PERBINCANGAN SOAL TULI DAN GERAKAN DIFABEL

tuli2

Seorang mahasiswi Pascasarjana UGM asal Bali bertanya beberapa hal terkait tuli kepada saya. Ia memperkenalkan diri sebagai Ketut Ari dan meminta saya berdiskusi jika berkenan. Saya mengusulkan diskusi via online karena saya sedang di Makassar. Ia setuju.

Kami lalu mengatur jadwal besok malam pukul 21.00 waktu Indonesia Barat.

Esoknya, pukul 21.44 saya membuka pesan di telepon selular saat perjalanan menuju rumah.

“Saya sering bingung kalau mendengar apa itu Hak Tuli dan kesetaraan, menurut pandangan kakak yang sudah menjadi bagian dr pergerakan difabel bagaimana?”

Itu pertanyaannya yang pertama. Lalu saya membaca pertanyaan berikutnya.

Apakah pergerakan difabel itu lebih baik diperjuangkan oleh teman difabel atau yang bukan difabel?

Sejauh mana seandainya teman yang bukan difabel boleh masuk dalam pergerakan yang diperjuangkan oleh teman difabel? Sepenuhnya, setengah atau bagaimana?

Bagaimana penelitian yang berkembang terkait difabel di indonesia? Apakah penelitian tersebut sudah terlihat berguna untuk perkembangan pergerakan difabel di Indonesia?

Ia menutup pertanyaannya dengan ucapan “Terimakasih, Kakak.”

Saya lalu melirik sisi kanan bawah. Jam menunjukkan pukul 21.50 waktu Makassar, dan itu berarti belum pukul 9 malam di Yogyakarta.

“Belum jam 9,” ujarku.

Setiba di rumah, saya menyiapkan dan membuka laptop. Jaringan wifi lalu terkoneksi otomatis. Saya lalu membuka laman facebook dan membaca kembali pertanyaan-pertanyaan tadi.

Pertanyaanmu sebenarnya terlalu luas, sehingga sulit menjawabnya secara sekaligus.

Pertama soal Hak Tuli, sebelum saya menjelaskan lebih jauh, mungkin kamu perlu menjelaskan dulu, kenapa kamu ingin mengetahui soal hak tuli? Lalu seberapa jauh kedekatanmu dengan Tuli sejauh ini? Hal ini perlu saya tahu supaya saya tak perlu menjelaskan untuk hal-hal yang mungkin kamu sudah tahu soal Tuli.

Ketut Ari menjawabnya.

Kenapa saya ingin mengetahui karena pertama, saya mempunyai keponakan Tuli yang sedang beranjak dewasa. Saya melihat teman-temannya sedang melakukan gerakan sosial yang memperjuangkan hak Tuli. Nah, sebagai salah satu orang yang memiliki keluarga Tuli, saya ingin tahu hak Tuli itu sebenarnya apa dan bagaimana saya sebagai bibinya membangun relasi yang tidak berpihak sebelah (misalnya ke arah ‘Orang Dengar’ saja). Saya punya ketakutan kalau saya sedang melanggar (hak Tuli) tersebut dalam lingkup keluarga.

Lalu, kedekatan saya dengan Tuli belum terlalu dalam, kak. Saya memiliki beberapa teman Tuli dan seorang keponakan, itu saja. Beranjak dari keponakan dan beberapa teman Tuli, saya beserta 3 teman sedang membuat program beasiswa khusus difabel. Apakah dengan membuat beasiswa khusus difabel termasuk kategori mengkotak-kotakan lagi (misalnya apakah bertentangan dengan semangat inklusi?)

Membaca jawabannya dari seberang sana, saya pun meresponnya.

Ok, saya mulai paham arah pertanyaanmu dengan posisimu seperti itu.

Kawan Tuli punya hak sebagaimana manusia dan siapapun bisa membela atau membantu membela agar hak itu dipenuhi oleh negara. Menurut slah satu pejuang Tuli dari Amerika Serikat yang pernah menjadi seorang presiden di salah satu kampus di US, kalau tidak salah Gallaudet University mengatakan bahwa satu-satunya yang tidak bisa dilakukan oleh Tuli adalah mendengar. Jadi karena tidak bisa mendengar, maka dia tidak berbicara secara oral, tetapi dengan isyarat.

Untuk itu, hak pertama seorang Tuli adalah bahasa isyarat itu. Dengan bahasa maka  mereka bisa berkomunikasi dan kemudian melahirkan satu budaya khusus yang berbeda dengan budaya manusia kebanyakan. Gerakan Tuli yang cukup radikal menyebut diri mereka bukan person with disability, mereka adalah pengguna bahasa minoritas atau linguistic minority. Persoalannya sebagai manusia hanyalah karena bahasanya tidak dipahami oleh kebanyakan manusia yang berbahasa oral dengan lisan.

Jadi, makanya penggunaan istilah difabel atau ‘berbeda kemampuan’ akan lebih relevan bagi Tuli ketimbang penyandang disabilitas, di mana kawan-kawan lain seperti buta maupun difabel kinetik lainnya memprotes istilah penyandang disabilitas itu. karena bagi para aktivis difabel ini, kondisi tubuh mereka bukanlah alasan untuk menyebut mereka tidak mampu (disable).

Nah, persoalannya kemudian, di tengah perkembangan peradaban (bahasa, pengetahuan, teknologi, pembangunan, pendidikan dst) yang disusun oleh “orang-orang normal” dan pandangan mereka “bahwa hanya orang normal yang ada di dunia ini” lah yang kemudian membuat sejumlah desain sosial menjadi tidak akses bagi Tuli. Misalnya dari aspek bahasa tulis yang merupakan pengejawantahan dari budaya verbal (oral) dengan tata bahasa yang diatur sedemikian rupa, semisal rumus penulisan SPOK (Subjek, Predikat, Objek dan Kata keterangan). Nah rumus ini tidak begitu berlaku dalam bahasa isyarat Tuli.

Oh iya, ada dua bahasa isyarat (SIBI dan Bisindo). Bisindo yang dibuat oleh aktivis Gerakan Tuli tidak menggunakan rumus SPOK itu dan kemudian menjadi kesulitan memahami tulisan dengan struktur kalimat “serumit” itu. Ketika mereka tidak memperoleh pengetahuan terkait tata bahasa Indonesia, maka mereka akan kesulitan meraup pengetahuan dari buku-buku dan media literasi lainnya.

Ari menyahut, kenapa kakak mengatakan gerakan Tuli radikal? Apakah ada kategorisasi pergerakannya Kak?

Ya, Radikal karena mereka memutuskan mendefinisikan sendiri identitas mereka. Selama ini pihak luar (biasanya negaralah yang mendefiniskan atau melabeli warganya dengan kategori tertentu). Misalnya di Indonesia, mereka disebut Penyandang  cacat, penyandang Tuna Rungu atau Tuna Wicara. Di sisi lain, mereka lebih suka menyebut diri mereka Tuli. Bagi orang “Normal”, istilah Tuli tidak sopan, bagi Tuli, istilah tuli sudah tepat dan tidak berkonotasi jelek. orang normal kemudian membuatkan istilah yang lebih halus yang dipetik dari bahasa sangsekerta, yakni tuna rungu (tuna netra, tuna daksa, tuna grahita dst).

Mereka juga membuat bahasa isyarat  sendiri dan berlaku secara lokal. Mereka menyebut bahasanya BISINDO yang kemudian membedakannya dengan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang diproduksi oleh negara melalui apartusnya.

Lalu soal istilah difabel.

Istilah ini memang sudah digunakan terlalu jauh. Jika dulu dipakai sebagai wacana tanding atas konsep kecacatan (yang terlalu medik dan bersifat individual), maka istilah difabel itu lebih merujuk kepada rights based dan social model atau pendekatan sosial. Tahun 1996 istilah tanding ini didiskusikan oleh Dr. Mansour Fakih (aktivis gerakan sosial) dan Setia Adi Purwanta (aktivis difabel netra) di Yogyakarta. Arti difabel adalah ‘berbeda kemampuan’ atau differently abled yang artinya bukan ketidakmampuan sebagaimana makna dari dis-able.

Tetapi istilah ini saat dibuat pertamakalinya tidak terlalu memusingkan pemaknaannya yang kemudian semakin meluas. Misalnya begini, kalau arti Difabel itu adalah berbeda kemampuan, maka bukankah semua orang memiliki perbedaan kemampuan? pertanyannya, apakah difabel itu adalah kata lain saja dari disabel, ataukah ia sebuah kualitas diri seseorang?

Saat istilah ini dibuat, di Eropa maupun di Amerika pemilahan perdebatan soal istilah sudah banyak terselesaikan berkat desakan gerakan difabel disana.

Misalnya, di Barat, ada 3 istilah dipakai jika mendiskusikan isu ini, yakni impairment, disability, dan handycap. Impairment adalah kondisi medik sehingga seorang harus diobati jika sedang sakit. Sebutlah ia berumur 5 tahun sebagai anak sehat, namun tiba-tiba sebuah penyakit atau virus menyerang matanya sehingga mengalami kebutaan. Fase ini: sakit hingga sembuhnya (keluar dari rumah sakit atau berhenti rawat jalan) disebutlah ia impairmet. jika karena impairment lantas dia sembuh dengan konsekuensi menjadi terganggu pendengarannya atau tuli maka tentu pertama-tama dia harus belajar bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi, atau belajar membaca gerak bibir. Jika dia tidak memiliki kemampuan bahasa isyarat maka dia disebut disabilitas. Nah, dia akan disebut handycap jika misalnya dia Tuli, Bisa bahasa isyarat, tetapi rupanya ketika pergi sekolah di SD, tak ada satupun guru maupun anak sekolah yang bisa bahasa isyarat sehingga ia kesulitan bahkan gagal berkomunikasi dengan kawan maupun pengajarnya.

Lalu, jika menggunakan konsepsi ini, kapan seseorang disebut difabel? Menurut saya, seseorang disebut difabel adalah adalah di level di mana ia sudah memiliki kemampuan teknis dan berhak mengakses berbagai layanan publik.

Catatan tambahan—Saat  ini, dalam studi disabilitas, konsep ‘disabilitas’ sudah menjadi konsep payung ketika berbicara soal ‘difabel’. Jadi dikusi lebih lanjut adalah seberapa banyak kapabilitas seorang difabel itu terpenuhi dan seberapa jauh pemungsian (functioning) kapabilitas itu dialirkan sebagai kontribusi difabel di tengah-tengah masyarakat—

Tetapi bagi saya, ini pendapat pribadi hasil refleksiku, istilah difabel bukan lagi sebuah ‘wacana tanding’ sebagaimana pertamakali ia diperkenalkan. Dia sudah merupakan identitas gerakan. Jadi karena dia identitas, maka tidak ada kaitannya lagi apakah ia “penyandang disabilitas” atau “bukan”. Jadi saya walaupun secara medik dianggap sehat dan tidak punya gangguan fungsi tubuh maka tetaplah seorang aktivis difabel, karena saya ada dalam putaran roda gerakan sosial yang sedang bergerak ini. Jadi difabel bukan lagi kata ganti dari penyandang cacat atau disabilitas, tetapi orang yang berjuang meperjuangkan aksesibilitas khususnya bagi difabel dan melawan ideologi abelisme (ableism) yang mendekam di kepala-kepala para pegambil kebijakan.

Jadi, tidak ada masalah jika kita (sebutlah “non-difabel” ini) ingin berkontribusi kepada difabel dalam gerakan yang mereka bangun atau terlibat di dalamnya.

Saya menunggu sesaat dan tak ada respon.

“Sudah tidur ya?” tulisku dan menuju dapur untuk menyeduh segelas kopi Marasa dari Enrekang, Sulawesi Selatan. Saya suka rasanya yang lembut.

Secangkir kopi yang masih kuaduk kuletakkan di meja tepat di sisi kiri laptop. Mataku tertuju ke inboks pesan.

Belum kakak, masih menyimak ha ha ha

Saya lalu mengetik lagi.

Saya baru habis bikin kopi, dan sial, yang tersisa tinggal kopi Kapal Api, padahal biasanya saya minum kopi Asli Sulawesi. Kopi Kapal Api rasanya berkarat! tapi saying, tidak ada pilihan lain hahaha

Ari membalas.

Haha saya malah tidak bisa ngopi kak. Sesak nafas.

Ia melanjutkan lagi kalimatnya.

Saya pernah dengar bisindo dibuat karena sibi itu dibuat negara/orang dengar, apakah benar begitu kak?

Iya, benar. Sibi terlalu rumit, sementara Bisindo adalah benar-benar menggunakan isyarat dan tidak rumit bagi penggunanya. Bisindo di setiap daerah menjadi bahasa ibu bagi setiap Tuli.

Tetapi sebenarnya, pada kenyataannya, SIBI dan Bisindo sering digunakan bersama-sama.

(tapi jujur, saya tak begitu paham bagaimana porsi SIBI dan Bisindo dalam percakapan sehari-hari. Yang jelas, setiap Tuli yang belajar di SLB akan dapat pelajaran SIBI.

Lalu komentar Ari, apakah pergerakan BISINDO dibantu oleh relawan dengar? Artinya mirip dengan perkembangan SIBI yang dibuat bukan sepenhunya dari orang Tuli sendiri? Maksudnya hal-hal soal tuli apakah hanya bisa direspon oleh tuli saja?Mungkin/tidak mungkin?

Menurutku, tidak relevan lagi bicara kemurnian gerakan berbasis Tuli – Non-tuli, atau difabel dan non-difabel. Pengkotak-kotakan berpikir dan bertindak seperti itu adalah warisan Rezim Orde-Baru yang memilah-milah orang ke dalam beberapa kategori.

Ari, Kalau ada Tuli yang menyinggung soal kemurnian itu, maka ia harus cepat-cepat move-on!

Non Tuli seharusnya bisa berjuang bersama-sama dengan Tuli untuk memperjuangkan HAM. Sebagaimana Tuli bisa memperjuangkan hak-hak warga buta, atau hak-hak komunitas marjinal misalnya petani Kendeng dari ekspansi korporasi semen.

Ari bertanya lagi.

Kak, aku pernah pingin tahu linguistik bahasa isyarat BISINDO, tapi yang boleh tahu rupanya hanya relawan dari komunitas itu. Apakah itu merupakan pengeklusifan komunitas?

Ya, itu sikap eksklusif, jawabku singkat.

Saran dong kak kalau berhadapan dengan masalah eksklusif tersebut?

Seharusnya komunitas Tuli tidak seeksklusif itu. Jika banyak orang pahama bahasa isyarat Bisindo, maka akan semakin baik. Seorang kawan dari SIGAB, Ismail saat ini sedang merampungkan aplikasi signinteraktif  di mana para relawan penterjemah bahasa isyarat (sibi maupun bisindo) bisa membantu penggunanya untuk menterjemahkan dua bahasa berbeda: oral dan isyarat.

Itu artinya bahasa isyarat akan dipakai dan siapapun terbuka untuk bisa mempelajarinyan. malah, seharusnya BISINDO juga memiliki kamus dan selalu diupdate. coba bayangkan jika jumlah kosakatanya sudah menyamai kamus manusia berbahasa oral.

Kami lalu berbincang soal SIGAB dan bagaimana saya banyak belajar dari kawan-kawan aktivis yang berpengalaman di lembaga ini. Ia lalu tertarik mau belajar di SIGAB. Saya memintanya ke sana.

“Nah, terakhir soal penelitian,” ketikku lagi.

Sebuah gerakan difabel itu tidak dilakukan dengan hanya teriak-teriak saja. Di SIGAB, kerja penelitian merupakan dapur gerakan. tanpa penelitian, maka kemampuan membaca situasi akan lemah dan kelemahan itu berimplikasi pada lemahnya solusi yang dipilih untuk menyelesaikan permaslaahan yang dihadapi difabel.

Jadi, penelitian yang dilakukan itu mencakup aspek teknis dan juga konseptual-teoritik. Beberapa penelitian difabel juga melahirkan satu ‘model’ menangani masalah difabel misalnya saat mereka berhadapan dengan hukum, atau model pmebelajaran bagi difabel mental-intelektual terkait pendidikan seks sejak usia dini, atau model deteksi dini bagi balita-balita dan seterusnya.

Ada juga riset melihat cara pandang yang digunakan oleh aktor-aktor dalam mengatur soal disabilitas. Misalnya soal bagaimana negara atau perusahaan yang terlalu mengagungkan perspektif medik mengatur difabel. Salah satu implikasinya misalnya ketentuan ‘sehat jasmani dan rohani kalau mau jadi pejabat publik. Lalu pertanyaannya adalah apakah difabel itu orang sakit atau bukan? atau apakah orang buta yang mau naik pesawat harus menandatangani surat pernyataan atau inform consent setiap mau naik pesawat karena dia dianggap sebagai sakit? dll dll, jadi penelitian dalam gerakan difabel adalah bagian dari kerja pengorganisasian ini.

Saya menuntaskan kalimat itu. Malam sudah larut di sini.

Tak ada respon.

Saya mengetik, Aih, Ari tidur lagi.

Buru-buru ia membalas, ada kata typing….. di inboks.

Belum tidur kak hahaha

Sudah terjawab semua toh? kalau kamu tidak puas, kamu ke SIGAB saja, nanti kenalan sendiri dengan teman-teman di sana.

Selebihnya obrolan ringan sampai akhirnya dia menyerah dengan kalimat ia sudah mengantuk[]

Ishak Salim

Makassar, 9 April 2017

Please follow and like us: