GAGASAN MENUJU WISATA SULAWESI SELATAN AKSES BAGI SEMUA!

Press Release PERDIK SULSEL

Makassar, 17 Januari 2017

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bagi kebanyakan orang yang mengetahui indahnya alam Tana Toraja dan kekayaan budaya yang dimilikinya, dapat mengunjunginya dengan mudah adalah impian yang menyenangkan. Bagi kita yang tinggal di kota Makassar, walaupun jaraknya lebih 200 km, tetaplah jauh lebih mudah dibandingkan dengan orang dari luar pulau Sulawesi. Berwisata menikmati keindahan alam dan keragaman budaya manusia merupakan suatu hal yang perlu dilakukan setiap orang. Apalagi orang-orang yang kota dengan kesibukan sehari-hari yang melelahkan. Berwisata sejenak selama dua tiga hari di saat weekend adalah jalan keluar menyiapkan semangat prima di esok harinya.

Pendeknya, Berwisata adalah peristiwa yang menyenangkan setiap orang.

Tetapi, apakah di setiap tempat wisata memang dapat menyenangkan semua pengunjungnya? Tentu saja jawabannya bergantung kepada pengunjung itu sendiri. Lalu siapakah pengunjung yang saat ini paling kesulitan untuk menikmati berbagai arena dan kegiatan wisata? Kita bisa menguraikan beberapa tipe pengunjung. Tetapi dua di antara pengunjung yang dapat menemui kesulitan dalam menikmati wisata adalah para lansia dan difabel.

Mengapa difabel akan menghadapi kesulitan dalam berwisata dan bagaimana mengatasi kesulitan itu?

Dua pertanyaan inilah yang menjadi bahan diskusi di kantor Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetraan, Perdik Sulsel pada 10 Januari 2017 yang lalu. Perwakilan dari Accessible Indonesia datang berkunjung khusus mendiskusikan mengenai peluang membangun wisata akses bagi semua di Sulawesi Selatan (lihat di http://accessibleindonesia.org).

Direktur Perdik SulSel, Abd Rahman menerima kunjungan tersebut dan menyampaikan bahwa gagasan memperbaiki aksesibilitas wisata bagi difabel adalah hal yang sangat diperlukan.

“Kalau Tana Toraja dan beberapa wilayah di Sulawesi Selatan akses bagi difabel, baik itu dari aspek transportasi, hotel dan penginapan, dan ketersediaan informasi yang akses bagi difabel, maka berwisata bukan lagi menjadi konsumsi orang-orang yang secara fisik maupun mental tidak terkendala,” ujar Rahman. Ia mencontohkan beberapa rekan difabel yang memakai kursi roda, kruk, atau buta maupun tuli yang kesulitan menikmati daerah-daerah wisata.

“Bukan pada kondisi fisik kami yang membuat kami tidak dapat menikmati wisata sebagaimana pengunjung pada umumnya, tetapi desain area wisata dan kebijakan turismelah yang membuat kami tidak dapat menikmati berwisata,” katanya mengkritisi desain wisata yang tidak akses yang ada saat ini.

“Makanya kami sangat merespon baik rencana Accessible Indonesia untuk memulai memikirkan dan mencoba agar area-area wisata di Sulawesi Selatan bisa akses dan memudahkan siapapun,” lanjut Rahman merespon gagasan tim dari Accessible Indonesia dan Vifa Holiday.

Dari diskusi ‘aksesibilitas wisata untuk semua’ yang dihadiri oleh sejumlah pengurus PERDIK dan pihak Accessible Indonesia ini kemudian menyepakati beberapa hal untuk ditindaklanjuti. Pertama, pihak Accessible Indonesia, dalam hal ini Ibu Kerstin akan menyiapkan TOR yang akan diajukan kepada perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang wisata untuk mendanai upaya wisata difabel sekaligus membuat penilaian seberapa akses area wisata itu bagi difabel. Kedua, dari hasil kunjungan itu, setiap difabel akan menyampaikan opininya berupa masukan atau saran perbaikan. Pada poin kedua ini, PERDIK Sulsel bersedia melanjutkan upaya advokasi kebijakan baik kepada pemerintah kota/kabupaten setempat maupun kepada setiap pengelola wisata baik perusahaan perhotelan, transportasi dan lain-lain.

“Tanpa advokasi maka proses menuju turisme yang akses bagi semua akan lama dan tidak terjamin ada perubahan,” ujar Ishak Salim pengurus Board PERDIK SulSel. “Jadi, bagi PERDIK, riset dan advokasi adalah dua sisi dari mata uang. Hasil riset akan jadi bahan advokasi untuk mengubah kebijakan,” demikian ujar Ishak yang saat ini sedang menyelesaikan riset doktoralnya yang berjudul ‘Politik Pencacatan di Indonesia’.

Sore itu, Kerstin memaparkan sejumlah rencana berwisata ini. Selain menyiapkan tim, wilayah lokasi wisata yang akan dikunjungi selama sekian hari juga didiskusikan. Rencananya, aksi berwisata ini akan dilakukan pada akhir Februari 2017.

Hari pertama, para turis difabel dan sejumlah pendamping akan berangkat tepat pukul 8 pagi menuju area wisata Leang-Leang Maros. Lalu, selama satu sampai dua jam menikmati Taman Batu purba di sana. Dari Leang-leang kami akan bergerak menuju kota Sengkang melalui jalur Camba yang memiliki panorama indah. Di Sengkang, kami akan mengunjungi usaha kain sutra dan ke danau Tempe. Kami akan bermalam di Sengkang dan melajutkan perjalanan esok harinya.

Hari Kedua, pagi pukul 8 kami sudah menuju Tana Toraja dan singgah di Rumah makan Bukit Indah di kota Pare-pare dan lanjut ke Gunung Nona melihat pemandangan gunung yang unik. Tiba di Rantepao kami akan langsung beristirahat dan makan malam di penginapan.

Hari Ketiga, kami akan menuju area wisata Suaya, Kambira dan menikmati desa wisata di sana, lalu ke Lemo dan Londa.

Hari keempat, kami akan ke Batutumonga lalu ke Lokomata. Siang atau sore kami lanjutkan ke Kete Kesu.

Hari kelima, kami sudah kembali ke Makassar dan setelah itu sambil setiap peserta membuat penilaian aksesibilitasnya kami mengagendakan briefing untuk berbagi pengalaman sebagai bahan menyiapkan konsep Turisme AKses Bagi Semua di Sulawesi Selatan[].

Please follow and like us: