Kekerasan Seksual Anak-Gadis Difabel dan Sejumlah Kekhawatiran yang Harus Terjawab!

Ishak Salim*

sexual abused

PROVINSI SULAWESI SELATAN harus masuk sebagai daerah darurat pemerkosaan terhadap anak dan perempuan difabel. Bayangkan, tak sampai 3 bulan terakhir ada 3 kasus pelecehan seksual terhadap perempuan difabel di Sulawesi Selatan, yakni Makassar, Soppeng dan Bulukumba mencuat di media. Tidak menutup kemungkinan, ada banyak kejadian serupa luput dari liputan media. Bahkan saat Anda membaca tulisan ini, juga tak menutup kemungkinan pelecehan seksual bagi difabel sedang terjadi.

Di awal tahun, Januari 2017, media massa baik cetak maupun online memberitakan peristiwa di mana seorang buruh pasar yang tertangkap basah sedang mencabuli seorang anak-gadis bisu-tuli di gedung Pasar Terong di Makassar.  Pelaku yang tertangkap itu sempat babak belur baik oleh penangkapnya maupun entah siapa. Bagaimana cerita dampak pelecehan seksual terhadap korban dan nasib penganiayaan pelaku ini tak lagi dimuat oleh media di hari-hari selanjutnya.

Di awal Februari 2017, kasus kedua terjadi di Soppeng. Media massa mengangkat berita lahirnya seorang anak dari rahim anak difabel mental-intelektual (tuna grahita) dari hasil kekerasan seksual yang dilakukan terhadapnya. Pelakunya diduga adalah kepala SLB di mana korban bersekolah. Media massa di awal Februari santer memberitakan ‘dugaan si pelaku’ adalah kakak kandung dari seorang anggota DPR-RI yang tak lain adalah kepala SLB tersebut. Belakangan, berdasarkan hasil tes DNA terhadap anak yang lahir dari pelecehan ini tidak sesuai dengan dugaan yang diberitakan media massa. Hingga saat ini, media masih memberitakan, bahkan sang anggota DPR-RI yang merasa dipermalukan keluarga besarnya itu masih menjadi objek pemberitaan media massa di mana ia berjanji melaporkan pihak-pihak yang sudah mencoreng nama besar keluarganya, Samsu Niang (lihat di http://www.klipnews.com/2017/03/01/hasil-tes-dna-polisi-tidak-identik-bayi-dilahirkan-bunga/).

Kasus ketiga, dimulai dari pemberitaan media massa pada 19 Maret 2017 terjadi pemerkosaan terhadap anak-gadis bisu-tuli di Bulukumba. Dalam rententan hari yang sangat singkat, tak lebih dari 48 jam, kasus perkosaan anak-gadis bisu-tuli yang dilaporkan oleh ibunya di kepolisian justru merenggut nyawa ayah korban akibat penganiayaan di sel kepolisian. Berdasarkan pemberitaan awal, harian online di atas memberitakan kesaksian kepala desa di mana korban tinggal bahwa korban dengan bahasa isyarat menunjuk foto sang ayah dan diyakini oleh kepala desa bahwa maksud penunjukan foto dan bahasa isyaratnya adalah sang ayah sebagai pelaku pelecehan. Berdasarkan informasi tersebut, pihak kepolisian setempat segera menjemput ‘si-terduga pelaku’ di rumahnya dan menahannya di sel kantor kepolisian. Malang bagi sang ayah, di tempat di mana ia ditahan ia justru dianiaya oleh sejumlah orang sampai akhirnya mati.

Belakangan, setelah sang tertuduh mati teraniaya, justru media massa kembali memberitakan munculnya dugaan baru atau nama baru yang diduga pelaku sesungguhnya. Berita-berita terkait rentetan peristiwa yang kemudian bermunculan akibat kematian ayah korban menjadi semakin marak diberitakan media, bahkan audio-visual. Sayangnya, pangkal dari persoalan ini, yakni pelecehan dan kekerasan seksual anak-gadis bisu-tuli terkesan dilupakan oleh orang-orang yang terlampau marah kepada aparat kepolisian yang turut andil dalam matinya ayah korban akibat penganiayaan oleh entah siapa (lihat salah satu berita terbaru http://lintasterkini.com/24/03/2017/dituding-tahanan-tewas-dianiaya-kapolres-bulukumba-perintahkan-periksa-internalnya.html).

Akar persoalan: Kerentanan Difabel

Jika kita mengikuti perkembangan ketiga peristiwa ini melalui media massa, maka satu hal yang pasti, korban selalu berada dipihak yang terlemah atau paling rentan. Sementara pelaku memiliki daya dan kuasa yang lebih kuat, bahkan jauh lebih kuat. Korban difabel sudah jelas kerentanannya. Korban sebagai anak-gadis yang secara fisik lebih lemah. Lalu sebagai anak yang bisu-tuli atau lambat belajar (akibat kondisi lemah intelegensianya) akan kesulitan mengakses beragam pengetahuan termasuk pendidikan soal seks dan reproduksi. Apalagi jika keluarga korban merupakan keluarga dengan pendapatan ekonomi yang rendah akan turut menambah derajat kerentanannya di mana akan menghambatnya untuk melakukan sejumlah hal yang diperlukan dalam mengurusi soal hukum, persalinan, kesehatan anak, dan seterusnya.

Kerentanan inilah yang menyebabkan terjadinya bencana bagi difabel atau keluarga difabel. Kerentanan yang bertemu dengan ancaman (adanya orang jahat) akan menciptakan bencana sosial bagi keluarga-keluarga ini. Apalagi dari setiap bencana yang mereka hadapi, rasa malu dan putus asa berkepanjangan pascakejadian telah turut menambah jumlah kerentanan selanjutnya. Anak-anak yang lahir dari anak-gadis yang tak punya kesiapan mental-fisik dan pengetahuan yang cukup untuk merawat anak adalah dampak lain yang tak kalah sulitnya dilewati. Apalagi kemiskinan dapat membuat anak-anak maupun ibu—yang teramat muda usianya—kekurangan pangan bergizi yang bisa berdampak kepada ketahanan tubuh keduanya yang bisa membuatnya menjadi difabel.

Terkait peristiwa di Pasar Terong, saya tak memiliki informasi memadai tentang nasib anak-gadis bisu-tuli ini, selain membayangkan bahwa tentu masih ada efek trauma atas [percobaan] perkosaan yang harus ia tanggung. Di Soppeng, banyak media massa lebih memberitakan tindakan-tindakan ‘orang besar’ dari keluarga siterduga yang berupaya membuktikan bahwa anggota keluarganya tak bersalah. Bahkan bukti hasil tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid atau dalam Bahasa Indonesia sering juga disebut AND yang merupakan kependekan dari Asam Deoksiribo Nukleat) yang dirilis oleh pihak kepolisian (atau sekadar tes sampel golongan darah? ini perlu klarifikasi) juga ternyata tidak menunjukkan bahwa ada kecocokan antara gen anak dan gen ‘tertuduh’. Kita bisa saja mencurigai bahwa hasil tes DNA itu direkayasa (sekali lagi ini tes DNA atau tes sampel darah?) sehingga tak terbukti. Apalagi, pada pemberitaan awal kasus ini sebagaimana diungkap oleh media, jelas menunjukkan bahwa korban menyebut nama pelaku yang tertuju kepada si tertuduh. Bahkan korban juga menyebutkan di mana pelecehan atau kekerasan seksual itu dilakukan. Jika ada inkonsistensi antara pernyataan korban dengan hasil tes DNA yang kabarnya dilakukan di Jakarta, maka tentu seharusnya hasil tes itu tidak lantas menghentikan penyelidikan APH lebih lanjut. Lagi pula, dalam sejumlah kasus pelecehan seksual terhadap difabel mental-intelektual, korban tidak pernah berpretensi untuk memberi keterangan.

Dalam kasus ini, si ‘orang besar’ tidak berada dalam posisi lemah sebagai mana halnya sang korban. Sehingga, dengan posisi yang kuat ia akan bisa dengan mudah mengendalikan banyak hal, termasuk untuk membuktikan bahwa apa yang terjadi tidaklah seperti apa yang dituduhkan.

Tetapi bagaimana dengan kasus di Bulukumba? Ini menarik untuk dicermati. Ayah korban yang oleh media massa juga diberitakan sebagai pelaku utama pemerkosaan terhadap anak-gadis bisu-tuli, tetapi ia justru mati sebelum ia bisa membela dirinya. Ia mati di tempat yang seharusnya orang-orang yang bertugas melindunginya dengan prinsisp ‘asas praduga tak bersalah’. Ia dianiaya sampai mati dan bukti penganiayaan itu bisa dilihat dari tubuh korban yang lebam, memar, dan tersayat.

Posisi lemah atau kerentanan seseorang yang berlapis-lapis tidak memungkinkannya untuk bersuara, membela diri bahkan membalas perlakuan tak adil. Jika sang anggota DPR-RI, Syamsu Niang di Soppeng itu itu masih akan melanjutkan gugatan kepada pihak-pihak yang sedari awal ‘menduga dengan kuat’ anggota keluarga besarnya sebagai pelaku pemerkosaan, maka apalah daya Syamsuddin orang desa, yang kini sudah berada di alam kubur.

Tetapi kematian Syamuddin yang dituduh memerkosa anaknya sendiri hingga saat ini menimbulkan gelombang kemarahan massa dan protes kepada lembaga kepolisian. Jika tak ada nama lain sebagai tertuduh pelaku kekerasan seksual muncul, boleh jadi peristiwa lanjutannya tak akan seramai ini. Sebuah nama baru sebagai pelaku muncul dan itu masih anggota kerabat dekat korban. Kemarahan massa terhadap aparat penegak hukum, khususnya kepolisian semoga berdampak positif terhadap perbaikan kinerja institusi ini. Tetapi di sisi lain, sepertinya orang-orang telah lupa pada pangkal persoalan, yakni nasib korban pelecehan, anak-gadis bisu-tuli ini.

Ketiga anak-gadis difabel ini adalah orang-orang rentan dan kini menjadi korban dari tindakan kejam lelaki yang berdaya-kuasa lebih tinggi dari dirinya, baik atas tubuh diri maupun tubuh sosialnya. Satu di antara mereka telah memiliki anak (di Soppeng) dan satu lainnya sedang hamil (di Bulukumba). Anak dari korban tentu akan kesulitan memiliki akta kelahiran jika tidak ada kejelasan mengenai siapa ayah dan bagaimana status kedua orang tuanya. Pengalaman saya mengurus akta kelahiran, fotokopi kartu keluarga dan buku nikah serta keterangan siapa ayah dan siapa ibu dari anak bersangkutan selalu menjadi persyaratan yang tak boleh kosong dalam lembar pengajuan. Bahkan di dalam lembar akta kelahrian itu selalu tertera siapa ayah dan ibu dari anak bersangkutan. Dalam akta itulah, tertera Nomor Induk Kependudukan yang menunjukkan sianak sah sebagai warga negara. Tanpa NIK, maka segala macam pelayanan atau bantuan negara terhadap anak atau bayi ini akan terhambat sama sekali. (Tetapi, saat tulisan ini kubaca kembali, jam 12.30 wita seorang kawan, paralegal disabilitas yang baru kembali dari mengunjungi keluarga korban, bahwa anak yang baru berusia 46 hari ini telah meninggal, 3 hari setelah sampel darah dari bayi ini diambil oleh [entah siapa?]).

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN!

Sebagai aktivis difabel yang aktif di PerDIK, maka bagi kami fokus kepada keadilan bagi korban—yang justru luput dari perhatian banyak pihak termasuk media. Saat ini, korban dan keluarga korban membutuhkan banyak bantuan akibat sejumlah kerentanan yang saya uraikan di atas. Jika kerentanan ini tidak diretas dan diatasi satu persatu, maka setiap hari ancaman itu akan selalu dengan mudah mengintai, menyergap dan mencelakai korban.

Pertanyaan demi pertanyaanpun menyergap saya:

  1. Bagaimana dengan para difabel dan keluarga-keluarga difabel lainnya yang saat ini tak terpantau mata para pewarta dan pemerhati? apakah bencana yang mereka hadapi akan dihadapi oleh mereka sendiri?
  2. Bagaimana kondisi kerentanan mereka berdampak pada kualitas hidupnya? Siapakah yang bisa membantu mengatasi seluruh aspek kerentanan itu?
  3. Bagaimana pula para pengancam dan orang-orang yang berpotensi menjadi pengancam baru di tengah kerentanan orang lain yang semakin bertambah ini? Tak adakah cara lain negara atau kita bisa mengendalikan langkah-langkah kejinya?\
  4. Bagaimana pula difabel dan keluarga-keluarga difabel yang rentan ini berupaya membentengi diri mereka dan keluarga mereka sendiri di tengah ancaman para pengancam? Apakah kita, sebagai pemerhati cukup punya energi untuk mengupayakan berdirinya benteng-benteng itu?
  5. Siapa pula yang bertanggung jawab menjaga sikap para pengancam agar sadar dan berhenti menjadi peneror bagi orang-orang rentan?

Kita tentu saja bisa mengajukan lebih banyak pertanyaan bernada yang kekhawatiran. Kita pun bisa menemukan sekian banyak formula penyelesaian, tetapi persoalannya, kita seringkali hanya punya sedikit tenaga untuk bisa menyelesaikan persoalan demi persoalan, baik itu pencegahan kerentanan, mengatasi kerentanan dan mengurangi dampak buruk kerentanan.

Saat ini, saya hanya bisa memikirkan beberapa hal:

Pertama, kita harus bahu-membahu menyiapkan diri untuk mencegah agar difabel dan keluarga-keluarga difabel tidak menjadi rentan.

Kedua, kita harus bersama-sama mengurangi kerentanan-demi-kerentanan difabel maupun keluarga difabel yang sudah terlanjur melekat dalam kehidupannya.

Ketiga, kita harus bersama-sama menemani difabel dan keluarga-keluarga difabel untuk bangkit melewati masa-masa sulit setelah bencana kemanusiaan menimpa mereka.

Bagi kami di PerDIK, mengurangi kerentanan berarti menambah kekuatan dan kekuuatan baru itu diperoleh dari orang-orang yang peduli. Siapakah mereka? Siapapun mereka, baik dari anggota-anggota keluarga korban, keluarga pelaku, atau keluarga-keluarga lain dan institusi-institusi yang peduli pada nasib ketidakadilan yang menimpa banyak manusia rentan. Ya, termasuk Anda dan anggota-anggota lain di keluarga Anda!

Makassar, 25 Maret 2017

*Penulis adalah Ketua Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan(PerDIK)

Untuk informasi lebih lanjut, bisa lihat pada link berikut ini:

http://beritabulukumba.com/51885/pakai-bahasa-isyarat-gadis-bisu-bulukumba-mengaku-dihamili-bapak-kandung/amp

http://beritabulukumba.com/51910/bapak-yang-hamili-anaknya-di-bulukumba-tewas-diduga-bunuh-diri/amp

http://beritabulukumba.com/51914/korban-diduga-meninggal-tak-wajar-kapolres-kita-tunggu-hasil-visum/amp

http://www.suarahati.net/dapat-hukuman-hamili-anaknya-yang-bisu-pria-ini-dianiaya-dalam-sel-hingga-tewas/

https://www.suaralidik.com/sejumlah-keluarga-korban-tewas-di-dalam-sel-datangi-mapolres-bulukumba/

http://news.inikata.com/read/2017/03/23/18690/kapolres-bulukumba-diminta-bentuk-tim-investigasi-independen

http://m.beritakotaonline.com/37852/unjuk-rasa-kompak-ricuh-tuntut-polres-bulukumba-soalnya-tewasnya-tahanan/

http://m.beritakotaonline.com/37871/soal-kematian-syamsuddin-di-tahanan-lbh-pemuda-knpi-sulsel-minta-polda-bentuk-tim-khusus/

http://makassar.tribunnews.com/2017/03/22/massa-keluarga-pria-salah-tangkap-tewas-di-sel-bulukumba-boikot-jalan-bulukumba-sinjai

http://makassar.tribunnews.com/2017/03/22/video-ibu-rumah-tangga-asal-tibona-ikut-demo-polres-bulukumba-terkait-tahan-tewas

http://makassar.tribunnews.com/2017/03/21/kapolres-bulukumba-janji-usut-penganiaya-korban-salah-tangkap-di-selnya-hingga-tewas

http://makassar.tribunnews.com/2017/03/20/ngeri-begini-kondisi-mayat-pria-yang-tewas-di-sel-polres-bulukumba-padahal-salah-tangkap

http://fajaronline.com/2017/03/21/begini-kronologi-kematian-tahanan-versi-polres-bulukumba

http://pilarbaru.com/2017/03/20/depresi-terduga-pelaku-cabul-gadis-bisu-di-bulukumba-tewas/

http://pilarbaru.com/2017/03/20/kapolres-bulukumba-keluarga-almarhum-terduga-pencabulan-anak-kandung-menyerahkan-pemeriksaan-sepenuhnya-kepada-polisi/

http://lintasterkini.com/24/03/2017/dituding-tahanan-tewas-dianiaya-kapolres-bulukumba-perintahkan-periksa-internalnya.html

https://www.youtube.com/watch?v=Vfo2bmtEo5I

https://www.youtube.com/watch?v=HGhmdPqfb7Y

https://www.suaralidik.com/masih-kontroversi-komnas-ham-harus-bersikap-atas-meninggalnya-syamsuddin/

http://regional.liputan6.com/read/2872838/perjuangan-gadis-gangguan-mental-lahirkan-bayi-hasil-pemerkosaan

http://regional.liputan6.com/read/2895030/nasib-mengenaskan-pria-bulukumba-yang-dituduh-cabul

Please follow and like us: