Uang Baru dan Polemik terkait Aksesibilitasnya bagi Difabel

Oleh: Nur Syarif Ramadhan

SORE KEMARIN, SAYA MEMPOSTING sebuah berita dari salah satu media online di Makassar ke dinding facebook saya. Media tersebut mewartakan kegiatan Bank Indonesia yang mensosialisasikan pecahan uang terbaru kepada 48 difabel netra di salah satu SLB yang khusus membina difabel netra.

uang baru

Menurut media tersebut, pecahan uang terbaru ini cukup akses bagi difabel netra. Sehingga, ketika melakukan transaksi, difabel netra tak perlu lagi memeroleh bantuan dari orang lain atau ‘orang bermata awas’ jika ingin mengetahui jumlah nominal dari uang kertas tersebut. Cukup diraba, maka difabel netra akan mengetahuinya.

Media tersebut juga menjelaskan bahwa, “di setiap pecahan uang terbaru, ada kode yang berupa garis timbul di salah satu sisi uang. Jumlah garis tersebut berbeda-beda dari masing-masing nominal.

Lima menit usai saya memposting berita tersebut, handphone saya berbunyi. Sebuah notifikasi dari facebook. Dua menit kemudian, masuk lagi notifikasi dari messenger. Karena penasaran, saya lantas mengambil handphone, membuka kedua notifikasi tersebut.

Pertama, saya membuka notifikasi Facebook. Seorang aktivis netra menanggapi postingan saya tentang berita tadi.

“Apakah kau ikut dalam sosialisasi itu?”

Baru saja saya ingin menjawab pertanyaannya, si aktivis tiba-tiba melanjutkan komentarnya:

“Saya tidak percaya kalau uang baru itu aksesibel bagi difabel netra. Saya punya beberapa contohnya.”

“Apa dasarmu? Kenapa kau beropini kalau uang baru itu aksesibel?” si aktivis terus mencecarku. Saya memilih bungkam. Membiarkannya terus berkomentar.

Akhirnya saya membuka aplikasi Messenger, mengecek notifikasi selanjutnya. Lagi-lagi, seorang aktivis dari pulau seberang, lawan debat saya sewaktu pilpres, ikut menanggapi postingan saya:

“Opini yang anda posting di Facebook barusan sangatlah keliru. Atas dasar apa Anda mengatakan kalau uang cetakan terbaru itu aksesibel bagi difabel netra? Pernahkah anda meneliti? Anda termasuk kumpulan orang-orang yang melakukan pembohongan publik!” katanya bernada kebencian.

Saya memilih mengabaikan kedua komentar di atas dengan dua alasan. Pertama, mereka tidak teliti dalam membaca postingan saya. Kedua, Saat itu saya sedang mengejar tenggat waktu penyelesaian draf tulisan yang akan saya ikutkan pada lomba mengarang braille  ONKYO WBU AP ke-15 Tahun 2017. Lomba menulis ini secara teknis rumit. Sebenarnya saya sudah menyelesaikan tulisan sebanyak 1000 kata, namun saya masih harus membuatnya dalam versi braille secara manual. Dari tulisan saya versi dijital hanya 3 halaman, dalam versi braille menjadi 10 halaman. Bagi yang mengetahui bentuk huruf braile, tentu tahu mengapa jumlah halaman bertambah—Huruf braille adalah huruf timbul, maka ukurannya tidak dapat diperkecil atau sebaliknya. Saya butuh tiga jam lebih untuk mentransfer 1000 kata tersebut ke dalam bentuk braille dengan menggunakan kertas tebal dan reglet braille.

Saya kembali ke postingan facebook. Ada komentar baru dari akun lain:

“Bagi saya, dalam kondisi tertentu, uang cetakan terbaru dapat dikatakan aksesibel. Asal kondisinya masih baru, belum kusut. Tetapi, kalau uangnya sudah menjelajah ke mana-mana, dan bentuknya sudah mulai lecek, lusuh, dan kumal, kemungkinan besar kode tunanetranya akan hilang, atau sudah tak bisa diraba.”

Saya sependapat dengan pendapat di atas. Kuduga,si pemilik akun mungkin salah seorang difabel netra yang mungkin saja hadir dalam sosialisasi yang diwartakan media online tersebut. Satu jam lebih saya menunggu, berharap si aktivis lokal kembali berkomentar. Tetapi nihil. Saya menduga, mungkin pembaca layar di Handphone-nya sedang ngadat, atau mungkin dia juga menunggu sanggahan saya? Akhirnya saya memutuskan membalas komentarnya:

“Maaf, Kak,” saya memanggilnya kak, Karena umurnya memang lebih banyak dari saya, dan sewaktu di asrama, ia juga salah satu senior dalam pengaderan yang pernah saya ikuti. Kami juga cukup akrab, dan sama-sama aktif memperjuangkan tercapainya pemenuhan hak difabel khususnya di Makassar.

“Cobaki baca baik-baik postingan diatas. Itu bukan opiniku. itu berita dari salah satu media online yang saya share. Baca maki baik-baik. adaji itu nama medianya dan  orang-orang yang bilang kalau uang terbaru itu aksesibel.”

“tidak bisa ki juga paksakan ki itu pandanganta, Karena ada juga difabel netra yang merasa kalau uang yang baru sangat aksesibel buatnya.” Lanjutku.

Kutunggu beberapa saat, si aktivis tak jua merespon. Saya lantas mengalihkan perhatian ke inbox messenger, membaca ulang chat aktivis pulau seberang. Tapi saya sama sekali tak berselera membalasnya. Ia memang suka mendebat saya. Dalam satu forum tak resmi, kami pernah berdebat panjang lebar di Wisma PGI (Menteng-Tanggerang), soal Pendidikan luar biasa. Saat itu saya menggugat jurusan PLB sebagai jurusan yang tak becus mengatasi permasalahan yang banyak dihadapi difabel netra di sekolah reguler.

***

POLEMIK  UANG CETAKAN TERBARU ini memang menarik untuk di diskusikan. Apalagi kalau berbicara “ke-aksesibilitisannya” bagi difabel netra

Setahu saya, sebelum pemerintah meresmikan dan mencetak uang seri terbaru ini, mereka pernah mengundang beberapa perwakilan difabel netra di Jakarta untuk mendiskusikan model dan desain terbaik agar kelak desain uang tersebut bisa diakses bagi semua orang.

Beberapa difabel netra yang hadir dalam diskusi tersebut berpendapat bahwa: ke-aksesibilitasan uang kertas dapat terpenuhi apabila Bank Indonesia melakukan perubahan pada bentuk dan ukuran uang. Dengan kata lain, tiap-tiap nominal uang memiliki bentuk ataupun ukuran panjang yang berbeda-beda. Misalnya: pecahan uang 1000, ukuran bentuk dan panjangnya berbeda dengan uang 2000. Begitupun dengan pecahan 5000 berbeda bentuk dan ukuran panjangnya dengan pecahan 10000. Semakin besar nilai uangnya, maka ukuran panjangnya pun akan semakin bertambah, seperti yang diberlakukan pada uang di Hongkong.

Akan tetapi, ketika uang seri terbaru dicetak dan diedarkan, pemerintah masih menggunakan sistem kode bagi difabel netra. Hal yang sebelumnya telah diberlakukan pada uang lama. Kabar baiknya, jika pada uang lama kode yang katanya disediakan sama sekali tidak terdeteksi, pembaruan kode yang diterapkan pada uang baru, sudah lebih terasa keberadaannya. Kodenya berupa garis kasar mungil yang di posisikan di sisi kanan uang. Tiap-tiap uang memiliki jumlah garis yang bervariasi.

Pada pecahan 100.000, jumlah garisnya ada 2. Selanjutnya pada pecahan 50.000 jumlah garisnya bertambah. Semakin kecil nilai uangnya, maka jumlah garisnya semakin banyak.

Apakah ini dapat diakses?

Kalau pembandingnya uang seri lama, tentu saja seri terbaru lebih aksesibel. namun, jika diteliti lebih lanjut, tetap saja uang seri terbaru ini menyisakan beberapa kekurangan.

Dari diskusi lepas yang pernah saya ikuti di grup Whats App kartunet, yang melibatkan beberapa intelektual difabel netra, yang bahkan diantaranya sempat berdiskusi dengan pemerintah, ditemukan sejumlah kendala dalam seri uang terbaru ini.

Yang paling urgen adalah kode itu sendiri. Garis kasar mungil yang diletakan di sisi kanan uang terbaru ini sangatlah rentan untuk tidak terdeteksi. Kalau uangnya masih baru, maka kode ini akan mudah diraba. Tetapi kalau kondisi uangnya sudah lecek, lusuh, dan kumal, kode tersebut secara perlahan akan menghilang.

Sebuah eksperimen dilakukan oleh Muhammad Luthfi, Difabel Netra yang saat ini kuliah di STKS (Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial) Bandung. Untuk menguji kode garis kasar mungil pada uang seri terbaru, ia mencoba merendam semua nominal uang terbaru mulai dari yang terkecil: 1.000, hingga yang paling besar nilainya: 100.000. usai dimandikan, semua garis kasar mungil yang sebelumnya terdeteksi, menghilang. Kesimpulannya ialah, jika seri uang terbaru ini tidak sengaja terkena air, maka kode garis kasar akan menipis lalu merata.

Demikianlah. Dibutuhkan perjuangan yang ekstra keras agar difabel bisa mengakses segala fasilitas yang negara ciptakan.

Pemerintah semestinya harus lebih jeli dalam memandang masalah ini. Telah banyak kasus yang pernah dialami difabel netra Karena ketidakmampuannya mengenali nilai nominal uang kertas yang mereka desain. Sering terjadi, difabel Netra dikibuli oleh orang lain saat bertransaksi.

Teman saya, sebut saja Tapa, (difabel netra total yang saat ini berprofesi sebagai pedagang keripik keliling), pernah mengalaminya. Saat itu ia sedang keliling menawarkan dagangannya di daerah Bumi Tamalanrea Permai. Seorang mengaku pembeli mendekatinya. Ia meminta keripik sebanyak lima bungkus keepada Tapa. Perbungkusnya, keripik itu dihargai 8000 rupiah. Si pembeli selanjutnya menyerahkan selembar uang 20.000 sambil berkata:

“Ini uang lima puluh. Kita ambilmi kembaliannya.” Dalam hati teman saya ini sudah riang. Total harga dari 5 keripik itu Cuma 40.000. Artinya si pembeli masih memiliki 10.000.

Teman saya ini baru menyadari kalau ia dikibuli saat dagangannya telah habis dan pulang ke rumah. Saat ia menghitung uang hasil penjualannya, ia kehilangan 20.000. Uang 50.000 yang diberikan si pembeli tadi telah berubah jadi 20.000. Ah, andai uang itu dapat diakses, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.

Saat ini, difabel netra sedang berusaha menemukan solusi agar alat tukar ini bisa lebih mudah dikenali. Salah satunya adalah dengan menggunakan aplikasi berbasis Android dan IOS. Sejauh ini, yang saya ketahui, ada beberapa pengembang aplikasi berusaha menciptakan program yang dapat membantu difabel netra dalam mengenal uang kertas.

Dua aplikasi pembaca uang pernah saya uji cobakan pada handphone Xiaumi Redmi4 Prime dan Samsung Galaxi Grand Prime milik saya. Nama aplikasinya: Android Money Reader (AMR), dan Blind Droid Wallet. Kedua aplikasi ini mudah di temukan di Play Store. Cara menggunakannya mudah. Install aplikasi ini terlebih dahulu. Setelah terinstal, aktifkan aplikasinya, lalu arahkan kamera belakang handphone ke uang kertas yang kita punyai. Setelah beberapa saat, akan ada suara robot yang akan menginformasikan nilai nominal uang tersebut. Gampang kan? Sayangnya, kedua aplikasi berbasis Android ini belum mampu mengenali uang keluaran seri terbaru.

Demikianlah, bagi difabel netra, kami harus kreatif dalam mengakali barang ciptaan pemerintah yang tidak mempertimbangkan aspek aksesibilitasnya secara serius. Tetapi, kreativitas juga menuntut adanya kemampuan mengenali dan mengakses teknologi terkini.

Inilah salah satu tugas utama yang juga harus dilakukan, yakni bagaimana agar difabel netra itu dapat mengikuti perkembangan teknologi terbaru. Difabel netra, apalagi jika ia seorang aktivis gerakan sangat perlu meningkatkan kapasitas teknisnya, demi memudahkan mereka dalam berinteraksi dan berpartisipasi penuh di tengah persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya permasalahan difabel netra[].

Bonto Langkasa, 13 April 2017

 

Please follow and like us: