Penyandang Disabilitas adalah LABEL!

Oleh Ishak Salim

infographic-disabled-people-some-history-and-politicsSiapakah sesungguhnya yang memiliki kuasa melabeli seseorang dengan embel-embel istilah dan semacamnya? Apakah tujuan dari pelabelan itu? Bagaimana respon dari orang-orang yang dilabeli? Dan bagaimana pula dampak dari pelabelan itu?

Mengajukan dan menjawab beberapa pertanyaan di atas adalah sebuah cara untuk mengetahui mengapa manusia membutuhkan label-label tertentu dan melekat atau dilekatkan ke dalam dirinya.

Negro adalah label bagi orang-orang Afrika yang didatangkan ke benua Amerika sebagai budak oleh para kulit putih (putih juga adalah label). Negro adalah budak atau warga kelas rendah dalam sistem ekonomi pasar yang mengandalkan penjajahan atas wilayah tertentu dan penindasan bagi penduduk terjajah. Sebagai mana negro melekat dalam diri orang-orang Afrika yang diperbudak, di negeri kita juga pernah melekat istilah inlander atau pribumi yang tertindas. Mereka pada dasarnya adalah jongos bagi si penjajah.

Dalam konteks kedua contoh di atas. Pelabelan adalah bentuk praktik kuasa membedakan antara sekelompok orang tertentu dengan sekelompok lainnya. Dalam konteks ini, baik negro maupun inlander adalah warga yang tak punya kuasa (powerless) dan penjajah (pihak yang melabeli) adalah yang berkuasa (powerfull).

Lalu bagaimana pelabelan bekerja?

Pelabelan merupakan produk pengetahuan. Di dalamnya tersimpan sejumlah konsep kepengaturan yang memungkinkan mesin-mesin kekuasaan bekerja. Label negro maupun label inlander terkandung aneka ragam pengetahuan yang saling kait mengait,dukung mendukung, demi memelihara tatanan sosial yang hirarkis: penguasa yang merampas dan yang dikuasai sebagai terampas. Pengetahuan-pengetahuan ini merupakan paket pendukung kekuasaan yang disebut teknologi kekuasaan. Penguasa menggunakannya untuk mendefinisikan (memberi batasan/cakupan) seseorang, menelusuri kelemahan dan permasalahannya, lalu menyiapkan paket jalan keluar atas ketertindasannya.

Misalnya saja, orang Afrika yang terjajah itu disebut sebagai negro karena kebodohannya. Demikian pula kaum inlander itu dianggap kaum tradisional yang terbelakang, tradisional dan bodoh. Berdasarkan pendefinisian itulah maka untuk agar mereka bisa mandiri dan tidak terjajah, mereka harus di sekolahkan, dimodernisasi dan seterusnya. Tetapi, paket solusi itu bukan sesuatu yang bisa diperoleh dengan mudah. Mereka harus membayar untuk bisa bersekolah atau mengupayakan pendidikan mandiri untuk memutus rantai relasi kekuasaan yang menindas itu.

Dalam keadaan yang tak banyak pilihan itu, label-label yang kelak mengandung stigma negative akan melewati proses subjektivasi atau penerimaan atas label-label itu. Bagi yang menerima label itu sebagai sebuah kebenaran, maka ia akan tunduk dan patuh kepada sang penjajah yang telah mengendalikan pengetahuan. Sementara mereka yang resisten atau melawan berbagai bentuk pelabelan yang tidak relevan bagi dirinya akan melakukan perlawanan sehari-hari demi menjaga kemandirian dalam dirinya.

Dalam konteks tulisan pendek ini, maka term atau konsep penyandang disabilitas tak lebih dan tak kurang adalah bentuk pelabelan juga. Siapa melabeli dan dilabeli? Mengapa mereka melabeli dan mengapa yang lain rela dan menerima dengan label itu?

Sekali lagi, setiap pelabelan dalam perjalanannya akan mengantar kepada sekian banyak stigma yang pada akhirnya dapat memerjinalkan posisi dan mengabaikan peran orang yang dilabeli sebagai penyandang disabilitas. Dahulu label bagi mereka adalah penderita dan penyandang cacat yang ditopang oleh pengetahuan berbasis medik (bio/tubuh). Dikarenakan bersandar kepada tubuh manusia, dalam hal ini disebut sebagai tubuh yang normal, maka perbedaan bentuk/fungsi tubuh itu kemudian disebut sebagai  abnormal, tidak normal atau cacat. Label penyandang cacat atau penyandang disabilitas adalah label yang kemudian memberikan stigma kepada mereka. Masyarakat menerima pelabelan itu sebagai sebuah kebenaran, penyandang disabilitas juga menerimanya sebagai sebuah kenyataan, dan berdasarkan pengakuan itu terjalinlah sebuah relasi kuasa yang timpang, di mana penyandang disabilitas menjadi warga yang dikasihani, dibantu, dimaklumi, disantuni dan berbagai konteks lainnya yang kemudian berdampak kepada proses pelemahan peran sosial mereka di dalam lingkup keluarga dan masyarakat.

Tentu saja ada pula dari mereka yang dilabeli ‘cacat’ atau ‘disabilitas’ itu yang menolaknya dan emoh menggunakan label-label itu dan pengetahuan yang menopangnya. Bagi mereka, label dan pengetahuan medik yang begitu dominan telah membawa konsekuensi yang luas bagi negeri ini, di mana mereka yang disebut cacat dan disabilitas ini seharusnya bisa menjadi aset bangsa namun ternyata hanya berfungsi sebagai beban bangsa.

Menamakan diri difabel atau berbeda kemampuan adalah cara sebagian dari mereka melakukan perlawanan atas para pemberi label berikut institusi penopangnya. Difabel bukan hanya konsep tanding, tetapi dia juga adalah alat pergerakan dan kini telah menjadi identitas gerakan melawan pelabelan yang merugikan mereka. Stigma adalah salah satu contoh yang paling sulit dihapuskan jika tidak ada upaya menemukan, meneliti dan membangun paket-paket pengetahuan baru yang lebih memandirikan dan menjadikan mereka sebagai warga negara atau subjek hukum yang diakui negara.

Boleh jadi difabel itu juga adalah label, tetapi label yang lahir dari kesadaran kritis para anti label cacat. Mereka menyiapkan lapis-lapis pengetahuan dan baris-baris pergerakan melakukan penghapusan stigma sosial. Mereka mendatangi rumah-rumah yang di dalamnya ada difabel dan keluarga yang diracuni berbagai pola pikir normal dan abnormal. Mereka juga mendatangi gedung-gedung pemerintah dan mendiskusikan jalan-jalan keluar yang lebih membebaskan bagi difabel. Mereka pun ke rumah-rumah ibadah atau rumah sakit untuk membenahi cara pandang dan meredesain bangunan-bangunan mereka. Bagaimanapun, otonomi individu difabel dalam dunia sosial/dunia publik adalah penting. Mereka harus diperlakukan setara baik dalam menikmati aksesibilitas fisik, intlektual, maupun akses di dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Jadi, berhentilah mempertahankan label-label kecacatan dan disabilitas itu. Bangkitlah dengan label yang dibangun dari kalangan sendiri dan pupuklah menjadi identitas yang bermartabat. Sudah cukup bantuan-bantuan berkepanjangan, paket-paket solusi yang salah sasaran, kebijakan-kebijakan yang bermuatan rasa kasihan, panti-panti yang melanggengkan ketergantungan dan seterusnya. Bangkitlah dengan kekuatan sendiri. Mulailah dengan memproduksi sendiri pengetahuan difabel dari aras paling bawah sekalipun. Jangan mudah tergoda oleh konsep dan pengetahuan berkedok skala nasional maupun internasional. Pengetahuan yang kita butuhkan adalah pengetahuan yang lahir dari pengalaman bersama sehari-hari dan jikapun kita membutuhkan duni luar, nasional maupun internasional, itu hanyalah hubungan pertukaran pengalaman dan pengetahuan dan bukan eksploitasi entitas pengetahuan yang satu dengan entitas pengetahuan lainnya[].

Please follow and like us: