Perjuangan Menuju Puncak: Pengalaman Ekspedisi Difabel Menembus Batas 2016

img_20161203_103841_hdr

PADA 3 DESEMBER 2016, tiga pendaki difabel, Eko Peruge, Abdul Rahman, dan Risma Irmawati bersama 25 pendaki lain dari berbagai kelompok pencinta alam berhasil mencapai puncak Rante Mario, Gunung Latimojong, dengan ketinggian 3478 mdpl.  Menurut kebanyakan warga Dusun Karangan, ketiganya adalah pendaki difabel pertama yang mendaki di gunung tertinggi kelima di Indonesia. Gunung Latimojong juga dikenal sebagai “atap Sulawesi” karena tertinggi di Pulau Sulawesi. Eko mendaki dengan kruk dikarenakan kaki kanannya diamputasi saat remaja. Rahman mendaki dengan pendamping dikarenakan kedua matanya mengalami penurunan fungsi penglihatan sejak umur 12 tahun dan kini mengalami low vision kategori berat. Sementara, Risma sejak lahir memiliki perbedaan jumlah jemari di kedua tangannya sehingga memiliki perbedaan dalam menggenggam benda. Eko dan Rahman menggagas “Ekspedisi Difabel Menembus Batas” dan memulai ekspedisi pertama di Gunung Latimojong dari tujuh puncak yang direncanakan. Sebagai anggota tim ekspedisi, saya berupaya menuliskan pengalaman itu dan merefleksikan capaian ekspedisi ini.

 

SUDAH SEKITAR SATU jam para pendaki berjalan menyisir perbukitan menuju dusun Karangan, Desa Latimojong. Di sisi kiri mereka, hamparan pepohonan kopi terjajar rapi. Biji-biji kopi di pucuk-pucuk ranting di pohon-pohon itu masih muda, menghijau dan mengilap. Sesekali para pendaki juga melintasi mata air yang mengalir dengan liukan alami. Di bulan November ini, biji-biji kopi baru tumbuh. Empat bulan sebelumnya petani-petani memanen kopi mereka dan menjualnya di Pasar Baraka.

“Ke kiri sedikit, jalan becek,” ujar Yayat yang berjalan paling depan, menginformasikan kepada Rahman yang berjalan dengan trekking pole (tongkat mendaki) di belakangnya.

“Agak ke kanan, ada jurang, … menunduk sedikit,” Pendamping lain, Zainal dari Makassar Rescue memberitahu Rahman dari belakang.

“Berhenti dulu, haus ka!” ujar Rahman tampak kelelahan.

Kerongkongannya mengering dan peluh bercucuran di wajah dan punggungnya. Sejak tadi, suara serangga alam yang mendesis dan mengerik menghiburnya dalam perjalanan ini. Tapi gemercik air tiba-tiba menggetarkan gendang telinganya. Ia membayangkan jernihnya air itu dan ingin merasakan segarnya teguk demi teguk di mulut dan tenggorokannya.

Teman-temannya pun berhenti dan seseorang mengeluarkan botol plastik yang sudah tandas. Yayat memandu tangan Rahman menyentuh air yang memancar dari batang bambu yang terbelah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jalur pendaki yang saat ini mereka jalani adalah jalur pekebun kopi. Biasanya, dari Pasar Baraka, para pendaki akan langsung menuju dusun Karangan sebagai pos nol sebelum mendaki. Ada truk berukuran sedang atau hardtop yang bisa mengangkut para pendaki, khususnya di hari pasar, Senin dan Kamis. Tetapi saat ini, beberapa ruas jalan kendaraan sedang dibeton. Mobil truk hanya bisa merapat di Dusun Angin-angin dan selanjutnya mereka harus berjalan sekitar 2 jam atau mengojek.

Rahman adalah ketua Persatuan Tuna Netra Seluruh Indonesia Kota Makassar. Selain itu, bersama kawan-kawan pendaki saat ini, ia adalah direktur Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan atau PERDIK. Ia, Eko Peruge dan sejumlah aktivis PERDIK sedang memperjuangkan pengurangan stigma negatif terhadap difabel.

Stigma merupakan cap atau label yang disematkan oleh orang-orang berpengetahuan dan berkuasa. Mereka bisa berasal dari anggota keluarga difabel sampai para akademisi kampus atau penentu kebijakan publik. Mereka mampu memproduksi aneka label dengan bermacam alasan. Label itu kemudian disebarluaskan ke seluruh ruang di mana memungkinkan orang-orang meraup pengetahuan dan keuntungan tertentu. Jika label itu diakui benar, maka segeralah label itu dipakai terus menerus di dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk di dalam proyek-proyek pembangunan. Tak peduli apakah orang yang dilabeli menerima label atau tidak, bukan hal penting. Sayangnya, penolakan label-label, yang menurut difabel merugikan mereka, ternyata tidak serta merta mudah dihilangkan. Label itu melekat, diakui, dan disebarluaskan sebagai sebuah identitas baru.

Cacat, penyandang cacat, penyandang disabilitas, anak berkebutuhan khusus, penyandang masalah kesejahteraan sosial, penderita cacat, tidak sehat jasmani, keterbelakangan mental dsb adalah contoh label yang diproduksi negara melalui institusi kesehatan dan kampus. Sementara to kandala, to picco’, to kasiasi, to pepe, dan lain-lain adalah label lain yang diproduksi oleh anggota-anggota masyarakat tertentu di Sulawesi Selatan. Label itu kemudian bersentuhan dengan berbagai dinamika sosial di mana difabel hidup dan menjelma menjadi stigma yang meminggirkan, mengabaikan, bahkan memiskinkan para difabel.

Apakah kata atau istilah ‘difabel’ juga adalah sebuah label? Ya, tetapi label ini dan pelabelan istilah tersebut kepada orang-orang tertentu adalah label yang diciptakan sendiri oleh aktivis difabel. Label ini kemudian dipakai dan diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka dan membentuk suatu identitas spesifik yang tidak mendiskreditkan difabel tetapi justru menempatkan diri mereka lebih sebagai aset ketimbang beban bagi masyarakat maupun negara.

Bandingkan misalnya, difabel adalah akronim dari differently-able yang telah diindonesiakan yang berarti ‘beda kemampuan’. Sementara disabilitas adalah pengindonesiaan dari disability, yang terdiri dari dua suku kata dis-able/ability atau ‘tidak mampu’.

Gagasan di Balik Ekspedisi

Awalnya, gagasan pendakian Gunung Latimojong ini disuarakan oleh Eko sekitar 6 bulan yang lalu. Ia seorang yang memiliki beragam talenta. Umurnya muda dan semangatnya masih membara. Ia mengimpikan sebuah kelompok backpacker disabilitas kelak dan sejumlah mimpi lain untuk membantu difabel. Ia menceritakan bahwa ia pernah bertemu dengan seorang pendaki difabel asal Solo, bernama Sabar Gorky. Sama dengan dirinya, Sabar juga pernah diamputasi satu kakinya. Tetapi Sabar seorang pendaki dan pekerja keras. Saat ini Sabar sudah mendaki 4 Gunung tertinggi dunia seperti Gunung Kilimanjaro 5.892 mdpl (Tanzania, Afrika), Gunung Aconcagua 6.600 mdpl (Argentina), Gunung Elbrus 5.642 mdpl (Rusia), dan puncak Cartenz 4.884 mdpl  (Papua, Indonesia). Ia masih menginginkan menapaki puncak-puncak yang lain (sumber, akun facebook Sabar Gorky).

img20161203063329

Bagi Eko, pertemuan dengan Sabar adalah pertemuan yang memengaruhi dirinya untuk setidaknya bisa mengikuti jejak pendakian Sabar. Ia pun turut berlatih memanjat bersama Sabar saat ia berada di Solo beberapa bulan lamanya untuk melatih diri dengan sejumlah keterampilan hidup.

Pendakian gunung Latimojong yang saat ini dilakoninya dengan Rahman dan Risma (Pengurus Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia Kab. Maros) serta 25 pendaki lain dari berbagai kelompok pencinta alam dan tim media adalah gunung pertama yang didaki dalam ekspedisi ini. Mereka menyebutnya sebagai Ekspedisi Difabel Menembus Batas.

Namanya pada awalnya adalah ‘Difabel menembus batas dalam keterbatasan’. Tetapi kemudian setelah mendiskusikan bersama, kata dalam keterbatasan dihilangkan. Mengapa? Karena sesungguhnya ‘keterbatasan’ ada pada setiap orang, siapapun itu, dan keterbatasan juga bisa bertambah karena ketidaksiapan alat bantu dan desain sosial (khususnya infrastruktur publik) di luar diri seseorang.

“Jika kata ‘dalam keterbatasan’ disematkan karena ini dilakukan difabel, maka ini memperpanjang stigma atas difabel,” ujar saya saat mendiskusikan nama ekspedisi ini.

“Setiap orang punya keterbatasan tetapi tidak ada yang tahu di mana garis batas itu berada. Padahal, kita melakukan ekspedisi untuk mengeskplorasi tingkat aksesibilitas mountainering (olah raga mendaki gunung) bagi difabel dan kemudian sekaligus mengampanyekan penghapusan stigma ‘tidak berdaya’ atas difabel,” tambahku menggebu-gebu saat itu.

Setelah menerima gagasan ini dan kami berniat mewujudkannya, mulailah Rahman, Eko dan saya bergerilya mencari dukungan. Rahman memiliki jaringan perkawanan yang luas. Ia menghubungi kawan-kawannya di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Univ. Negeri Makassar (UNM), khususnya yang aktif dalam Kelompok Pencinta Alam (KPA).

Ia bertemu Fuad, kawan kuliahnya yang merupakan pengurus KPA KEPAL. Fuad kemudian menghubungi sejumlah kelompok pencinta alam di Makassar dan Enrekang. Di Makassar ia bertemu dengan pendaki-pendaki dari Forum Pencinta Lingkungan (FPL) Makassar, KPA Capung, KPA PLB UNM dan Makassar Rescue (SAR). Di Enrekang, ia juga menemui beberapa kawan dari KPA Sikolong, KPA PAKIS, khususnya Darwin dan Ma’un yang kemudian kedua orang ini mengabarkan ke KPA Buntu Batu Mario dan KPA Massenrepulu (Mapasse).

img20161203082908

Rahman juga menghubungi jaringan media di mana selama ini ia memang banyak bergaul dengan para jurnalis. Ia melempar gagasan ini di group wartawan dan kemudian group lain entah apa. Ia bertemu dengan Agam, ketua AJI Makassar yang juga bekerja di iNews (MNC connection), Celebes TV, dan pengelola RRI Pro 1. Rahman juga membuka hubungan dengan pemerintah kota Makassar dan beberapa anggota DPRD yang selama ini punya perhatian pada isu difabilitas.

Sementara Eko saat itu belum bisa banyak bergerak mengingat harus membantu Komite Paralimpic Nasional Sulawesi Selatan (NPC) untuk mempersiapkan para atlet paralimpia menjelang dan saat paralimpic games tingkat nasional berlangsung di kota Bandung. Tetapi di sela-sela kesibukannya, ia tetap menyempatkan hadir di beberapa pertemuan tim ekspedisi yang telah terbentuk. Ia merekomendasikan seorang kawan di Enrekang untuk membantu persiapan, yakni Paluphy. Paluphy adalah kawan sesama alumni PSPBDW Sulsel. Paluphy—yang memiliki usaha percetakan GENESA di Cakke, Enrekang—kemudian banyak bergerak menghubungkan tim ekspedisi ke Pemda Enrekang, khususnya Dinas Sosial Enrekang, PPDI Kab. Enrekang, dan beberapa KPA lokal.

Saya sendiri menyiapkan Terms of References Ekspedisi, berbagai narasi untuk kepentingan press release, menyiapkan dan mengisi situs web ekspedisi dengan berbagai informasi terkait ekspedisi (dapat dilihat di www.ekspedisidifabel.wordpress.com) dan pendokumentasian sejumlah aktivitas.

Sedapat mungkin, kami menjaga agar gagasan ekspedisi ini tidak terjebak pada sekadar gagasan ‘rekreasional’ atau ‘gagah-gagahan’ orang-orang muda saja tanpa punya efek mengatasi persoalan yang dihadapi difabel di Sulawesi Selatan. Jika hanya menjadi sekadar urusan rekreasional, foto selfie dan update status medsos, maka urusan marjinalisasi, sub-ordinasi, stigmatisasi, dan pemiskinan atas difabel tidak akan berhenti walaupun gunung tetinggi di Sulawesi dan gunung-gunung lainnya ini berhasil dijejaki puncaknya oleh tim pendaki.

Mengubah Cara Pandang atas Disabilitas

Dalam banyak kajian, apa yang dihadapi difabel saat ini berkelindan dengan berbagai isu sosial maupun politik yang berdampak pada situasi paling buruk bagi difabel, yakni menjadi rentan, miskin, dan tak berguna. Jika ditelusuri, maka akar persoalan pertama adalah soal cara pandang orang atas difabel. Salah satu cara pandang itu mengatakan bahwa difabel adalah ‘orang sakit’. Apa yang dapat Anda lakukan jika sedang sakit?

Tetapi benarkah difabel orang sakit?

Di kelompok barisan depan dalam pendakian menuju puncak Rante Mario, Eko Peruge seperti tidak punya hambatan dalam perjalanan ini. Kecepatan langkahnya sebanding dengan pendaki lainnya. Di depannya ada Ma’un (KPA Sikolong) dan dua kawannya dari KPA Talas Makassar, lalu Herman (Makassar Rescue), Cikku, Farid Parjo, dan Zaenal (FPL Makassar). Di belakangnya, ada Huzaifah (anggota dinas Pemadam Kebakaran Makassar), Dilla (KPA Capung) dan dua dari tim media massa yaitu Azis Kuba (iNEWS) dan Arul Ramadhan (Makassar Terkini).

img20161201093432

Ia tidak mengenakan protese (kaki palsu) sebagaimana saat saya pertama kali bertemu dengannya dua tahun yang lalu. Ia lebih banyak memakai kruk dan membiarkan celana panjang bagian kanannya tergulung menggantung. Jemari tangan kanannya yang bersarung kukuh menggenggam pegangan kruk yang menopang sebagian beban tubuhnya saat berjalan. Saat perjalanan sudah semakin jauh, ia menggunakan trekking pole untuk membantunya berjalan.

Dengan kondisi prima saat dia melangkah itu, apakah lantas Eko layak disebut orang sakit? Apakah hanya karena satu kakinya telah diamputasi  lantas ia masih layak disebut insan yang sakit?

“Eko nyaris tidak punya masalah saat pendakian,” kata Darwin dari BPAN (Barisan Pemuda Adat Nusantara) Mansenrempulu. Ia cukup senior dalam hal pendakian gunung dan menilai Eko seorang pendaki yang kuat.

“Malah beberapa teman yang keteteran mengikuti langkah Eko,” Caling dari KPA PAKIS juga mengagumi daya tahan Eko selama pendakian menuju Puncak Rante Mario.

img_20161203_113026_hdr

Di cap sebagai insan yang sakit jelas menyakitkan bagi difabel. Mereka diberi label oleh sebuah institusi yang merasa berhak atau dianggap berwenang melabeli orang dengan kategori tertentu. Biasanya institusi itu adalah institusi kesehatan dengan perspektif medik yang kental. Pelabelan itu diproduksi dari hasil kajian medik lalu disebarluaskan melalui tulisan maupun ucapan. Mulai dari pertemuan-pertemuan formal akademisi, parlementaria, sampai obrolah ala warung kopi.

Lihat saja aturan soal menduduki jabatan publik, seseorang harus dianggap sehat jasmani dan rohani. Presiden ketiga Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang memiliki kemampuan penglihatan yang rendah akhirnya terjegal saat akan mencalonkan diri sebagai calon presiden periode berikutnya karena dianggap tidak sehat jasmaninya.

Rahman yang juga buta atau setidaknya low vision kategori berat harus selalu “berkelahi” jika sedang mengurus penerbangan di bagian check-in bandara. Pasalnya, petugas bandara selalu memintanya menandatangani surat keterangan sedang sakit (inform consent).

“Saya buta, tapi saya tidak mengonsumsi obat!” ujarnya. Jika sudah teramat jengkel akibat ulah petugas bandara yang juga ngeyel atas nama menjalankan tugas, maka Rahman akan marah-marah dan tetap menolak bertandatangan.

img20161202105012

Dalam banyak kasus, bukan hanya Rahman yang selalu menolak jika dipaksa bertandatangan. Ada banyak aktivis difabel melakukan hal yang sama. Kasus terakhir yang dialami oleh Dwi Ariyani (36), aktivis perempuan difabel saat menumpang pesawat Etihad Air yang diturunkan dari pesawat yang akan membawanya ke Geneva mengikuti pertemuan PBB. Perlakuan diskriminatif oleh perusahaan itu kemudian mendapatkan perlawanan dan protes di media sosial dan jalur advokasi dari kawan-kawan paralegal.  Protes akhirnya berbuah permohonan maaf dari manajemen Etihad Air dan mengganti kerugian materil yang dialami Dwi. (lihat http://phinemo.com/penyandang-disabilitas-di-pesawat/ dan kemudian menggalang dukungan di media sosial http://change.com yang mampu mengubah kebijakan Etihad Air. Masing-masing laman diunduh pada Agustus 2016).

img_3600

Risma, pengorganisir warga desa di kabupaten Maros juga dikategorikan sebagai difabel. Ia memiliki kedua lengan yang jemarinya tidak utuh, sehingga akan berbeda dalam menggenggam sesuatu sebagaimana yang berjari lima. Selebihnya ia tidak memiliki perbedaan fisik sama sekali.

Pelabelan kecacatan dan kemudian diadposi kebanyakan orang menimpa pula diri Risma dan banyak perempuan difabel di negeri ini. Jemari yang berbeda seperti itu kemudian dilabeli sebagai cacat, di mana orangnya disebut penyandang cacat dan penyandang cacat adalah insan yang sakit. Konsep ‘kecacatan’ ini sudah lama dilawan oleh aktivis difabel yang anti pelabelan seperti itu.

Bagi mereka, yang cacat itu hanya barang atau benda buatan manusia. Tubuh manusia apalagi yang kondisinya berbeda sejak dalam kandungan (congenital disabilities) dan kemudian dilahirkan di dunia ini memiliki perbedaan bentuk dan kondisi tubuh tertentu tak layak disebut cacat atau rusak, karena ciptaan Tuhan tidaklah pantas disebut rusak.

“Saya hanya menghadapi kesulitan saat harus mengenggam akar-akar pepohonan,” ujar Risma saat menceritakan pengalaman pendakiannya menuju pos 2 dan 3. Seperti saat ia menelusuri jalan setapak yang mengitari punggung bukit atau melewati kemiringan terjal di mana ia harus berpegangan pada akar-akar pepohonan, akar gantung maupun akar cabang. Just it! Selebihnya Risma adalah perempuan yang bisa menikmati alam bebas dengan caranya sendiri yang tak berbeda dengan pendaki lain. Ia mengenakan perlengkapan dan peralatan pendakian sebagaimana laiknya pendaki. Apa yang membedakannya hanyalah karena label cacat atau label disabel atau penyandang disabilitas terlanjur dilekatkan pada dirinya.

Lalu, apakah disebut sebagai penyandang cacat akan ada konsekuensi yang harus diterima bagi difabel? Ya tentu saja. Salah satu konsekuensi itu adalah menjadi malu dengan kondisi tubuh yang tidak sama dengan yang lain.

Mengapa? Karena Orang menganggap atau orang berasumsi bahwa seseorang yang cacat atau menjadi cacat adalah orang tidak mampu, memanggul dosa masa lalu, menerima kutukan dan pada akhirnya disisihkan dari pergaulan.

Faktanya kemudian adalah, karena dianggap sakit maka difabel harus menerima resep tertentu secara medik di panti-panti rehabilitasi, menerima perlakuan sebagai pasien yang sedang direhab atau diperbaiki, memperoleh keterampilan-keterampilan hidup untuk pekerjaan di sektor-sektor informal dengan ragam keterampilan dasar, dan terabaikan di ranah publik yang lebih luas akibat desain sosial yang mengabaikan karakter atau kondisi uniknya.

Dalam kajian disabilitas, cara pandang dan perlakuan atas difabel yang berangkat dari norma ‘kenormalan’ tubuh manusia disebut ableism atau abelisme. Sebuah cara pandang yang menjadikan kondisi tubuh dan mental yang lengkap sebagai normal, dan kemudian berdasarkan konsep dan konteks ‘manusia normal’ orang mendesain apapun dengan standar itu. Pengabaian keragaman konteks kemanusiaan inilah yang justru paling berkontribusi membuat difabel tidak dapat mengakses apapun dan membawanya kepada kondisi selanjutnya sebagai masyarakat kelas terabaikan (sub-ordination), pinggiran (marginal), terbelakang dan dikasihani sepanjang masa.

Tak dapat dipungkiri, orang-orang pertama yang melakukan trekking di Gunung Latimojong sehingga saat ini ada jalur pendakian  dari pos nol sampai puncak bagi para pendaki atau pejalan dibuat oleh orang-orang “normal” tadi. Dakian demi dakian dalam jalur tersebut hanya dibuat bagi yang berkaki dan bermata awas, tanpa memedulikan bahwa hak mendaki atau berjalan menikmati panorama pengunungan adalah juga menjadi hak bagi orang yang berjalan dengan kruk, kursi roda, orang buta, orang kecil dan seterusnya. Jalur semacam ini bisa menjadi salah satu contoh desain orang normal di antara sekian banyak contoh desain yang dibuat dengan menafikan keberagaman manusia. Mulai dari desain rumah, permukiman dan perumahan, jalur transporasi dan perhubungan, gedung sekolah, perpustakaan, café, kantor perusahaan, pabrik-pabrik, hotel, Tempat Pemungutan Suara, Posyandu, balai desa, dan seterusnya.

Berbeda dengan Eko dan Risma, Rahman yang kemampuan melihatnya sangat terbatas menemui lebih banyak kesulitan melewati jalur di sepanjang pendakian. Aktivitas pendakian di gunung jelas medan jalannya tak beraturan. Di sepanjang hidupnya sebagai difabel netra, belum pernah sekalipun ia mempelajari teknik Orientasi dan Mobilitas (OM) berkarakter gunung. Biasanya ia hanya mempelajari lingkungan rumah atau bangunan pada umumnya. Ini pertama kalinya ia berjalan di gunung. Itulah pula yang membuat para pendamping Rahman menggunakan beragam alat bantu untuk membantunya berjalan/mendaki dengan mudah. Mulai dari trekking pole, tongkat yang digenggam bersama dirinya dan pendamping, memakaikan harness dan menariknya dengan tali prusik, helm dan beragam jenis instruksi untuk menjelaskan bentuk medan yang dilaluinya.

“Teman-teman pendamping kalau memberi instruksi misalnya turunan, kiri jurang, tidak langsung serta merta saya akan merasa nyaman untuk menurun,” ujar Rahman menceritakan pengalamannya.

“Saya mesti mengaitkan sejumlah informasi misalnya kemiringan turunannya bagaimana, Tekstur permukaan tanahnya bagaimana, Sedekat apa jurang di sisi kiri saya.” Lanjutnya Rahman.

“Itulah yang membuat langkah saya menjadi begitu lambat dan setiap langkah saya harus berusaha menvisualkan instruksi pendamping,” katanya tersenyum menyadari kelambanannya.

Dari beberapa cerita pendamping Rahman, upaya menemukan pola komunikasi antara pendamping dan atlet adalah penting.

“Kalau sudah saling sepakat soal pola komunikasinya, maka informasi untuk Rahman bisa lebih efektif disampaikan oleh pedamping,” ujar Caling yang memutuskan turut mendampingi Rahman saat itu.  Jika pola komunikasi keliru atau terlambat sedikit saja info diberikan maka bisa berakibat fatal, misalnya Rahman dapat terjatuh akibat salah memijakkan kaki atau menabrak pohon tepat dihadapannya.Tentu saja ia beberapakali tergelincir dan terjatuh. Misalnya saat wajahnya menabrak tubuh pohon, instruksi baru muncul, “Awas pohon!”

Apa pi, kutabrak mi!” kata Rahman terbahak-bahak.

 Mencapai Puncak Bukan Tujuan Utama

PENDAKIAN OLEH DIFABEL di Gunung Latimojong ini bukan ingin menunjukkan bahwa difabel bisa melalui jalur-jalur pendakian “normal” atau ekstreem. Bukan itu yang ingin kami tunjukkan. Eko dan Risma sebagai pendaki difabel memang bisa menunjukkan bahwa keduanya tidak mengalami banyak hambatan jalur pendakian bagi orang-orang bertubuh lengkap. Jika keduanya bisa melewatinya apakah lantas mereka jadi lebih hebat dari pendaki pada umumnya?

img20161130153656

Bisa jadi, ya! Tetapi bukan pencapaian seperti itu yang hendak tim ekspedisi ingin raih. Jelas pencapaian Eko, Rahman dan Risma menunjukkan bahwa mereka pun bisa melewati desain ‘kenormalan’. Melewati dakian demi dakian dengan menggunakan webbing, harness, dan ascender sebagaimana yang lain. Tetapi peralatan pendakian itu sendiri juga perlu dibuat akses bagi difabel. Pertanyaannya, apakah alat-alat pendakian itu akses bagi difabel kinetik bertangan satu? Difabel penglihatan yang buta total? difabel kinetik berkursi roda? dan seterusnya. Di sinilah letak perjuangan ekspedisi sesungguhnya. Ekspedisi memiliki makna ‘perjalanan mengeksplorasi dengan sebuah tujuan’. Tujuannya adalah membuat aktivitas petualangan memungkinkan dilakukan difabel dan aktivitas outdoor di arena apapun lebih aksesibel daripada saat ini.

Aksesibilitas juga seharusnya dilihat dalam skala lebih luas, bukan sekadar akses dari aspek fisik. Misalnya untuk aktivitas outdoor bagi difabel, di mana kita seharusnya dapat mendesain jalur-jalur plus peralatan dan perlengkapannya yang akses bagi difabel. Bahkan lebih dari itu, aktivitas ini juga harus akses secara non-fisik yang meliputi akses secara intelektual maupun akses secara sosial.

Akses intelektual meliputi ketersediaan informasi aktivitas outdoors yang memungkinkan bagi beragam karakter pengguna (beragam difabel) mengetahuinya; baik media secara visual, audio, dan audio-visual. Sedangkan akses sosial adalah berkurangnya stigma negatif bagi difabel sehingga orang-orang baik dari kalangan keluarga, kerabat maupun masyarakat dan pemerintah pada umumnya memberi ruang bagi difabel untuk mengisi peran-peran tertentu di tengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, difabel yang selama ini masih ragu dengan identitas kedifabelannya harus bisa keluar dari keterkungkungannya selama ini sebagai ‘orang tidak mampu’ dan ‘tersingkir’.

Untuk hal ini perlu strategi di mana Eko, Rahman, dan Risma dan aktivis difabel lainnya yang telah menerima identitasnya sebagai difabel yang mampu—dan memiliki aset serta talenta untuk berbuat yang lebih baik bagi banyak orang—menjadi ‘kawan-setara’ yang bisa menjadi teman berdiskusi dan membangun kekuatan bersama. ‘Nothing about us without us’ merupakan prinsip gerakan difabel internasional harus dipakai oleh sang aktivis difabel.

Dalam konteks gerakan difabel di Indonesia, perjuangan ini adalah upaya menuju ‘budaya inklusi’ di tengah masyarakat. Inklusi memiliki makna pelibatan setiap orang tanpa ada sekat-sekat perbedaan, baik perbedaan berdasar bentuk dan kondisi tubuh, orientasi seksual, keyakinan agama dan ideologi, etnisitas, dll. Penyingkiran difabel dalam proses pembangunan oleh negara maupun masyarakat selama ini dikarenakan adanya ‘politik pemisahan’ atau yang disebut dalam dunia pendidikan sebagai sistem pendidikan segregasi. Siswa difabel bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), warga difabel berorganisasi berdasarkan kondisi dan disfungsi tubuhnya (PPDI, Pertuni, Gerkatin, HWDI), mahasiswa difabel mengambil jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), dan seterusnya.

Setelah menyadari bahwa sistem pemisahan dapat semakin meminggirkan peran difabel, maka dicobalah sistem pendidikan integrasi. Sistem ini memungkinkan difabel sekolah di sekolah umum namun tetap harus beradaptasi dengan segala model dan desain berbasis ‘kenormalan’. Akibatnya, difabel harus berjuang lebih keras dibandingkan siswa atau mahasiswa lainnya. Untuk itu, saat ini mulai dikembangkan sistem pendidikan inklusi, di mana fokus pendekatannya bukan lagi kepada siswa tetapi pada sistem pendidikan, manajemen sekolah, dan para guru serta orang tua siswa. Sistem menyesuaikan dengan segala ragam kebutuhan siswa.

Konsep ‘inklusi’ dalam ekspedisi ini yang sesungguhnya menjadi nafas dan cita-cita tim. Yakni mempelajari desain manajemen pendakian, desain jalur pendakian, etika pendakian dan lain-lain yang bisa menciptakan kesetaraan dalam upaya menikmati panorama alam dan olah raga gunung. Bukan sekadar menguji diri untuk mencoba desain-desain sosial yang sudah terlanjur dibangun oleh mereka yang tidak berperspektif difabilitas.

Alasan utama Ekspedisi Difabel ini adalah mengampanyekan Anti-diskriminasi kepada difabel, membangun kepercayaan diri difabel untuk tampil keluar, dan memikirkan cara-cara seperti apa agar bertualang dan khususnya melakukan aktivitas outdoor dapat di[re]desain agar akses bagi siapapun, baik orang lanjut usia, ibu-ibu yang sedang hamil besar sampai kepada difabel yang menggunakan kursi roda, kaki palsu, tongkat orang buta, orang kecil (the little people) dan seterusnya.

Jadi, setelah menapak puncak Rante Mario, tim ekspedisi jangan “mario” dulu. Jangan bergembira dulu. Jalan perjuangan menuju kesetaraan bagi difabel dalam bertualang maupun aktivitas outdoors lainnya masih panjang, terjal dan berliku. Tetap jaga semangat, kawan-kawan![]

Please follow and like us: