Mimpi-Mimpi Aksesibilitas Di Makassar

Oleh Ishak Salim

disability-dreams

Saya punya sekian mimpi yang ingin saya wujudkan. Tetapi mimpi-mimpi ini sepertinya cukup banyak. Saya tentu saja kesulitan untuk mewujudkan semuanya. Bahkan jika pun ada beberapa kerabat atau kawan-kawan baik bersedia membantu, pastilah hal itu tidak akan terwujudkan seluruhnya dalam beberapa tahun ke depan.

Apa mimpi-mimpi itu? Mimpi-mimpi ini semuanya terkait soal aksesibilitas difabel di Kota Makassar ini.

Mimpi Memiliki Rumah Akses

Mimpi yang pertama kusimpan di rumah kami dan aku ingin sekali kelak mewujudkannya. Ini soal desain rumah. Saya bermimpi memiliki rumah yang 100 persen akses bagi kawan-kawan dengan beragam kemampuan. Saya punya banyak teman yang memiliki kemampuan berbeda satu sama lain. Beberapa kawan saya adalah buta dan tuli. Jika mereka ke rumah untuk bertamu atau berdiskusi, tentulah orang-orang di rumah saya harus tahu bagaimana berinteraksi dengannya.  Anak-anak mesti bersikap sopan dan bersalaman dengan paman atau bibi mereka, kawan-kawanku itu. Kedua anakku tentu sudah tahu bagaimana jika harus bersalaman dengan Mas Joni misalnya. Anak pertamaku, Arrayyan berusia 10 tahun sudah tahu kalau ia harus menyentuh jemari paman Joni jika hendak menyalaminya.

Tetapi bagaimana kalau Hajjah Ramlah datang bersama kawan-kawan Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia SulSel) datang dan membawa sekotak donat ke rumah kami. Anak-anak tentu senang, tetapi anak-anakku, istriku bahkan diriku belum tahu bagaimana mengucapkan terima kasih dengan menggunakan bahasa isyarat, baik Bisindo maupun SIBI. Lalu bagaimana kami bisa mengobrol. Tentu saja bisa dengan cara lain. Biasanya Hajjah Ramlah selalu membawa penerjemah bahasa isyarat jika mengunjungi suatu tempat yang ia ketahui tidak ada yang paham bahasa isyarat.

Tetapi kunjungan bukan sekadar obrolan bukan? Kunjungan harus dimulai dengan salam dan mesti melewati pagar dan halaman rumah. Nah, saya bermimpi membuat halaman rumahku aksesisbel bagi Paman Joni atau paman Nasrafuddin dan istrinya yang sesekali menggunakan tongkat. Tentu lantaiku haruslah menggunakan guiding block. Tetapi biasanya hal itu hanya dibutuhkan untuk kunjungan pertama kalinya. Selebihnya setelah orientasi dan monitoring, ruang halamanku akan segera dihapal oleh kawan-kawan ini. Lalu bagaimana kalau Mbak Risnah dari Yogyakarta dan suaminya David datang ke rumah. Mbak Risna menggunakan kursi roda dan dalam kondisi tertentu mengenakan kedua kruknya. Ia mengalami polio sejak usia 4 tahun dan sejak itu mengandalkan kursi roda sebagai kakinya.

Jadi, kalau begitu, selain memiliki guiding block bagi kawan-kawan yang menggunakan tongkatnya, saya perlu juga mendesain halaman rumah kami tanpa undakan yang menyulitkan mbak Risna. Halaman datar atau dengan rampa adalah syarat utama agar rumah kami akses sampai ke ruang tamu. Karena punya beberapa kawan dengan alat bantu mobilitas yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka seluruh ruang dan perangkatnya haruslah menyesuaikan dengan kawan-kawan dan tetamu yang akan bertandang. Lebar pintu adalah salah satu yang harus kuperhatikan. Bukan hanya pintu depan, tetapi juga seluruh pintu di dalam rumah, termasuk kamar mandi, ruang kerja dan ruang bermain anak-anak.

Lalu bagaimana pula dengan kamar mandi, ruang keluarga, dapur dan meja makan? Apakah ada desain khusus yang memudahkan tamu-tamuku nanti? Ya, tentu saja! Misalnya Kamar mandi, kamar ini identik dengan lantai yang basah. Jika kawan-kawan yang menggunakan kursi roda, kruk atau kaki palsu masuk tentu akan mengganggu. Apalagi jika taka da pegangan di dinding-dinding kamar mandi, pasti akan jauh kesulitan lagi. Orang bisa dengan mudah terpelesat. Toilet di rumah pun harus segera saya ganti, tak boleh memakai toilet jongkok karena itu akan menyulitkan teman-teman untuk buang air. Bahkan menyulitkan nenek yang sudah renta dan melemah. Jadi sebaiknya kamar mandi dan toilet juga harus kuredesain nanti.

Sebaiknya aku harus segera membeli sebuah buku tentang desain rumah yang akses bagi kawan-kawan difabel. Lagi pula, tentu bukan hanya kawan-kawanku saja ada yang difabel, keluarga dekat maupun kerabat pastilah ada juga yang difabel, bahkan salah satu dari kami di rumahpun berpotensi menjadi difabel, apakah karena renta, bencana, atau sebab lain entah apa. Mungkin Kalian juga begitu, memiliki kawan-kawan, tetangga, dan keluarga yang difabel. Tapi karena rumah kita tidak akses, maka mereka memilih tidak datang bertamu. Mereka tidak mau kesulitan atau menyulitkan kita. Kalau sudah begitu, tertutup sudah pintu silaturahmi.

Kalian mau punya rumah yang seperti itu? Sebaiknya mulailah memikirkan hal itu. Jika ada sedang mendesain rumah, beritaulah arsitek Anda untuk memasukkan aspek-aspek aksesibilitas itu. Saya percaya, biaya membangun rumah akses akan jauh lebih murah ketimbang meredesain yang sudah terlanjur berdiri dan tak akses di sana-sini.

 

Mimpi Kantor PERDIK akses dan Perpustakaan Disabilitas

PERDIK adalah organisasi pergerakan yang baru-baru saja kami dirikan. Kepanjangannya adalah Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan. Sebenarnya PERDIK masih berkantor di rumah yang tidak akses itu, di rumah kami, tepatnya rumah mama. Tapi sudah ada keinginan untuk meredisain rumah ini menjadi rumah kerja untuk isu difablitas.

Saya membayangkan seperti ini.

Ruang depan rumah kami akan menjadi etalase PERDIK. Ruang tamu akan disulap menjadi perpustakaan Akses bagi difabel sensorik maupun kinetik. Juga harus ada sudut khusus untuk anak-anak yang akses bagi anak difabel. Kebetulan ada cukup banyak buku yang cukup mengundang pembaca datang. Nanti saya akan membeli sebuah komputer yang sudah terpasang program pembaca layar (screen reader) yang bisa bisa diaktifkan jika anda pembaca netra datang berkunjung dan ingin menikmati perpustakaan dijital kami.

Halaman depan kantor ini, akan menjadi ruang membaca bagi pengguna kursi roda atau kawan-kawan lain yang enggan untuk ke lantai dua. Ya, betul, saya berpikir untuk mengecor sebagian atap dan membuat ruang terbuka di atas untuk bekerja, berdiskusi dan membaca.

Mungkin akan butuh sekian belas juta untuk mengecornya. Kami tentu bisa menabung untuk itu. Saat ini, kawan-kawan PERDIK belum membudayakan diri untuk datang dan bekerja di salah satu ruang paviliun yang kami sulap jadi tempat kerja. Mungkin mereka memang belum terbiasa datang berkantor. Kebanyakan belum melihat pekerjaan pengorganisasian dan mengadvokasi isu-isu difabel ini mesti dikelola serius dan bukan asal kongkow-kongkow di café entah di mana.

Pagi sampai sore adalah waktu untuk bekerja. Jika malam tiba, silakan kalau mau ngopi di café. Tetapi janganlah sampai subuh atau pagi. Kalian toh harus berjuang lagi dan bertemu kawan-kawan di luar sana yang sudah ke jalan di awal pagi. Lihat saja kawan-kawan eks-pengidap kusta yang sudah sembuh. Mereka sudah berada di sejumlah titik di jalan utama Makassar. Siapa peduli dengan peningkatan kesejahteraan mereka. Mengemis adalah pekerjaan yang bisa membuat mereka makan siang dan makan malam serta memberi anak-anak jajan setiap pagi. Apakah tak ada yang bisa kita lakukan untuk membuat hidupnya lebih bermartabat? Pasti ada caranya. Tapi harus berjuang kawan-kawan!

Kelak, saya membayangkan, PERDIK akan berisi sejumlah aktivis difabel baik oleh mereka yang merasa diri sebagai penyandang disabilitas atau tanpa disabilitas dan kami melebur diri menjadi aktivis difabel. Di sana ada banyak kegiatan untuk meningkatkan kapasitas diri aktivis. Belajar sejumlah hal penting dan teknis dalam mendukung gerakan ini. Aktivis difabel harus diproduksi terus menerus sampai tersedia banyak pasukan untuk bekerja dan memenangkan perjuangan ini.

Ya, memproduksi Aktivis Difabel. Dua puluh tahun lalu, kata ‘difabel’ memang merupakan kata atau konsep tanding melawan istilah penderita dan penyandang cacat. Cacat itu berarti rusak, masa manusia disamakan dengan barang. Tetapi kini difabel bukan lagi sekadar istilah tetapi ia sudah merupakan ‘identitas gerakan’ yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia, khususnya mereka yang memiliki perbedaan kemampuan. Banyak sudah orang dan lembaga pakai kata ini. Tentu tak perlu alergi dengan istilah ini bukan. Paling penting dari sekadar kata ini adalah mari berjuang bersama-sama untuk kepentingan orang banyak dan orang tertindas.

Kalau nanti aktivis difabel yang tergabung dalam PERDIK ada Tuli, Pengguna kursi roda, kaki palsu, CP, Paraplegia, Sindroma Down, dan sebagainya pasti kantor ini akan ramai dan aksesibilitasnya harus terjamin. Pokoknya, kantor PERDIK harus menjamin seluruh pekerja nyaman bekerja dan merasa setara. Untuk itu segala bentuk akomodasi yang sesuai atau reasonable accommodation dengan aktivis ini harus disediakan oleh pengelola PERDIK. Apalagi kalau kelak PERDIK mulai membangun jaringan gerakan difabel Indonesia dengan cakupan organisasi yang lebih luas tentu kami harus segera pindah ke kantor lain yang lebih luas. Untuk itu, PERDIK harus memiliki unit usaha mandiri agar PERDIK mengelola keuangannya secara mandiri dan bisa kelak membeli tanah dan membangun kantornya sendiri. Banyak pilihan untuk berusaha, misalnya mendirikan Bengkel Disabilitas, Koperasi atau bisnis alat-alat bantu kesehatan dan sebagainya.

Tetapi harus diingat, semakin kuat PERDIK maka seharusnya semakin bertambah meluas cakupan aksesibilitas di kota Makassar dan sekitarnya.

 

Mimpi Sekolah-sekolah di Makassar Akses

Kedua anakku sekolah di SD Unggulan Pemda Makassar, yaitu Arrayyan dan Mutiara. Sejak setahun terakhir aku mengantarnya ke sekolah, aku tidak pernah melihat anak anak difabel berkursi roda, menggunakan tongkat, dan berbahasa isyarat, kesulitan berkonsentrasi, sindroma down dan banyak tipe murid di sekolah ini. Mungkinkah anak-anak difabel ini memang tidak diperbolehkan bersekolah di sini? Mungkin saja.

Ada kepercayaan dan kebijakan yang mengharuskan anak difabel bersekolah di sekolah luar biasa atau SLB. Menurutku inilah sebentuk praktik Eksklusi bagi anak-anak dalam pendidikan.

Mengapa pemerintah dan para guru harus memisahkan sekolah mereka? Mengapa mereka tidak membiarkan anak-anak bersekolah bersama dan membiasakan bermain dan belajar bersama-sama? Bukankah kita orang-orang dewasa saat ini gamang ketika bertemu orang buta, tuli, orang dengan berkursi roda, kawan-kawan Cerebral palsy dan paraplegia, atau orang dewasa tetapi dengan usia mental kanak-kanak? Ya, itu karena orang-orang tua kita, pemerintah kita, ulama kita dan guru-guru kita memang tidak membiarkan kita hidup bersama dalam keragaman kondisi kemampuan.

Butuh berapa pertanyaan yang harus saya ajukan agar Anda turut menyetujui pendapat saya bahwa sistem Sekolah Luar Biasa itu tidak sepantasnya ada di tanah Republik ini. Seharusnya setiap sekolah menerapkan sistem pendidikan inklusi. Setiap pendidik menempatkan persoalan kepada [penyesuaian] sistem pendidikan dan tidak menimpakan kesalahan atau persoalan kepada anak-anak dan kondisi dirinya.

Cara atau corak berpikir pendidik yang memusatkan anak didik sebagai sumber persoalan gagalnya anak dalam belajar adalah pendidik yang kurang pengetahuan dan pengalaman. Kita seharusnya selalu menunjuk kesalahan kepada sistem pendidikan yang kita bangun ketika ada anak-anak didik yang selalu tinggal kelas—bahkan selama bertahun-tahun. Kita, para pendidik seharusnya menyalahkan isi kepala kita yang kekurangan nutrisi pengetahuan ketika anak-anak didik gagal pandai membaca secepat yang kita rencanakan. Bahkan pendidik kita seharusnya tidak pernah menolak orang-orang tua yang membawa anaknya ke sekolah regular apalagi unggulan hanya karena anak itu mengenakan kursi roda dan jemari dan kakinya kaku akibat Cerebral Palsy. Kita seharusnya menerima semua ragam anak didik itu dan mulai mencari cara bagaimana membuat sejumlah penyesuaian atau Reasonable Accommodation di sekolah disediakan sedikit demi sedikit.

Nah itu mimpi saya untuk beberapa atau bahkan semua sekolah di kota Makassar. Sekolah-sekolah yang menerima difabel baik sebagai anak didik maupun guru atau tenaga administratif lainnya. Lalu bagaimana saya bisa mewujudkan mimpi itu?

Bersama PERDIK, di mana ada beberapa kawan lulusan Jurusan Pendidikan Luar Biasa UNM kami yang bersemangat untuk bekerja bersama. Saya berpikir di setiap sekolah diupayakan berdiri satu unit khusus untuk membantu proses membawa sekolah menjadi lebih inklusi. Namanya adalah unit layanan disabilitas.

Unit ini berkoordinasi langsung dengan walikota melalui kepala dinas pendidikan, sejumlah perguruan tinggi, kepala sekolah dan guru-guru setempat untuk menyiapkan seluruh kebutuhan sekolah agar anak-anak difabel memperoleh hak belajar yang setara dengan anak didik yang lain. Berbagai jenis akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan anak didik, guru, maupun staf sekolah harus mulai diupayakan dan ditargetkan setidaknya secara fisik, intelektual, maupun pola pelayanan ada peningkatan kualitas 10 persen setiap tahunnya. Misalnya, tahun ini mulai menerima 2-3 anak didik difabel, mulai membangun rampa dan meredesain kelas, ruang guru, ruang olah raga, toilet dll. Jika perbaikan dan pemenuhan ini dilakukan, maka dalam 10 tahun sekolah ini sudah bisa inklusi keseluruhannya. Secara fisik, sekolah ini sudah akses, perpustakaan sudah akses, jumlah guru pendukung sudah memadai, kapasitas guru meningkat melalui sejumlah training, dan seterusnya.

Sebenarnya sulit meraih mimpi ini, tetapi bukankah memang tak ada mimpi yang dengan mudah bisa diwujudkan? Jalani saja. Bukankah ada pepatah menyebutkan “perjalanan yang bermil-mil jauhnya selalu dimulaui dengan satu tarikan putaran kursi roda?” Nah demikian pula mimpi ini.

 

Mimpi punya Bengkel Difabel!

Ini sebenarnya mimpi seorang teman, namanya Eko Peruge. Dia ingin sekali mendirikan sebuah bengkel Kapal. Ya kapal, alias Kaki Palsu. Karena dia sudah cerita kepada saya, maka ini sudah jadi mimpi saya juga. Saya hanya berharap bahwa kita bisa bersama-sama mewujudkannya.

Kenapa dia mau bikin bengkel Kapal di kota Makassar, karena harga kapal yang diproduksi oleh kota ini harganya mencekik keluarga yang memiliki anak yang diamputasi kakinya. Harganya bisa belasan juta dengan kualitas jauh di bawah standar Jawa yang lebih maju teknologinya. Eko beruntung karena sudah belajar di beberapa tempat untuk membuatnya. Dia pernah ke Solo belajar Photografi dan pembuatan kaki palsu dan terakhir dapat ilmu dari para ahli desain dan pembuat kapal professional dari Banyumas.

Tetapi saya juga bermimpi lebih dari sekadar bengkel kaki palsu. Saya memimpikan kami juga mendirikan bengkel kursi roda dan menjual sejumlah alat bantu aktifitas sehari-hari sampai alat bantu terkait upaya menjaga kesehatan difabel. Ya, kenapa tidak. Saya punya sahabat namanya Risnawati, Ia direktur Perhimpunan OHANA dan suaminya David dari Amerikan sangat jago membuat kursi roda. Suatu saat saya kan mengajaknya ke Makassar dan menyampaikan soal gagasan ini. Saya yakin, pasti dia mau mengajar aktivis PERDIK dan teman-teman lain di luar PERDIK dari berbagai lemabaga manapun untuk turut belajar. Jika berdiri, artinya difabel bisa bekerja guna menopang biaya hidup dan keluarganya.

Soal mendirikan bengkelnya pasti ada jalan. Masa orang Makassar tidak mau berdonasi untuk memenuhinya. Kalaupun orang-orang Makassar malas berdonasi ya, terpaksa melobi kakek Jusuf Kalla. Siapa tau dia tertarik. Kami siap kok mencetak di setiap kursi roda itu tulisan “Kursi Roda untuk Indonesia, terima kasih Pak JK!

Tapi kalaupun tidak mau, kembali ke prinsip hidupku, “Adaji itu nanti!”

 

Mimpi mendirikan LBH Disabilitas

Tak lama setelah PERDIK berdiri sudah ada dua kasus pemerkosaan terhadap anak-anak perempuan difabel. satu terjadi di Pasar Terong, satu lagi terjadi di salah satu SLB di kab. Soppeng. Satu pelakunya adalah buruh bangunan di pasar, satu lagi adalah kepala sekolah SLB tersebut. Nah, Ironis sekali. Orang-orang dengan kerentanan karena kondisi tubuhnya ini menjadi korban kejahatan seksual lelaki jahat. Padahal, seharusnya anak-anak ini dilindungi dan diperlakukan secara bermartabat oleh siapapun, terutama oleh negara. Apalagi kerentanan mereka berlapis-lapis: difabel, perempuan, anak-anak, keluarga miskin, dan tinggal di tempat yang rawan. Kalau di Pasar katanya banyak preman sementara kalau di SLB adalah tempat yang jarang diakses oleh publik luas.

Saya tahu kedua kasus ini dari media massa, dan memang media suka memberitakan saat kejadian terjadi. Sayangnya, biasanya kabar bagaimana proses hukumnya berjalan ini yang suka tidak muncul di Koran. Tapi saya bisa memaklumi. Salah satu yang paling positif yang saya pikirkan adalah kerja paralegal yang mendampingi difabel berhadapan dengan hukum ini memang sebaiknya tidak diberitakan. Ada kekhawatiran kalau-kalau pelaku melarikan diri jika tahu kalau sedang diproses. Jadi bergerak dalam kesunyian memang dibutuhkan oleh paralegal. Apalagi kalau pelakunya dari keluarga terpandang.

Tetapi media memang kurang memberi informasi lebih lengkap di akhir proses ini. Ada baiknya, media melakukan kerja-kerja investigative dan membantu paralegal memproses tindakan jahat ini di jalur hukum.

Bayangan paling buruk adalah, kasus-kasus ini tidak dikelola dengan serius oleh para pelaku adokasi dari berbagai institusi bantuan hukum. Untuk itulah kalau memang ini soal kinerja yang buruk dari paralegal, maka saya pun mengimpikan suatu saat akan mendirikan LBH Disabilitas untuk khusus mengurusi isu-isu difabel berhadapan dengan hukum di SulSel. Tapi kalau sudah ada, berarti bagus, saya nanti tinggal bantu-bantu yang bisa saya bantu. Kalau LBH Disabilitas mau dibantu. Kalau tidak, ya kayaknya lebih baik bikin sendiri juga! Lebih dari satu LBH tidak apa-apakan?

 

Mimpi buat Media Solusi Inklusi.

Nah kalau mimpi ini awalnya hasil diskusi sama M. Aan Mansyur. Iya, si huruf kecil. Saat itu di kata kerja, saya datang dan meminjam beberapa buku terkait media. Dia tanya mau buat apa? Saya bilang kami akan ada diskusi soal media dan disabilitas bersama dengan kawan-kawan jurnalis AJI Kota Makassar. Dia lalu bilang kalau saat ini ada yang namanya Solutions Journalism. Apa itu?

Dia memperlihatkan website dan berselancar ke sejumlah laman. Saat itu saya belum paham benar karena waktu mengobrol kami singkat saja.

Saat saya sedang mengedit sebuah buku yang akan diterbitkan oleh SIGAB terkait Perilaku Media dan Isu Disabilitas, saya teringat dengan perbincangan dengan Aan. Saya pun mulai mencari tahu dan mengunjungi beberapa link berita yang dipublikasikan oleh para jurnalis Solusi Jurnalisme ini. Lalu muncullah mimpi itu. Seharusnya, dalam isu disabilitas, media seperti ini juga perlu ada.

Dalam buku SIGAB ini, banyak penulis difabel mengkritik media yang menampilkan difabel secara keliru. Salah satunya Jonna Damanik. Dia bilang dalam tulisannya kalau pola pemberitaan disabilitas yang ditampilkan kebanyakan media mainstream saat ini masih bersifat bombastik, penuh rasa kasihan, identik dengan sakit, visualisasi tidak tepat, serta berkaitan dengan keanehan dan keterbelakangan. Berbeda dengan cara media mainstream yang fokus kepada permasalahan yang dihadapi difabel, baik berupa kemuraman hidup dan masa depan ataupun ketidakberdayaan, maka Jurnalisme Solusi ini fokus kepada upaya-upaya orang, kelompok, institusi atau siapapun terkait menyelesaikan sejumlah permasalah orang-orang.

Bagaimana mewujudkan mimpi ini? Gampang! Ajak wartawan-wartawan berkumpul, sampaikan gagasan ini, kalau bersepakat buat kesepakatan menjadi jurnalis solusi maka bangunlah komitmen bersama, lalu rekrut juga beberapa jurnalis difabel yang muda dan mau belajar, latih mereka dan bekerjalah sebagai jurnalis yang mengabarkan jalan-jalan keluar yang sudah berjalan.

Bayangkan kalau banyak jurnalis dari berbagai negeri di pelosok Indonesia mau bergabung, maka akan ada banyak cerita difabel terkait jalan keluar dari permasalahan difabel dari berbagai negeri. Orang-orang akan mengadopsinya dan membuat di tempatnya masing-masing.

Nah, saat ini saya sudah beli domain dan hosting untuk itu. Namanya masih saya rahasiakan dulu. Jadi pi baru kami launching di PERDIK.

 

Mimpi Bisa Perjuangkan Makassar Bebas Hambatan bagi Difabel

Di Jakarta, teman-teman seperti Mbak Cucu dan suaminya, Kang Faisal Rusdi (keduanya kini sedang studi di Australia) menjalankan sebuah program bernama Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT). Acaranya sederhana. Setiap hari libur, hari Minggu, bersama belasan sampai puluhan partisipan pergi bertamasya di beberapa tempat wisata di Jakarta. Selain untuk membiasakan orang-orang Jakarta melihat dan berinteraksi dengan difabel, rombongan JBFT ini juga menilai seberapa akses tempat-tempat publik itu bagi difabel.

Dari video beberapa kegiatan yang disiarkan teman JBFT di Youtube, tampak kegiatan itu dilakukan dengan riang gembira. Ya, seharusnya piknik memang identik keceriaan dan kegemberiaan. Walaupun keceriaan itu kadang sirna karena beberapa hambatan yang ditemui difabel akibat desain fisik area yang tidak sesuai dengan mereka. Misalnya jika jalan tidak akses, maka mereka menjadi harus bergantung kepada bantuan seseorang. Tetapi dalam konteks ini, gagalnya sebuah desain tempat publik dalam memenuhi hak pengguna jalan maupun gedung merupakan sebentuk ‘kritik langsung’ yang mengena telak ke dada para pemberi layanan publik, plus para desainer yang kurang kreatif dan kurang luas pengetahuannya soal manusia.

Aktivitas JBFT yang positif itu patut ditiru. Saya pun lalu bermimpi bisa buat hal sama bersama kawan-kawan PERDIK dan mitranya dengan cara berbeda. Misalnya, kampanye mainstreaming aksesibilitas di Pantai Losari. Mengapa Pantai Losari?

Setiap Minggu pagi di Pantai Losari berlaku ketentuan ‘Car Free Day’ atau jalan raya tanpa mesin dan deru kendaraan. Orang-orang baik sendiri, berkelompok maupun yang berkeluarga datang menikmati hari pagi dengan berjalan kaki dan berkursi roda tentu saja. Ada banyak hal yang bisa menghibur diri kita sebagai orang kota. Keramaian adalah salah satunya.

Saat ini trotoar di sepanjang pantai Losari bisa dibilang bagus dan akses bagi difabel netra. Guiding blocknya tersedia. Eh, tapi tak semua orang rupanya tahu apa itu guiding block di trotoar. Kebanyakan mungkin hanya mengira ubin kuning bergaris itu hanya hiasan lantai belaka. Tidak sosodara, itu adalah panduan rabaan tongkat atau tapak kaki difabel netra.

Ketidaktahuan sejumlah orang akan fungsi-fungsi aksesibilitas itu sebenarnya bisa dipahami. Salah satunya adalah kurangnya difabel netra yang menggunakannya dan memperlihatkan kepada orang-orang, baik sebagai pemilik toko, tukang parkir atau pedagang jalanan yang biasanya dengan sewenang-wenang menutup guiding block itu.

Nah, untuk kepentingan berkampanye isu disabilitas itu, mengapa tidak kami manfaatkan saja momen Car Free Day itu untuk memberikan pelajaran penting ke warga kota?

PERDIK bisa mengorganisir untuk melakukan kampanye itu. Dan kami percaya ada begitu banyak kelompok atau komunitas warga di kota ini yang bisa diajak bekerja bersama. Bukankah partisipan JBFT juga sesungguhnya berasal dari beragam organisasi dan bukan hanya diikuti oleh difabel saja. Lagi pula, ada juga lembaga bernama Accesseible Indonesia yang fokus kepada isu ‘Tourism for All’ dan lembaga ini bisa saja membantu atau bermitra untuk berkampanye.

Sebutlah misalnya pada minggu pertama, kita hanya mengusung isu soal Difabel Netra. Pertama kita bisa buat lokasi nongkrong di sana dan membawa sejumlah alat-alat pendidikan, alat-alat bantu difabel netra, serta beberapa contoh alat bantu kesehatan dan memperlihatkan ke pejalan kaki tentang semua hal terkait isu difabel netra ini. Lalu, bisa pula beberapa difabel netra mempraktikkan atau mencoba trotoar akses tadi serta menilai apakah sudah memenuhi standar aksesibilitas atau tidak. Jika benar-benar ada pengguna yang sewenang-wenang merampas sejumlah ubin kotak kuning sebagai guiding block itu menjadi area berjualan, papan reklame atau lainnya maka kita bisa langsung memberinya teguran bahwa tidak semestinya mereka menutup jalan bagi difabel itu.

Jika kegiatan masih berlanjut, maka kunjungan minggu kedua dan seterusnya isu kampanye bisa diubah dengan peserta berbeda. Misalnya, temanya adalah Budaya Tuli. Baik sekali memperlihatkan bahwa Tuli bisa berkomunikasi satu sama lain. Persoalannya hanya pada kita yang tidak paham berbahasa isyarat itu. Sebenarnya teman-teman Gerkatin juga sudah punya acara seperti ini, tetapi semakin banyak titik kegiatan akan semakin baik.

Intinya, jika difabel keluar rumah dan bergabung dengan warga kota di pusat keramaian seperti Pantai Losari, maka orang-orang akan mulai belajar bagaimana berinteraksi dengan difabel dan menghargai hak-haknya. Hal sama berlaku bagi difabel yang larut ke dalam dunia publik, di mana mereka bisa membiasakan diri dengan keberagaman dan dunia luar.

Tertarik ikut? AYO Gabung!!!

 

Mimpi Menulis Sejarah Difabel di SulSel dan DifabelPedia

Informasi soal bagaimana difabel mengahadapi kehidupan sehari-harinya yang penuh dengan stigma, pengabaian, peminggiran bahkan pemiskinan atau hal-hal yang menyenangkan di setiap momen hidupnya merupakan hal yang sulit ditemukan. Ada banyak kisah, tetapi kisah-kisah itu tidak tertuliskan. Tetapi kita bisa mengumpulkan cerita itu sepanjang kita mau menanyai difabel satu persatu dan menuliskannya.

Tentu akan banyak cerita ditemukan di banyak tempat dari banyak informan. Untuk itu tentu butuh lebih banyak orang untuk menuliskannya. Saya bermimpi bisa mengumpulkan sejumlah difabel muda yang punya talenta untuk menulis dengan baik. Saya punya banyak teman penulis, peneliti dan tentu saja jaringan organisasi di sejumlah daerah. Ada baiknya membuat pelatihan menulis, live in di rumah informan, dan larut dalam kehidupan sehari-harinya. Bukankah salah satu syarat tulisan yang baik adalah ketika kita benar-benar hidup bersama informan kita dan merasakan denyut kehidupannya?

Kalau banyak difabel dibiasakan membaca, diberikan bahan bacaan berkualitas lalu meneliti dan menulis, maka ke depan akan tersedia banyak stok penulis. Para penulis dfabel ini malah akan bisa menuliskan kehidupan mereka sendiri atau keluarga kecil mereka—autoetnography.

Jika tulisan ini sudah terkumpul, maka jadilah ia bahan buku terkait difabel.

Saya juga bermimpi untuk membuat sebuah buku yang menyediakan sebanyak-banyaknya informasi soal difabilitas, organisasinya, kerangka kerjanya dan program-programnya, kehidupannya, alat-alat penopang aktivitasnya, dan seterusnya dan sterusnya. Sebutlah buku itu dengan nama DifabelPedia. Mungkin awalnya tidak harus tebal, tetapi infromasi-informasi tambahan bisa terhimpun dari waktu ke waktu.

Lebih serius lagi, mimpi membuat DifabelPedia ini seharusnya tampil bukan hanya dalam buku tetapi juga di dalam website. Setiap laman pada website itu harus akses dan memungkinkan difabel Netra dan teman Tuli bisa mengaksesnya. Bahasanya mudah dicerna dan harus ada laman khusus informasi dengan bahasa isyarat. Pokoknya, DifabelPedia ini bisa jadi semacam arsip difabilitas bagi setiap orang yang mau tahu soal difabilitas sebagai pengantar.

Nah, dari sekian mimpi itu, yang mana ya yang bisa diwujudkan dulu. Hm.

Please follow and like us: