Ekspedisi Difabel Menembus Batas: Bupati Enrekang Siap Membantu Pendaki Difabel

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Audiensi Tim Ekspedisi dengan Bupati Enrekang, 31 Oktober 2016

Bupati Enrekang, H. Muslimin Bando menerima kunjungan Tim Ekspedisi Difabel Menembus Batas pada 31 Nopember 2016. 3 Pendaki difabel, 2 Pencinta Alam dari KEPAL dan MAKASSAR RESCUE dan Pengurus PERDIK turut dalam kunjungan tersebut. Sebagaimana disampaikan dalam Konferensi Pers Tim Ekspedisi 28 Oktober 2016 yang lalu, tim Ekspedisi ini akan memeriahkan Hari Difabel Internasional 3 Desember mendatang dengan mendaki gunung tertinggi di Pulau Sulawesi, yakni Gunung Latimojong di Kabupaten Enrekang.

Menurut Fuad, perwakilan pendaki dari KEPAL yang turut dalam pendakian ini, audiensi dengan Bupati Enrekang adalah dalam rangka penyampaian dan permohonan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten. Dukungan itu sangat dibutuhkan Tim Ekspedisi karena ini adalah pendakian perdana di mana ada kolaborasi antara pendaki difabel dan non-difabel dalam satu tim. Sebelumnya sudah banyak pendakian ke Gunung Latimojong tetapi kebanyakan hanya diikuti oleh pendaki non-difabel.

Sedangkan menurut Eko Peruge, penggagas pendakian inklusi ini, pendakian oleh difabel di Gunung Latimojong adalah untuk mengabarkan kepada khalayak umum bahwa difabel bukanlah insan yang lemah dan selamanya harus diperlakukan penuh rasa kasihan. DIfabel adalah orang yang memiliki perbedaan kemampuan. Apa yang tampak berbeda dalam tubuh kami bukanlah alasan untuk menyebut kami insan yang disabel atau tidak mampu. Kami, sebagaimana manusia pada umumnya mampu melakukan tindakan apapun bergantung kepada dukungan di luar dirinya. Justru yang menjadi penghalang atau yang membuat kami tidak mampu adalah karena disain sosial di sekitar kami yang menidakmampukan kami melakukan akitvitas dan berpartisipasi secara sosial.

“Saat ini, kami mendaki dengan pencinta alam dari berbagai organisasi. Kami akan mengorganisir kegiatan ini bersama-sama, berlatih jasmani bersama, menerima keterampilan-keterampilan teknis pendakian bersama-sama,” demikian ungkap Eko di sela-sela kunjungan di kantor bupati.

Muslimin Bando menyambut Tim Ekspedisi di ruang kerjanya. Ia meminta penjelasan mengenai kegiatan Tim Ekspedisi dan begaimana ekspedisi akan berjalan. Abd Rahman, selaku direktur PERDIK menyampaikan secara runtut perihal aktivitas selama ekspedisi, yakni Talkshow di beberapa media dengan isu-isu disabilitas, diskusi desa ramah difabel (desa inklusi), dan Seminar Nasional berbagi pengalaman pendakian.

Herman, anggota tim SAR Makassar Rescue mengemukakan kepada Bupati Enrekang dan tim pendaki bahwa dirinya akan memberikan beberapa keterampilan teknis yang ia pelajari dan alami dalam kerja-kerja Pencarian dan Evakuasi korban selama ini.

“Kami akan mempelajari beberapa teknik pendakian seperti teknik memanjat tali, baik memanjat maupun saat turun. Teknik ini penting untuk melatih kekuatan otot lengan pendaki yang dibutuhkan dalam pendakian di Latimojong.  Termasuk teknik itu adalah beberapa teknik simpul dasar,” demikian ujar Herman.

Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan Tim Ekspedisi, Bupati Enrekang siap membantu namun Bupati belum bisa memastikan bantuan apa yang bisa diberikan pemkab atas rencana ekspedisi difabel menembus batas ini. Sebelum menutup pertemuan, Bupati membuatkan disposisi yang ditujukan kepada kepala dinas sosial agar dibantu sesuai aturan.

Setelah itu, Tim Ekspedisi kemudian menemui Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Enrekang Hj. Sawalia Baharuddin. Tim Ekspedisi menyampaikan disposisi bupati dan setelah itu mendiskusikan dukungan lebih lanjut dari Dinas Sosial terkait Ekspedisi pendakian Gunung Latimojong pada 29 Nop – 6 Desember 2016. Dalam perbincangan itu, kepala dinas memastikan bahwa saat ini sulit sekali memberikan dukungan finansial terhadap Tim Ekspedisi. Dinas sosial hanya mengeluarkan selembar surat pemberian izin meminta sumbangan ke dinas-dinas dan masyarakat Enrekang. Abd Rahman, direktur Perdik menyayangkan ketidakseriusan kepala dinas sosial menyikapi rencana ekpedisi inklusi ini. “Kami ingin berkolaborasi dengan banyak pihak dalam mendorong agar isu-isu disabilitas bisa menjadi perhatian banyak pihak. Kami ingin berdiskusi dan berbuat yang terbaik bagi difabel di daerah. Jadi mari kita bergerak bersama-sama,” ujar Rahman kecewa.

Selain menemui bupati dan kepala dinas sosial, Tim Ekspedisi yang terdiri dari Abd Rahman, Eko Peruge, Risma, Fuad, Herman dan Ishak Salim, juga menikmati obrolan dengan kelompok Literasi Enrekang di tepian sungai Saddang yakni di warung kopi Macca 36. Dari obrolan bersama Dadang salah seorang penggiat literasi Enrekang, Tim Ekspedisi berharap agar kelompok literasi Enrekang bisa membantu menuliskan pengalaman pendakian nanti.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Diskusi Tim Ekspedisi dengan personil KPA Sikolong di Kalimbua, Baraka.

Selanjutnya, menjelang sore, tim Ekspedisi juga menuju organisasi lokal yang sudah memastikan akan menjadi bagian dari tim Ekspedisi ini, yakni Kelompok Pencinta Alam SIKOLONG. Dari kota Enrekang, tim ekspedisi menuju Baraka dan kemudian berbelok ke Kalimbua menuju Sekretariat KPA Sikolong. Tim ekspedisi disambut oleh dua personil Sikolong di teras rumah panggung. Tak lama kemudian kedua tim ini mendiskusikan sejumlah persiapan menjelang pendakian[].

Please follow and like us: