Makassar Barrier Free Tourism, bisa?

 

Di Jakarta, teman-teman seperti Mbak Cucu dan suaminya, Kang Faisal Rusdi (keduanya kini sedang studi di Australia) menjalankan sebuah program bernama Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT). Acaranya sederhana. Setiap hari libur, hari Minggu, bersama belasan sampai puluhan partisipan pergi bertamasya di beberapa tempat wisata di Jakarta. Selain untuk membiasakan orang-orang Jakarta melihat dan berinteraksi dengan difabel, rombongan JBFT ini juga menilai seberapa akses tempat-tempat publik itu bagi difabel.

Dari video beberapa kegiatan yang disiarkan teman JBFT di Youtube, tampak kegiatan itu dilakukan dengan riang gembira. Ya, seharusnya piknik memang identik keceriaan dan kegemberiaan. Walaupun keceriaan itu kadang sirna karena beberapa hambatan yang ditemui difabel akibat desain fisik area yang tidak sesuai dengan mereka. Misalnya jika jalan tidak akses, maka mereka menjadi harus bergantung kepada bantuan seseorang. Tetapi dalam konteks ini, gagalnya sebuah desain tempat publik memenuhi hak pengguna jalan maupun gedung merupakan sebentuk ‘kritik langsung’ yang mengena telak ke dada para pemberi layanan publik, plus para desainer yang kurang kreatif dan kurang luas pengetahuannya soal manusia.

Aktivitas JBFT yang positif itu patut ditiru. Kami di PERDIK berpikir untuk melakukan hal yang secara substansial sama namun dengan cara berbeda. Misalnya, kampanye mainstreaming isu disabilitas di Pantai Losari. Mengapa Pantai Losari?

Setiap Minggu pagi di Pantai Losari berlaku ketentuan ‘Car Free Day’ atau jalan raya tanpa mesin dan deru kendaraan. Orang-orang baik sendiri, berkelompok maupun yang berkeluarga datang menikmati hari pagi dengan berjalan kaki. Ada banyak hal yang bisa menghibur diri kita sebagai orang kota. Keramaian adalah salah satunya.

Saat ini trotoar di sepanjang pantai Losari bisa dibilang bagus dan akses bagi difabel netra. Guiding blocknya tersedia. Eh, tapi tak semua orang rupanya tahu apa itu guiding blocl di trotoar. Kebanyakan mungkin hanya mengira ubin kuning bergaris itu hanya hiasan lantai belaka. Tidak sosodara, itu adalah panduan rabaan tongkat atau tapak kaki difabel netra.

Ketidaktahuan sejumlah orang akan fungsi-fungsi aksesibilitas itu sebenarnya bisa dipahami. Salah satunya adalah kurangnya difabel netra yang menggunakannya dan memperlihatkan kepada orang-orang, baik sebagai pemilik toko, tukang parker atau pedagang jalanan yang biasanya dengan sewenang-wenang menutup guiding block itu.

Nah, untuk kepentingan berkampanye isu disabilitas itu, mengapa tidak kami manfaatkan saja momen Car Free Day itu untuk memberikan pelajaran penting ke warga kota?

PERDIK bisa mengorganisir untuk melakukan kampanye itu. Dan kami percaya ada begitu banyak kelompok atau komunitas warga di kota ini yang bisa diajak bekerja bersama. Bukankah partisipan JBFT juga sesungguhnya berasal dari beragam organisasi dan bukan hanya diikuti oleh difabel saja. Lagi pula, sebagaimana PERDIK pernah utarakan dalam postingan lain, ada lembaga bernama Accesseible Indonesia yang konsern kepada isu ‘Tourism for All’ dan lembaga ini bisa saja membantu atau bermitra untuk berkampanye.

Sebutlah misalnya pada minggu pertama, kita hanya mengusung isu soal Difabel Netra. Pertama kita bisa buat lokasi nongkrong di sana dan membawa sejumlah alat-alat pendidikan, alat-alat bantu difabel netra, serta beberapa contoh alat bantu kesehatan dan memperlihatkan ke pejalan kaki tentang semua hal terkait isu difabel netra ini. Lalu, bisa pula beberapa difabel netra mempraktikkan atau mencoba trotoar akses tadi serta menilai apakah sudah memenuhi standar aksesibilitas atau tidak. Jika benar-benar ada pengguna yang sewenang-wenang merampas sejumlah ubin kotak kuning sebagai guiding block itu menjadi area berjualan, papan reklame atau lainnya maka kita bisa langsung memberinya teguran bahwa tidak semestinya mereka menutup jalan bagi difabel itu.

Jika kegiatan masih berlanjut, maka kunjungan minggu kedua isu kampanye bisa diubah dengan peserta berbeda. Misalnya, temanya adalah Budaya Tuli. Baik sekali memperlihatkan bahwa Tuli bisa berkomunikasi satu sama lain. Persoalannya hanya pada kita yang tidak paham berbahasa isyarat itu.

Pendeknya ada banya cara dan kegiatan kreatif bisa dilakukan. Sisa bentuk tim, buat rencana, cari dan kumpul simpatisan atau relawan, lalu pergi piknik sambil berkampanye!

Tertarik ikut? AYO Gabung!!!

Makassar, 30 Januari 2017

Please follow and like us: