Mengapa kami melakukan Ekspedisi Difabel?

gunung-latimojong-1

Puncak Rante Mario, Gunung Latimojong

PENYANDANG DISABILITAS ATAU DENGAN KATA yang lebih terhormat ‘difabel’ adalah warga dengan perbedaan kemampuan.

Difabel adalah singkatan dari istilah berbahasa Inggris, yakni Differently able atau berkemampuan berbeda. Difabel bukanlah penderita atau penyandang cacat yang dalam pengertiannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang rusak, orang tidak mampu, orang merugi (tuna) dan orang sakit.

Sebaliknya, difabel adalah warga berdaya dengan penuh kemampuan. Memang, setiap difabel kemampuannya berbeda antara difabel yang satu dengan difabel lainnya apalagi jika dibandingkan dengan kemampuan non-difabel.

Seorang difabel melakukan aktivitas keseharian dan partisipasi sosialnya berbeda dari kebanyakan orang. Misalnya, difabel yang berjalan dengan kaki palsu atau kruk atau kursi roda atau dengan tongkat adalah sama saja dengan orang yang berjalan dengan kedua kakinya yang bisa berpindah tempat dari tempat satu ke tempat lainnya. Perbedaan terbesar hanyalah pada caranya berpindah dan dukungan model atau desain sarana dan prasarana yang menopang perpindahan seseorang atau benda. Jika di trotoar jalan utama merupakan sarana berpindah bagi para pedestrian, maka orang-orang dengan keragaman kemampuan ini sepatutnya dapat menikmati sarana jalannya secara aktif dan setara.

Orang buta selayaknya menikmati pedestrian yang aksesibel bagi kemampuannya dalam mendengar tanda atau rambu-rambu jalan bersuara, atau perabaan baik di lantai maupun dinding. Pun demikian bagi difabel berkursi roda di mana sudah sepatutnya dapat menikmati pedestrian atau taman kota dengan sarana pejalan yang memungkinkan kakinya (yang berupa kursi roda) melewati . Seharusnya tak ada undak-undak maupun selokan terbuka yang dapat menghalagi mobilitas kursi rodanya.

Sarana dan prasarana yang aksesibel, baik pada kantor-kantor layanan publik, kantor desa, taman-taman bermain, sekolah, masjid, puskesmas, stasiun, terminal, pasar dan seterusnya akan memampukan difabel dan memungkinkannya mendayagunakan aset dirinya untuk berkembang dan lebih bermakna dalam berkontribusi kepada masyarakat.

Dalam kenyataannya, ada banyak keragaman kemampuan baik dalam hal motorik, psikomotorik, intelektual, sosial dan psikososial, mental, bahasa dan seterusnya. contoh-contoh di atas hanyalah sebagian kecil saja bagaimana agar kita memahami bahwa ada sekian banyak orang yang selama ini publik mengategorikannya sakit, tidak cakap, penderita, penuh stigma dan seterusnya ternyata dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bersama-sama. Selama ini, kebijakan negara sudah memisahkan mereka dari sistem pendidikan umum. Memang, kini mulai diterapkan sistem pendidikan inklusi namun tetap saja baru permulaan da nada banyak persiapan yang harus dipenuhi sampai peserta didik maupun tenaga pengajar difabel dapat masuk ke dalam sistem pendidikan secara luas dan menasional.

MENDAKI GUNUNG, apakah aktivitas ini hanyalah milik para orang muda yang memiliki anggota tubuh lengkap? Apakah difabel muda yang juga bersemangat tinggi tak memungkinkan untuk turut mendaki? Tentu saja tidak, siapapun, sepanjang diberikan kesempatan dan dukungan penuh dari lingkungannya untuk berekembang, maka ia pasti bisa. Hanya saja, apakah cukup hanya dengan dukungan desain fisik? Tidak! Hambatan terbesar difabel sulit membuktikan dirinya mampu adalah justru datang dari stigma atau cap miring yang dilekatkan orang-orang kepadanya. Cap bahwa mereka sebagai orang sakit, cap mereka adalah tidak mampu, cap mereka adalah objek amal, cap bahwa mereka patut dikasihani dan tidak perlu atau akan dimaklumi jika ia tidak perlu mengajar atau mengobrol.

Kesulitan terbesar bagi difabel adalah melawan berbagai pelabelan yang disematkan pihak luar kepadanya. Pihak ini bisa saja datang dari keluarga sendiri, bisa dari kaum dokter dan tenaga medik lainnya, bisa dari kaum agamawan, bisa pula dari negara. Jika pelabelan ini merugikan difabel, maka dia harus menolak dan kemudian menanggalkan label-label miring itu. Setelah itu, barulah ia keluar dan membuktikan kepada khalayak bahwa dirinya punya potensi dan tak jauh beda dengan manusia lain pada umumnya. Difabel hanya perlu lebih pro-aktif untuk keluar melabrak dan menembus beragam dan berlapis-lapis batas yang selama ini membuatnya terkucil dan terpinggirkan.

Untuk itulah, mengapa Ekspedisi Difabel Menembus Batas ini harus kami lakukan. Tak lain adalah untuk membuktikan bahwa label, cap, asumsi, dan segala macam pemikiran terkait difabel atau penyandang disabilitas selama ini adalah keliru dan patut diubah. Untuk itu, difabel harus bahu-membahu untuk bersama-sama dengan berbagai pihak mendobrak batas-batas itu dan membangun desain-desain sosial yang lebih baru. Dengan desain sosial yang baru, maka siapapun kemudian memiliki kesempatan yang sama untuk mengoptimalkan kemampuannya sehingga memiliki fungsi besar untuk menciptakan kesejahteraan bersama.

Please follow and like us: