Orang Makassar dan Kaitannya Dengan Ditemukannya Huruf Braille*

apa-itu-brailleSUATU KETIKA, Nappo Daeng Liong Battu Ri Bonerate sedang memimpin pasukan dan bersiap menaklukkan musuh di Tanah Perancis. Tidak tanggung-tanggung, perwira asal Selayar berperawakan pendek ini sudah berkali-kali memenangkan berbagai pertempuran bahkan beberapa peperangan di sana. Ia sudah nyaris membawa Imperium Perancis di puncak kejayaannya.

Di awal abad ke-19, ada satu perang yang harus dimenangkannya dan ia membutuhkan satu bentuk ‘komunikasi senyap’ di malam gulita. Begitu pentingnya pergerakan pasukan di malam hari sehingga harus ada satu kode rahasia yang tak dapat dibaca musuh.

Ia lalu memerintahkan salah satu rekannya asal Sulawesi yang bernama Daeng Se’re yang saat itu turut dalam pasukan. Ia tahu Daeng Se’re salah satu pasukan yang pandai beberapa bahasa asing dan cakap dalam soal keaksaraan. Ia memanggil Daeng Se’re ke ruang meeting para Jenderal.

Saat di tengah para perwira militer, Daeng Liong menyampaikan maksudnya ke Daeng Se’re dalam bahasa Makassar yang kental logat Takalarnya. Maklum, Daeng Se’re asli Takalar dan Daeng Liong sewaktu kecil sempat lama tinggal bersama salah seorang Karaeng dari Sanrobone. Perwira-perwira asal Perancis yang ada saat itu tidak tahu apa persisnya yang mereka bicarakan.

Berkatalah Daeng Liong kepada Daeng Se’re, “Daeng Se’re, buatlah satu kode rahasia untuk kita bisa berkomunikasi di gelapnya malam tanpa berbicara,” ujar Nappo Daeng Liong. Daeng Liong memberikan gambaran pertempuran yang akan mereka hadapi dan Daeng Se’re manggut-manggut tanda mengerti. Ia pun berpamitan dan meminta waktu beberapa hari.

Singkat cerita, Daeng Se’re berhasil menciptakan satu kode yang disebutnya dalam bahasa Perancis “Ecriture Nocturne” atau ‘tulisan malam’. Ini adalah sistem aksara dengan menggunakan titik-titik timbul dengan rumus yang dibuat dari 36 kotak (6X6). Tentu saja sistem aksara malam ini cukup rumit, tapi Daeng Se’re dapat menyederhanakan penyampaiannya kepada para spionase alias mata-mata Daeng Liong.

Akhirnya, dengan cara ini, komunikasi dalam perang khususnya di tengah pasukan Nappo Daeng Liong berhasil dijalankan dan perang lagi-lagi berhasil dimenangkan.

Beberapa tahun kemudian, pada 1821, para siswa di Royal Institution for Blind Youth atau sekolah untuk para siswa buta di Paris meminta agar Daeng Se’re memperkenalkan sistem aksara itu agar bisa dipakai membaca oleh orang buta. Ia pun mempresentasikannya walaupun ia ragu sistem huruf ini bisa dengan mudah digunakan.

Kebetulan, salah satu anak yang mengikuti pelajaran ‘tulisan malam’ itu adalah Louis Braille, anak Perancis yang buta sejak usia 3 tahun. Ia mengikuti pelajaran tersebut secara seksama dan berpikir bahwa kelak ia harus menyederhanakan sistem aksara ini. Memang dia anak yang cerdas. Tapi walaupun cerdas, ia menyimpan kejengkelan karena tak ada satupun buku di perpustakaan yang akses bagi dirinya yang buta. Dita

mbah lagi, Louis Braille tidak dapat menulis apapun yang ia ketahui untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Ia hanya harus menghapalnya dan menyimpannya dalam memori di kepalanya dan menyampaikannya secara verbal.

Karena pintar, akhirnya Louis Braille berhasil memodifikasi aksara Daeng Se’re itu dengan sistem yang lebih sederhana (2 kolom; 6 baris). Saat remaja, sekitar usia 20 tahun, sistem aksara timbul itu semakin sempurna dan ia pun meminta kepada pihak sekolah agar mengizinkannya menggunakan aksara itu untuk memberi kemudahan kepada murid buta agar dapat menulis dan membaca dengan mudah. Akhirnya, huruf braille itupun berhasil diterima sebagai kurikulum membaca dan menulis di sekolah-sekolah di Perancis.

Demikianlah, atas penghargaan kepada Louis Braille, hari kelahirannya, 4 Januari diperingati sebagai Hari Braille se-Dunia, dan tahun ini sudah memasuki tahun ke-208.

Lalu siapakah sebenarnya kedua orang Makassar yang diceritakan di atas? Nah, konon kabarnya, Nappo Daeng Liong Battu Ri Bonerate itu adalah NAPOLEON BONAPARTE dan Daeng Se’re itu adalah CHARLES BARBIER DE LA SERRE.

Tentu saja cerita Napoleon dan De La Serre sebagai Daeng Liong dan Daeng Se’re hanya humor belaka. Dan untuk itu, sebagai orang Bugis yang menghargai upaya Louis Braille menyempurnakan aksara De La Serre dan kemudian menjadi apa yang saat ini dikenal sebagai aksara braille, saya ingin mengucapkan:

“Selamat Hari Kelahiran Louis Braille!”

Kontribusimu untuk difabel Netra di seluruh dunia sungguh besar sekali. Dari sana telah lahir begitu banyak difabel netra yang melek pengetahuan dan berkontribusi untuk kesejahteraan ummat manusia.

Bayangkan jika Louis Braille tidak membuat aksara itu, manalah mungkin Walikota Makassar bulan lalu, 3 Desember 2016 mendapatkan penghargaan Rekor MURI atas upayanya menghadirkan relawan juru ketik untuk 50 ribu buku yang akan ia transfer menjadi 50 ribu buku bercetak braille.

Benar tidaknya 50 ribu buku itu dicetak dalam huruf braille, soal untuk itu, saya Wallahu ‘alam bishshowab!

 

*ditulis oleh Ishak Salim

——————————————————————————-

Tambahan informasi:

Beberapa hal dan dampak penting setelah huruf Braille diterima di banyak negara:

1. Kode Braille sering disalahpahami sebagai sistem bahasa yang berbeda. Hal ini sebenarnya merupakan alternatif huruf yang dapat digunakan dalam bahasa manapun. Alih-alih berbentuk karakter, Kode Braille hanya terdiri dari titik-titik timbul di atas kertas.

2. Selain menyempurnakan huruf braille, Louis Braille juga mengembangkan seperangkat huruf untuk notasi musik. Saat ini, hampir setiap bahasa, termasuk bahasa komputer, memiliki versi Braille.

3. Braille terinspirasi oleh ‘desain kode’ seorang Perwira Perancis bernama Charles Barbier de la Serre, di mana saat itu atas permintaan Napoleon Bonaparte untuk membuat ‘sistem penulisan malam’ dalam situasi perang.

4. Orang menggunakan papan tulis (slate, regleta braille), pena tindis (stylus) untuk menulis serta kertas agak tebal (paper) dalam metode Braille. Teknik penulisan tetap sama seperti menulis atau mencetak di kertas.

5. The World Blind Union pada 2014/5 mengampanyekan soal Hak Membaca pada pertemuan/perjanjian Marrakesh. Perjanjian itu akan menjamin bahwa undang-undang hak cipta internasional termasuk bahan bacaan dalam format yang mudah diakses untuk individu yang memiliki hambatan visual. Saat ini, hanya 1 – 7 % dari buku yang diterbitkan di dunia yang tersedia dalam huruf Braille.

6. Huruf Braille telah menjadi bentuk yang paling dimanfaatkan dalam berbagai media alternatif di dunia. Sistem ini melayani sebagian besar penduduk dunia. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2014, terdapat 285 juta orang di dunia yang mengalami hambatan visual, di mana 39 juta benar-benar buta dan 246 juta dianggap memiliki kepekaan visual yang rendah. Sekitar 65 % dari semua orang yang memiliki hambatan visual ini berusia 50 tahun ke atas. Serta, sekitar 19 juta anak-anak dengan hambatan visual dan 1,4 juta mengalami kebutaan seumur hidupnya.

7. Di Amerika, ada sistem peringatan bagi orang-orang dengan hambatan visual. Yakni ‘Braille untuk kaki’. Tilco Vanguard mendesain ‘braille untuk kaki’ ini dan telah menjadi standar layanan publik sebagaimana diatur dalam The American Disability Act (ADA). Braille untuk kaki juga dikenal dengan nama ‘truncated domes’ yang merupakan ‘garis strip kuning cerah’ yang membantu pejalan mengidentifikasi daerah-daerah berisiko atau berbahaya dan saat tiba di ujung jalanan.

8. Negara-negara di seluruh dunia juga telah mengambil inisiatif untuk membantu pengguna Braille dalam berbagai moda pelayanan publik seperti layanan peta pengguna kereta, teknologi informasi, dan seterusnya.

Please follow and like us: