Telah Terbit Jurnal DIFABEL Vol. 3 Bertema Pendidikan Inklusi

Kawan-kawan sekalian, Jurnal DIFABEL yang diterbitkan SIGAB secara berkala kini telah terbit untuk tahun 2016. Jurnal ini di review oleh Dr. Ro’fah sebagai ahli studi disabilitas dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bagi Anda yang tertarik isu difabilitas, khususnya isu Pendidikan Inklusi, sila dipesan melalui PERDIK Sulsel, hubungi email perdiksulsel@gmail.com atau WA di 08124106722. Harganya Rp. 40.000 (diluar ongkos kirim).

Berikut kami tampilkan Review singkat dari Ibu Dr. Ro’fah. Selamat membaca.

16128930_10154738148252419_187169394_n

INCLUSION IS…

Ro’fah, MA., Ph.D (Pendiri Pusat Studi Layanan Difabel (PSLD) dan Dosen Pascasarjana, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Email: roma1399@yahoo.com)

A way of thinking

A way of being

And a way of making decision

About helping everyone belong

Kutipan sederhana diatas menggambarkan hal fundamental yang sering terlupakan dalam narasi pendidikan inklusif. Kebijakan, ruang-ruang seminar, dan halaman jurnal akademik tentang pendidikan inklusif, selama ini masih terlalu fokus pada isu perbedaan dan sumberdaya: guru pendamping khusus, assessment, modifikasi kurikulum untuk siswa dan mahasiswa yang berbeda. Adapun aspek yang sangat fundamental, yakni perspektif, cara pandang, dan cara berpikir tentang perbedaan dan inklu­sivitas, masih berada di pinggiran.

Inklusif adalah ideologi atau keyakinan bahwa semua dunia ini milik semua orang, dan karenanya semua orang tanpa kecuali, punya hak untuk menjadi bagian (belong). Bahwa pendidikan adalah milik semua individu –dan karenanya semua siswa dan mahasiswa, apapun kondisinya– perlu menjadi bagian dari pendidikan. Inklusi adalah ketika perbedaan dianggap sebagai se­suatu yang wajar. Sebuah fenomena alami dari kehidupan manusia. Perbedaan bukanlah alasan untuk “membedakan” (othering), apalagi sampai memisahkan.

Tentu saja pendapat tentang aspek fundamental dari pendidikan inklusif diatas tidak dimaksudkan untuk menafikan pentingnya bicara implementasi dan strategi. Melangkah dari “why” (mengapa inklusi penting) menuju “how” (bagaimana inklusi harus dilakukan) adalah agenda penting, karena dengan “how” itulah pendidikan inklusif menjadi realitas di ruang kelas, di ruang rapat, bahkan perbincangan ringan di gardu ronda. Namun upaya dan diskusi “how” tersebut harus dibangun berdasarkan narasi inklusivitas, bukan narasi perbedaan. Mengutip Roger Slee, salah satu maha guru pendidikan inklusif. “Perhaps the question now is not so much how do we move ‘towards inclusion’ but what do we do to disrupt the construction of centre from which exclusion derives” (Slee: 2006).

Kata Slee, yang sekarang juga penting dilakukan bukan hanya bagaimana kita melangkah menuju inklusif, tetapi apa yang harus kita lakukan untuk menginterupsi konstruksi dominan (tentang perbedaan dan pendidikan) yang menjadi sumber dari eklusivitas itu sendiri. Dengan kata lain, kita perlu menengok kembali secara kritis: bagaimana konsepsi kita tentang pendidikan dan sekolah? Apa yang kita harapkan dari pendidikan dan sekolah? Apakah menjadi tempat untuk semua, ataukah hanya untuk mereka yang “berduit”, pinter, normal, dan mampu mengikuti norma sosial?

Tulisan Setya Adi Purwanta mengajak kita melihat pendidikan dari mazhab kritis. Mempertanyakan apa yang tadi sudah disebut Slee sebagai “center” atau paradigma dominan tentang pendidikan. Demikian juga tulisan mengenai aplikasi konsep pendidikan tertindasnya Paulo Freire dalam wacana pen­didikan inklusif, yang mengatakan bahwa konsep Friere bisa dipinjam untuk bisa “memanusiakan” difabel dalam wacana pendidikan inklusif.

Ini menunjukan kita perlu menginklusifkan narasi pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif harus menjadi bagian dari perbincangan semua hal dan semua pihak: lintas disiplin, lintas sektor. Ketika narasi perbedaan, spesial, dan khusus masih mendominasi wacana pendidikan inklusif, maka cerita penolakan anak difabel di sekolah masih akan terjadi. Maka seorang dosen di perguruan tinggi masih akan mengatakan bahwa bidang keilmuannya secara inheren tidak bisa dipelajari oleh mereka yang memiliki indra berbeda. Ketika narasi perbedaan masih menjadi ukuran, maka label “anak inklusi” masih menjadi fenomena umum yang kita jumpai di sekolah, tanpa dipersoalkan bahwa label adalah pintu masuk bagi eksklusivitas.

Salam Inklusi!

lihat juga link berikut

https://www.sigab.or.id/id/content/jurnal-difabel-3-problem-dan-tantangan-pendidikan-inklusi-di-indonesia

 

16176111_10154738148947419_125105256_n

Please follow and like us: