membelikan satu alat bantu pendengaran kepada Ilham. Alat itu sudah terpasang di telinganya. Ibu Ilham diberi kesempatan untuk menyampaikan pengalaman memiliki anak Tuli.

Menurut Ibu Ilham, suhu badan Ilham saat masih berusia belasan bulan beberapa kali mengalami panas dan kejang-kejang. Pada usia 15 bulan suhu tubuhnya sangat tinggi yang menyebakan pendengarannya mengalami gangguan hingga menjadi Tuli. Tetapi karena ia tinggal di tempat yang jauh dari kota, di desa Labo di kabupaten Bantaeng, ia pun tidak mengetahui apapun terkait Tuli apalagi budaya Tuli. Barulah saat ini, setelah Ilham berusia 13 tahun ia dapat informasi soal alat bantu pendengaran. Ia mengleuhkan harganya yang mahal mencapai 3-4 juta sementara JKN atau BPJS yang ia ikuti hanya menanggung 1 juta rupiah.

Menurut Hajjah Ramlah, Ilham harus segera memperoleh pengajaran bahasa isyarat. Ia kembali mencontohkan bagaimana kedua orang tuanya bersusah payah membelikannya berbagai jenis alat bantu mendengar. Sementara itu, pandangan dari Bambang, Ilham harus bersekolah di SLB agar mendapatkan pengajaran bahasa isyarat, atau mendapatkan guru isyarat. Sekolah adalah penting bagi Tuli, simpul Bambang.

Diskusi ini diskusi yang berisi. Apalagi dengan beberapa pertanyaan yang disampaikan dari partisipan. Wawan dari LBH menceritakan bahwa mereka memiliki dua pengalaman pendampingan kasus di mana Tuli sebagai korban dan saksi. Pihak LBH mengalami kesulitan mengingat keduanya tidak dapat berbahasa isyarat—baik SIBI maupun BISINDO saat dihadirkan penerjemah isyarat. Tetapi menurut direktur LBH Makassar ini, kedua Tuli ini malah mengerti bahasa ‘isyarat orang tua’.

Pertanyaan lain terkait bagaimana pengalaman Bambang dalam mengakses dan membaca bahan bacaan ilmiah di kampus. Bukankah bahasa Tuli adalah isyarat dan tidak memiliki kaidah tata bahasa verbal subjek-predikat-objek-keterangan? Apalagi kosakata Tuli juga terbatas dan masih kurang bahasa ilmiah.

Bambang menjawab bahwa itu memang kendala berat yang dihadapi tuli, tetapi mau tidak mau, untuk memudahkannya mengakses pengetahuan luar, ia harus sering-sering membuka kamus untuk menambah kosakatanya.

 

Akhirnya, saat azan Magrib berkumandang, diskusi soal Tuli diakhiri. Rahman menyampaikan banyak terima kasih buat kawan-kawan Gerkatin dan partisipan dan terkhusus kepada Ciki yang sudah membuat diskusi ini akses bagi Non-Tuli. Tanpa kehadiran Ciki tentu diskusi ini tidak akan berlangsung baik.

Terima kasih kami kepada Tuli!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Please follow and like us: