Persiapan Untuk Esok adalah Kerja Keras di hari ini

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Judul tulisan ini adalah kutipan dari ucapan sang legendaris Kungfu, Bruce Lee. “Preparation for tomorrow is hard work today! Begitulah kira-kira gambaran upaya Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas mempersiapkan diri beberapa hari ini.

Ada beberapa [calon] pendaki yang sudah memastikan diri ikut dalam tim ekspedisi memperingati hari difabel internasional dengan mendaki ini tidak hadir berlatih. ini sudah memasuki minggu kedua latihan atau bina jasmani berlangsung. Jika latihan esok (13 Nopember 2016) sang pendaki tak jua berlatih, maka keputusan akan diambil oleh koordinator tim ekspedisi, Eko Peruge untuk mencoret nama mereka dari tim.

“Kami masih memberi toleransi bagi kawan yang hingga malam ini belum bergabung!” ujar Eko tegas di sela-sela latihan di Kantor Federasi Penyandang Disabilitas Sulawesi Selatan kemarin. Hingga menjelang tengah malam ini mereka masih berlatih dan latihan sudah berlangsung sejak siang tadi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Beruntung tim ini memiliki Herman, anggota Makassar Rescue dan juga anggota Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar. Ia memiliki pengalaman lebih dari anggota lainnya. Menurutnya, Organisasi Makassar Rescue adalah cerminan Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung yang ternama di Indonesia. Herman sudah mengikuti sejumlah pelatihan SAR dan siap berbagi dengan tim pendaki yang kebanyakan masih tergolong pemula.

Oleh kawan-kawan sesama tim pendaki, Herman dipanggil Komandan. Dia bukan sekadar sedang berupaya membangun kedisiplinan dalam tim tetapi lebih dari itu, ia sedang mempersiapkan tim yang prima. Dalam latihan SRT (Single Rope Technique) atau bergelantungan pada bidang vertikal ia tidak segan-segan “menghukum” anggota tim yang keliru dalam memasangkan ‘seat harness’ kepada anggota tim yang akan mencoba teknik menggantung di tali tunggal ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“Push-up 50 kali!” hardiknya tak segan. Anggota tim menerima itu sebagai perintah komandan dan segera berujar lantang, Siap, Ndan!” lalu melakukan push-up dan menghitungnya.

Latihan ini bukan latihan SRT biasa. ada tiga pendaki difabel turut dalam latihan ini. setiap pendamping difabel berlatih lebih dulu baru kemudian pendaki difabel.

“Mungkin saja hal ini tidak akan kita lakukan dalam pendakian nanti, namun jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya anggota tim terjatuh maka dengan teknik ini kita bisa melakukan tindakan evakuasi dengan mudah,” demikian ujar sang komandan.

“Begitu pula bagi pendaki yang bertugas sebagai tim medis, harus pula memiliki keahlian SRT ini!” tegasnya kepada Ismi yang bertugas sebagai tim medis dalam ekspedisi ini. Ismi adalah seorang apoteker dan juga anggota KPA Capung di Makassar.

Dua hari ini, anggota tim yang berlatih adalah Abd Rahman dan Syarif (keduanya difabel netra–low vision), EKo Peruge (Difabel kinetik dan sekaligus koordinator ekspedisi), Herman, Fuad, Rizky, Nurhidayat, Farid, Wahyu hidayat, dan Joja.

“Latihan berikutnya adalah hari Minggu, kami merencanakan bisa berenang di kolam renang,” demikian ujar Herman.

Menjelang bubar, Herman meminta tim briefing. Menurutnya, briefing penting untuk mengevaluasi kegiatan. Setiap anggota dimintanya bertanya terkait apa saja, khususnya hal-hal yang belum diketahui dari materi pembelajaran yang diberikan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pendakian Gunung Latimojong akan berlangsung pada 29 Nop – 6 Desember. Jika perjalanan lancar, maka pada 3 Desember atau bertepatan dengan hari difabel Internasional, tim akan menggapai puncak rantai Mario. Untuk membangun harapan keberhasilan ekspedisi ini Herman meminta seluruh tim berdoa bersama.[]

Please follow and like us: