PERDIK terkait Kekerasan Seksual atas Anak Perempuan Difabel di Pasar Terong

Press Releas, Makassar, 9 Januari 2017

perempuan-difabel-berhadapan-dengan-hukum

Sejak tersiarnya berita pemerkosaan terhadap seorang gadis berusia 15 tahun di Pasar Terong, banyak pihak, khususnya dari media menghubungi PERDIK Sulsel. Pasalnya, korban adalah gadis dengan kondisi tuli dan bisu. Menurut Abd. Rahman, direktur Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan, korban kekerasan seksual, apalagi jika ia seorang Tuli harus mendapatkan perlakuan khusus (baca link http://news.rakyatku.com/read/34307/2017/01/08/gadis-tuna-wicara-diperkosa-di-pasar-terong ).

“Ada beberapa hal mengapa perlakuan khusus perlu diberikan kepada korban. Pertama, karena ia Difabel Sensorik dalam hal ini tuli, maka ia seharusnya didampingi oleh seorang interpreter bahasa isyarat untuk memudahkannya menyampaikan keterangan. Kedua, kondisi korban kekerasan seksual seringkali mengalami shock dan trauma dan untuk itu korban harus mendapatkan dukungan dan perlindungan baik dari pihak keluarga, kerabat dan masyarakat di sekitarnya maupun dari berbagai elemen organisasi masyarakat sipil,” demikian ujar Rahman malam tadi.

Semalam, Rahman berupaya mencari tahu apakah korban memahami bahasa isyarat formal seperti SIBI (Sistem Isyarat Indonesia) atau BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia)  atau justru tidak mengerti bahasa isyarat sama sekali. Hal ini penting untuk segera dipastikan mengingat korban sudah harus melalui sejumlah proses hukum yang menuntut adanya komunikasi dua arah secara setara.

“Semalam, beberapa menit setelah berita pertama berita kekerasan seksual itu disiarkan, kami segera berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait. Mulai dari memastikan kebenaran berita itu kepada tim media, pemerintah kota dalam hal ini walikota Makassar, sampai kepada Jaringan Organisasi peduli perempuan dan anak,” kata Rahman di kantor PERDIK.

Berkat koordinasi itu, banyak pihak kemudian memberikan perhatian dan dukungan kepada korban dan berharap agar proses hukum dapat berjalan dengan baik.

“Kami sangat berharap agar proses hukum berjalan baik, khususnya jika dalam kasus ini sang korban adalah difabel,” ujar Rahman yang pagi ini akan menghimpun dukungan khususnya di lingkungan Pasar Terong sendiri di mana keluarga korban tinggal.

Berdasarkan informasi Abd. Rahman, PERDIK Sulsel memiliki informasi terkait pedoman pendampingan korban kekerasan seksual atas difabel, baik difabel sebagai korban, saksi maupun tersangka atau pelaku. Misalnya, korban harus segera didampingi oleh lembaga khusus, apalagi jika korban kekerasan seksual ini memenuhi beberapa kriteria kerentanan seperti masih berusia kanak-kanak, perempuan, Tuli, dan berasal dari keluarga tidak mampu. Kedua, memastikan pendamping korban memahami sejumlah prinsip dalam pendampingan korban difabel. Beberapa prinsip itu misalnya pendamping tidak malah menyalahkan korban atas kejadian yang menimpanya, memastikan bahwa pelaku kekerasan adalah orang yang harus bertanggungjawab dan baik masyarakat maupun pemerintah harus pula memberikan dukungan untuk terus melindungi korban. Selain itu, pendamping harus memastikan agar korban merasa nyaman dan bersedia mengikuti keseluruhan proses hukum dan di sisi lain memperlakukan korban secara setara dengan perspektif gender dan disabilitas yang tepat.

Dari penelusuran Rahman semalam, korban diketahui tidak mengikuti proses pendidikan sebagaimana layaknya anak-anak. Dalam kondisi Tuli, anak difabel seharusnya bersekolah agar ia bisa belajar bahasa isyarat, baik SIBI maupun BISINDO. Mengapa? Karena bagi Tuli, bahasa isyarat adalah identitas atau hak berkomunikasi yang harus dimilikinya. Tanpa bahasa maka akan sulit baginya menerima dan menyerap serta memberikan informasi dan berkomunikasi secara dua arah.

Lebih lanjut Rahman menyatakan bahwa adanya kasus anak perempuan difabel mengalami tindak kekerasan seksual semakin menunjukkan adanya hubungan yang saling terkait antara kondisi disabilitas seseorang dengan kemiskinan. Ini dikenal sebagai lingkaran setan kemiskinan. Jika anda miskin, maka anda akan rentan menjadi difabel. Begitu pula sebaliknya, jika anda difabel maka karena berbagai hambatan sosial yang menghadang dan berbagai stigma negatif maka difabel akan kesulitan mengakses pekerjaan atau sumber-sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Harapan kami, baik pemerintah maupun masyarakat luas memberikan dukungan dan mengawasi agar proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Pihak kepolisian yang sedang melakukan penyidikan dan penyelidikan kami berharap agar tetap berkomunikasi dengan kawan-kawan dari berbagai organisasi yang peduli soal disabilitas dan ke depan, kami berharap agar pihak kepolisian dan lembaga peradilan lainnya memikirkan untuk mulai membuka Unit Layanan Disabilitas di kantornya masing-masing,” ujar Rahman penuh harap[].

Please follow and like us: