Obrolan dengan Lukas dan Kerstin soal Fisio-Terapi Bagi Difabel Kinetik

WhatsApp Image 2017-03-22 at 16.48.50
Kerstin, kawan di Makassar yang pernah bekerja untuk Penderita Kusta memperkenalkan seorang kawannya dari Amsterdaam, Lukas. Dia seorang Fisioterapis. Saat ini sedang bertugas di Tana Toraja, pada salah satu program berkaitan dengan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM). Dia punya pengalaman panjang terkait bekerja di ranah rumah tangga khusus isu disabilitas. Saat bertemu Kerstin, saya, Rahman gusdur (direktur PerDIK) dan Erwin meminta Kerstin agar menghubungi Lukas untuk bertemu di Perdik. Tadi Kerstin mengabari bahwa Hari Rabu ini, Sore, Lukas akan hadir.

Sore ini, Lukas dan Kerstin tiba di PerDIK dan kami pun mengobrol.

Lukas memperkenalkan pekerjaannya sebagai mahasiswa di Amsterdaam University dan sebagai Fisioterapis. Ia adalah terapis dari SOMOI, sebuah organisasi fisioterapis untuk kerja-kerja pembangunan di Indonesia. Organisasi ini sudah bekerja kurang lebih 15 tahun di Sulawesi Selatan. Setelah beberapa tahun berhenti, kini program SOMOI berjalan lagi. Lukas adalah salah satu yang dikirim dari Belanda untuk bekerja di Tana Toraja, khususnya di sejumlah SLB dan menangani terapi fisik bagi anak-anak difabel kinetek (fisik), seperti anak dengan Cerebral Palsy, polio, atau orang dewasa yang terkena stroke. Ia menyebutkan, di Toraja ada sekitar 500 anak dengan disabilitas mobilitas. Itu angka yang cukup besar. Di luar anak-anak itu, yakni orang-orang dewasa, penyebab disabilitasnya kebanyakan karena pola hidupnya yang kurang sehat seperti pola makan, merokok, makan yang manis-manis dominan, dll.

Kami pun menjelaskan apa itu PerDIK dan apa tujuan utamanya organisasi ini berdiri. Kami menyampaikan bahwa PerDIK punya pekerjaan utama yaitu Advokasi dan Pengorganisasian difabel (tingkat keluarga) dan produksi pengetahuan. Pengorganisasian erat kaitannya dengan pemberdayaan difabel baik secara politik maupun ekonomi. Terkait dengan kebutuhan PerDIK untuk mengetahui terapi fisik ini, kami sampaikan bahwa PerDIK dapat bekerjasama dengan sejumlah organisasi (difabel maupun non-difabel) untuk melakukan kerja-kerja terapi. Lukas menyebutkan bahwa terapi bagi difabel bukan hanya fokus kepada terapi fisik, tetapi juga aspek non-fisik seperti pola pikir, dukungan keluarga dan masyarakat. Bahkan, untuk terapi fisik pun masih memerlukan sejumlah ketentuan, seperti perlunya perencanaan dalam terapi.

Kami lalu mengusulkan untuk mengadakan pelatihan bagi pelatih yang mau jadi terapis dan pelatih terapis. Caranya, kita bisa bekerjasama dengan sejumlah Organisasi difabel di kota Makassar dan mendiskukan soal rencana ini. Lukas setuju dengan rencana itu dan berharap bisa dilaksanakan sebelum dia kembali ke Nederland pada Mei mendatang. Nah, selanjutnya tinggal bagaimana kita mengupayakan pelaksanaan ini.

Bagaimana agang-agang?
WhatsApp Image 2017-03-22 at 16.48.03

Please follow and like us: