Difabel Menembus Batas Mendaki Gunung Latimojong

ekspedisi-difabel_konferensi-pers-2

Makassar, 28 Oktober 2016

MENDAKI GUNUNG dan menikmati petualangan alam adalah dunia orang-orang muda. Dunia orang-orang yang menyukai tantangan dan menikmati kemenangan setelah menaklukkan kelemahan diri sendiri. Memang, bukanlah menaklukkan alam itu yang disebut kemenangan, namun menaklukkan diri sendiri, melawan rasa lelah dan ingin menyerah menghadapi tantangan selama perjalanan itulah sesungguhnya kemenangan dalam pendakian gunung atau melintasi alam-alam tanpa hiruk pikuk manusia.

Tapi, bagaimana jika orang-orang muda itu adalah difabel? orang-orang yang selama ini dilabeli sebagai manusia lemah karena disfungsi tubuhnya. Apakah mereka berhak menikmati sebuah petualangan alam yang biasanya justru mengandalkan keutamaan fisik?

Tentu saja jawabannya adalah Ya! Orang muda difabel juga dapat dan mampu menikmati petualangan demi petualangan. Itulah yang menjadi spirit dari ‘Ekspedisi Difabel Menembus Batas’ yang akan dilaksanakan pada 29 Nopember – 6 Desember 2016 nanti. Kunci keberhasilan petualangan dalam sebuah ekspedisi adalah kebersamaan dan kekompakan. Itulah mengapa ekspedisi difabel ini bukan sekadar diikuti oleh difabel tetapi juga oleh orang-orang muda yang memiliki perhatian terhadap isu-isu difabel plus sejumlah relawan yang mendukung persiapan-persiapan teknisnya.

Menurut Abd Rahman, direktur Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PERDIK), Ekspedisi ini diikuti oleh beberapa lembaga, seperti PERDIK Sulsel, Makassar Rescue (MR), Kelompok Pencinta Alam (KPA) Capung Nusantara, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar, Forum Pemerhati Lingkungan (FPL) Makassar, BEM STIKS Tamalanrea, Kata Kerja, KPA Sikolong, KPA Pakis dan KEPAL (Kelompok Pencinta Alam dan Lingkungan).

“Ini adalah tim inti dan tidak menutup kemungkinan dalam prosesnya ke depan ada beberapa organisasi lagi yang akan bergabung,” ungkap Rahman saat konferensi persi di café DZ jalan Sultan Alauddin. Sore ini hujan turun deras dan di jalan raya beberapa kali kelompok-kelompok mahasiswa dari berbagai kampus berkonvoi merayakan Hari Sumpah Pemuda.

Mengapa memilih Gunung Latimojong?

Menurut Eko Peruge, koordinator Ekspedisi ini menyebutkan bahwa kami ingin ekspedisi ini memiliki gaung yang lebih besar. Kami ingin publik tahu bahwa difabel di tengah keterbatasan yang dimilikinya mampu mengatasi semua itu dan bisa mendaki gunung tertinggi di pulau Sulawesi ini. Harapannya, jika publik tahu bahwa difabel mampu mendaki maka itu berarti ia pun mampu melakukan aktivitas lainnya. Dengan cara itu, kami berharap stigma negatif yang selama ini dilekatkan oleh negara maupun masyarakat pada umumnya dapat kami hapus dengan upaya-upaya yang kami bangun bersama-sama.

Dalam konferensi pers yang dihadiri oleh para tim pendaki, Abd Rahman menyebutkan bahwa bukan hanya pendakian yang akan dilakukan tetapi ada beberapa kegiatan yang mengirinya. Kegiatan tersebut Road show ke sejumlah media dan kampus untuk menyampaikan gagasan pentingnya inklusi dan aksesibilitas bagi difabel di seluruh sektor penghidupan. Selain itu, kami juga akan mensosialisasikan perlunya gagasan ‘difabel adalah aset desa’ dan untuk itu difabel perlu dilibatkan dalam setiap kegiatan sosial maupun pemerintahan di desa. Sosialisasi ini akan dilakukan di desa Karangan yang merupakan pos awal sebelum pendakian dilakukan.

Mengapa memilih awal Desember 2016?

Koordinator tim Ekspedisi, Eko dalam tempat terpisah menyebutkan bahwa tanggal 3 Desember adalah Hari Difabel Internasional (HDI). Untuk itu, kami memperkirakan saat pendakian nanti kami akan tiba di Puncak Rante Mario pada 3 Desember dan kami akan merayakannya di sana nanti. Selanjutnya, Eko juga menambahkan bahwa selama perjalanan kami nanti, kami akan mencatat seluruh pengalaman dari setiap tapak dan pos-pos pendakian. Kami ingin mengabarkan kepada khalayak luas bahwa proses pendakian bagi pendaki difabel adalah pengalaman penting dalam mengatasi keterbatasan. Kami berencana mendokumentasikan bukan saja secara audio visual, namun akan membukukan proses pengalaman tersebut. Setelah itu, kami akan melaksanakan diskusi publik dan menghadirkan pendaki difabel Indonesia yang sudah mendunia, yakni Bung Sabar Gorky dari Solo.

Para pendaki yang terdiri dari berbagai lembaga ini adalah Eko Peruge (difabel kinetik, daksa), Fuad, Abd Rahman (difabel netra low visible), Ismi, Risma (difabel kinetik, daksa) , Huzaifah, Ozan, Nurhidayat, Zaenal, Herman, Dilla, Zikrullah, Arfa, Opha, Fauzy, Rizky dan Iman. Menurut Fuad, seluruh anggota tim pendaki akan mulai ‘bina jasmani’. Bina jasmani akan dilaksanakan di Lapangan Hasanuddin dan sekurang-kurangnya dilakukan seminggu 3 kali. Menurut, Fuad persiapan pendakian kali ini tidak seperti biasanya. Ini kali pertama ia mendaki gunung bersama pendaki difabel.

Baginya, “persiapan yang matang dalam pendakian adalah setengah dari keberhasilan k

Please follow and like us: