PerDIK dan KPUD Kota Makassar Menjajaki Kerjasama Pembenahan Data Pemilih Difabel

Press release PerDIK. Makassar, 10 maret 2017

17201433_1852981041641005_824973842903824849_n

Merespon tawaran salah satu komisioner KPU kota makassar, PerDIK melakukan diskusi internal terkait pemilu dan hal difabilitas. Banyak isu yang di diskusikan dengan tema besar terkait bagaimana menempatkan difabel sebagai “subjek politik” yang bermartabat. Intinya, difabel adalah pelaku aktif politik yang memiliki hak politik sebagai warga negara dan bukan hanya objek politik pasif dan tereksklusi dari isu dan agenda-agenda politik. Poinnya, isu difabel harus menjadi isu arus utama dengan berbasis hak dan kesetaraan.

Terkait dengan isu kepemiluan, setidaknya ada beberapa point yang menjadi titik berat atas proses pencapaian martabat difabel dalam politik, yakni:

 

  1. Harus ada kesamaan hak yang setara dalam proses pendataan pemilih.
  2. Adanya informasi yang aksesibel bagi difabel terkait seluruh tahapan/proses pemilukada serta terkait kontestan pilkada/pileg, visi misi dll.
  3. Menjadikan isu difabel sebagai isu atau agenda politik para kontestan politik berikut konsekuensi jika tidak di wujudkan.
  4. Tersedianya sarana dan prasarana yang aksesibel di setiap arena politik seperti TPS sesuai dengan aturan berlaku.
  5. Difabel juga memiliki hak sama sebagai penyelenggara pemilu.
  6. Terbukanya akses Pendidikan politik berkelanjutan bagi difabel (bukan sekadar pelatihan mencoblos).
  7. Meningkatkan partisipasi politik difabel (dalam partisipasi memilih, agenda isu, respsentasi, regulasi).

Kemarin, 10 Maret 2017, komisioner KPUD kota Makassar, Rahmah bertemu dengan pengurus PerDIK.Pertemuan dengan komisioner KPU setidaknya melahirkan beberapa hal yang disepakati perlu dijajaki lebih lanjut.

  1. Setidaknya ada beberapa poin penting yang di bicarakan, yakni;
  2. Pendataan yang komprehensif terkait difabel yang telah memiliki hak politik/memilih atau dipilih.
  3. Pada proses pendataan bukan hanya mendata nama dan alamat akan tetapi menambahkan instrumen baru terkait apa kebutuhan dan kendala difabel dalam memperjuangkan partisipasi politik/hak politiknya. Hal ini penting untuk menemukan serta memetakan kondisi struktural, kultural maupun teknisnya.
  4. Mendesain model sosialisasi informasi/data yang aksesibel buat semua jenis difabel.
  5. Melakukan pelatihan bagi pendata terkait isu difabilitas.
  6. Diskusi (tentatif) dengan KPU, parpol, Panwas dengan sejumlah institusi yang bergerak di isu difabel terkait pilkada dan hak-hak politik difabel,
  7. Terlibat aktif (mendata dan pengawasan) terhadap proses pendataan pemilih.
  8. Memperjuangkan difabel menjadi penyelenggara pemilu atau peserta pemilu.
  9. Segera menyusun draf MOU di kedua belah pihak.
  10. Terkait wacana e-voting, mengupayakan “simulasi” terkait hal tersebut untuk semua jenis difabel

Abd Rahman selaku direktur PerDIK berharap agar budaya mendiskusikan hak dan kepentingan difabel harus terus dilakukan. Hal ini dikarenakan permasalaha difabel juga berkembang dan tantangannya akan semakin besar guna mewujudkan hak-hak difabel.

17201406_1852981044974338_3735233502831138421_n

Lebih lanjut, baik Rahma maupun Rahman percaya bahwa memperbaiki data pemilih difabel saat ini akan sangat bermanfaat di masa mendatang. Data yang baik akan menjelaskan permasalahan yang dihadapi dan solusi seperti apa yang akan ditempuh.

Salah satu hal yang membingunkan dari rilis data difabel kota Makassar per Mei 2016 yang diperlihatkan komisioner KPUD Kota Makassar adalah tingginya angka penyandang kusta (sekitar 80% dari seluruh difabel). Belum lagi beberapa nama aktivis difabel yang tinggal di Makassar tidak terdaftar dan sebaliknya salah satu sesepuh organisasi difabel di Makassar yangbtelah meninggal dunia, Makmur Kam, juga masih terdaftar.

“Semoga kerjasama antara PerDIK DAN KPUD Kota Makassar bisa dilanjutkan secara formal dan pelibatan lebih banyak stakeholder. Dengan bekerjasama, maka masalah lingkungan sosial yang menghambat partisipasi politik difabel di masa mendatang akan dapat teratasi,” demikian harap Abd. Rahman[].

Please follow and like us: