Difabel Kuliah di Perguruan Tinggi, bisa?

Dapatkah Difabel kuliah di perguruan tinggi?
Untuk menjawabnya tak semudah dengan sekadar menjawab ‘dapat’ atau ‘tidak dapat’. Kalau dapat, bagaimana caranya? kalau tidak dapat, mengapa?

Dengan terpaksa, kita harus memulainya dengan melakukan serangkaian diskusi di sejumlah tempat dan beragam orang berdasarkan kapasitasnya masing-masing.

17632239_1549490345063448_2650622959075959719_o

Kali ini, PerDIK dan Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Hasanuddin membangun sebuah inisiatif untuk memulainya. Mungkin kita bisa memulai dengan hal-hal yang paling mendasar, misalnya realitas atau pengalaman difabel mencari ilmu di berbagai jenjang pendidikan, sebutlah di Makassar. Atau terkait kebijakan pendidikan di Indonesia yang mengatur hak-hak difabel atas pendidikan dan bagaimana negara/pemerintah memenuhi kewajiban menyiapkan ruang pendidikan bagi warga difabel. Atau bahkan ke persoalan siapakah yang dimaksud difabel dan bagaimana orang-orang, mulai dari keluarga, kerabat sampai tetangga dalam komunitas maupun masyarakatnya memikirkan pendidikan bagi difabel.

Tetapi, tentu kalian bisa menyumbangkan pendapat maupun pemikiran yang lebih kompleks terkait isu pendidikan dan difabel ini. Untuk itu, kami mengundang kawan-kawan sekalian untuk hadir dalam diskusi kali ini.

Tempat: Taman Sospol Unhas
Tanggal: Rabu, 29 Maret 2017
Pukul: 15.00 – selesai

Narasumber:
1. Abd Rahman Gusdur (Direktur PerDIK)
2. Nur Syarif Ramadhan (aktivis difabel PerDIK)

Please follow and like us: