Praktik Jurnalisme Solusi sebagai Alat Gerakan Difabel Membangun Kesadaran Kritis Warga

jurnalisme-solusi1

DALAM DISKUSI kecil bertajuk peran media dalam gerakan difabel di Sulawesi Selatan, 22 Januari 2017 lalu, terbersit satu gagasan yang mengerucut. Pada intinya, baik pengurus PERDIK maupun pewarta yang turut dalam diskusi baik dari media cetak/online maupun televisi sepakat bahwa Media adalah Pembentuk opini warga yang paling berpengaruh dalam membentuk cara pandang dan perilaku seseorang.

Menurut Ketua PERDIK, Ishak Salim, dalam konteks isu disabilitas, persoalan-persoalan terkait marjinalisasi, sub-ordinasi, pemiskinan, dan stigmatisasi terhadap difabel salah satunya adalah efek dari cara media menampilkan difabel dalam pemberitaannya. Isi media kemudian dikonsumsi oleh pengambil kebijakan, tenaga pendidik sampai orang-orang di tingkat rumah tangga. Selain itu, banyak pelaku media khususnya media mainstream terlalu mengabdi kepada pemilik perusahaan yang sayangnya lebih mengandalkan ‘lakunya’ berita ketimbang membangun kesadaran kritis warga. Meningkatnya oplah kerap ditopang oleh cara pewarta yang lebih mengeksploitasi sisi disabilitas seseorang ketimbang sisi bermartabat seorang difabel. Efeknya adalah Difabel menerima beragam label yang justru mendiskreditkan mereka, seperti difabel adalah orang sakit, objek amal, patut dikasihani, tidak mampu, beban sosial, memiliki dosa masa lalu, dan seterusnya.

Perlindungan Hak Difabel sebagaimana tertuang dalam CRPD yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia pada 2009 dan menuangkannya ke dalam UU No. 8 tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas sesungguhnya semakin memperkuat posisi difabel. Namun, mengingat nilai-nilai itu belum sepenuhnya dipahami oleh banyak pihak, maka saat ini amat penting menyebarluaskan nilai-nilai tersebut dan mempraktikkannya di setiap daerah hingga di level pemerintahan terendah seperti desa atau kelurahan. Media, sebagai alat yang dipercaya oleh aktivis gerakan difabel dalam hal ini PERDIK sebagai sarana paling baik menyebarkan nilai-nilai tersebut kepada masyarakat luas dan alat pendidikan yang baik perlu menjadi prioritas untuk dipedomani para pengelolanya.

“Ada satu praktik baru dalam jurnalisme yang saat ini sedang berkembang, yakni the solutions journalism,” ujar Ishak dalam diskusi kecil di Wisma Tamu Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya.

Praktik Jurnalisme solusi berbeda dengan cara jurnalis memaparkan berita pada umumnya, yakni hanya sekadar memparkan fakta di lapangan. Dalam Jurnalisme solusi, fakta—khususnya pemaparan permasalahan ditulis dan dilengkapi dengan apa yang seharusnya masih perlu dilakukan baik oleh orang perorang, institusi maupun pihak lainnya yang terkait dengan isu disabilitas, yakni sebentuk gagasan atau praktik yang bersifat ‘jalan keluar’.

jurnalisme-solusi2

Menurut Ishak yang merujuk kepada hasil penelitian penggagas Jurnalisme solusi ini, berita yang dipaparkan hanya berdasarkan fakta (atau disebut versi pemberitaan tanpa solusi) tidak mengikat pembaca dibandingkan dengan pemberitaan (dengan versi plus solusi) yang lebih berhasil mengikat pembaca untuk memperhatikan isu yang dipaparkan dan bahkan bersedia dengan senang hati menyebarluaskannya di medsos jaringannya untuk menarik perhatian lebih banyak orang.

Untuk membangun praktik Jurnalisme Solusi, PERDIK mengajak kawan-kawan media serta bekerjasama untuk memperjuangkan nasib difabel.

Lagi pula, sampai saat ini, di Sulawesi Selatan belum tersedia media khusus difabel yang dengan mudah (akses) dijangkau oleh difabel dan pihak lain yang konsern atau peduli kepada isu disabilitas. Dengan tersedianya media junalisme solusi ini, maka upaya penyebaran informasi positif difabel akan mengimbangi pola pemberitaan negatif terhadap difabel. Selain itu, mengingat membangun “Rintisan Jurnalisme Solusi” ini nantinya akan didukung oleh para jurnalis dari berbagai media massa maka dengan sendirinya akan menambah pengetahuan para jurnalis terkait ketentuan pemberitaan difabel yang benar.

Apa yang bisa diubah oleh praktik Jurnalisme Solusi?

 Perubahan yang diharapkan terjadi pertama-tama adalah cara pandang warga, pelaku media dan negara terkait difabel. Berubahnya cara pandang ini, menurut keyakinan PERDIK yang didasarkan pada sejumlah kisah sukses praktik jurnalisme solusi akan mempengaruhi perubahan kebijakan dan praktik perlindungan dan pemberdayaan difabel berdasarkan ketentuan CRPD (Konvensi Hak-Hak Difabel).

Kedua adalah perubaha dalam perilaku masyarakat dan pemerintah dalam memandang difabel. Difabel seharusnya tidak lagi dipandang sebagai orang tidak mampu, sakit, dan beban keluarga, melainkan difabel adalah aset sepanjang diberikan akses untuk beraktivitas dan berpartisipasi dalam ranah sosial. Tentunya, desain-desain sosial mencakup seluruh sektor penghidupan difabel dapat mengalami penyesuaian-penyesuaian (desain/redesain) guna memudahkan pencapaian tersebut.

Setelah menyepakati perlunya mencoba model Jurnalisme Solusi ini, kolaborasi PERDIK dengan Media nantinya akan memulainya dengan mendiskusikannya lebih jauh dengan kawan-kawan media secara lebih luas. Kebetulan, Ketua Aliansi Jurnalistik Independen Kota Makassar, Agam Qodri Sofyan menginisiasi diskusi soal Peran Media dalam mendorong perjuangan difabel di Kota Makassar, pada 28 Januari 2017 di sekretariat AJI.

Selanjutnya, dalam waktu dekat, akan terbentuk tim yang akan memulai mempraktikkan gagasan ini melalui pembelian domain dan hosting khusus dan sedapat mungkin di desain seaksesibel mungkin. Akses bagi pembaca difabel netra, baik buta maupun low vision, maupun Tuli. Setelah desain website ini jadi, aka nada perekrutan calon jurnalis, khususnya dari kalangan muda difabel maupun non-difabel untuk menjalani praktik Jurnalisme Solusi ini. Mereka merupakan contributor yang boleh jadi tinggal di luar kota Makassar.  Hal penting lain, dalam kurun waktu tertentu semisal dua-bulanan akan diadakan diskusi rutin membahas liputan baik secara tematik untuk kemudian didorong isunya ke pengambil kebijakan maupun mendiskusikan aspek teknis lainnya misalnya pendalaman keterampilan para contributor ini. Entah itu melalui pelatihan investigative reporting ataupun keterampilan lainnya. Ke depan, syukur-syukur kalau pengalaman ini kemudian bisa dibukukan dan menjadi panduan bagi pihak lain untuk juga mengembangkan jurnalisme solusi.

Tetapi, bagaimanapun optimisnya para penggagas jurnalisme solusi ini, tetap ada celah yang bisa membuatnya gagal. Misalnya, rendahnya kemampuan jurnalis ‘Jurnalisme Solusi’ sehingga isi beritanya kurang Memenuhi Aspek atau ketentuan jurnalisme solusi. Kedua adalah adanya pengunduran diri jurnalis karena berbagai alasan (seperti menurunnya komitmen) sehingga membutuhkan lagi perekrutan dan penjelasan baru terkait perspektif difabilitas. Ketiga, tidak aksesnya portal jurnalisme solusi bagi user atau penikmat berita.

jurnalisme-solusi3

Untuk mengatasi tantangan tersebut, maka ke depan, pengurus PERDIK melalui direktur PERDIK Abdul Rahman akan menyiapkan Standar Operasional Kerja (SOP) bagi anggota tim Jurnalisme Solusi dan melakukan evaluasi kinerja secara berkala. Selain itu, untuk menjamin tersedianya portal media online yang akses bagi segala jenis difabel, maka PERDIK akan mendiskusikan rancangan laman dengan organisasi difabel di Makassar, seperti Pertuni, Gerkatin, Permata (Mandiri Kusta), HWDI maupun difabel lainnya yang tidak tergabung dalam organisasi difabel manapun. Informasi dari pengguna terkait aksesibilitasakan menjadi dasar desain laman dan aspek teknis sistem informasi dan komunikasi lainnya.

Tetapi, ini masih gagasan. Sore nanti, dalam diskusi dengan AJI Kota Makassar boleh jadi gagasan ini akan mendapatkan kritik. Tentu saja, bagi PERDIK, gagasan yang baik harus selalu terbuka dan siap untuk dikeroyok. Semoga gagasan ini bisa terlaksana[]

 

Please follow and like us: